Pecundang Adalah Orang Yang Tak Bisa MEMAAFKAN

Di Indonesia [atau Jawa], ada tradisi sungkeman kepada orangtua. Sebenarnya sama saja, tetap melakukan ritus fitrah, hanya dengan kultur yang berbeda. Esensinya sama, ingin membersihkan semua kesalahan. Meminjam istilah sebuah iklan di televisi, ‘kembali dari angka NOL’ lagi.

Menariknya, ucapan maaf [dan ritus mudik], kini tak hanya bisa dilabeli ‘Hanya Milik Muslim’ saja, karena ucapan itu pun mengalir dari kepercayaan lain secara spontan. Rupanya kata ‘maaf’ sudah menjadi satu kata milik bersama yang bisa dinikmati, dirayakan dan diungkapkan sebagai satu kebersamaan. Maaf menjadi milik setiap individu yang merasa dirinya memang ‘gudangnya’ kesalahan kepada manusia lain.

Mengutip sebuah ungkapan anomim ‘Pemenang Ada Mereka Yang Bisa Memaafkan’ rasanya memang harus selalu diingatkan betapa pentingnya makna maaf itu. Seharusnya, ketika kata-kata maaf dilontarkan, tentu bukan sekadar kata-kata kosong tapi kata hati ikut bersamanya. Ketika hal itu bisa dilakukan [dengan tulus], seara kualitas orang yang mengucapkannya sudah ‘naik pangkat’ pada kesadaran hidup yang lebih tinggi.

Yang berbahaya adalah ketika kata maaf menjadi omong kosong yang tidak memberi arti apa-apa. Kata itu hanya menjadi basa-basi tanpa makna apapun. Maaf tanpa kesadaran, hanya akan menjadi hiasan bibir dan tidak memberi arti pada kualitas kehidupan.

Lebaran, Eid Mubarak, Idul Fitri, Sugeng Riyadi, atau apapun istilahnya, sebenarnya hanya menjadi ‘jembatan’ membuka kesadaran untuk memahami ketidaksempurnaan diri. Perayaan kemenangan itu hanya momentum untuk mengingatkan betapa kita adalah makhluk yang selalu memiliki kesalahan kepada manusia lain. Tapi yang terpenting, bukan hanya menjadi pemaaf yang ‘ramaddani’ hanya ketika ramadhan dan disusul Lebaran. Itu artinya hanya menjadi pemaaf yang ‘musiman’ saja.

Kita harus menjadi pemaaf yang ‘robbani’ yaitu pemaaf di segala waktu, bukan musiman lagi. Tak harus menunggu saat Lebaran untuk menjadi pemaaf. Tak harus menunggu bulam ramadhan untuk berbuat baik kepada orang lain. Anytime, Robbani, kapan saja kita bisa melakukannya. Dan pahala bukan ritus yang harus dikejar semata, tapi itu melekat erat pad setiap yang kita lakukan. Jangan pernah berbuat baik karena mencari pahala, tapi karena memang kita menikmatinya dengan sungguh-sungguh.

Mungkin kelak bisa ditambahkan satu ungkapan lagi, ‘Pecundang Adalah Mereka Yang Tak Bisa Memaafkan.’ Anda disisi mana?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s