8 Kiat Untuk MUSISI Supaya Bisa NGOMONG BENER Di Depan PUBLIK

Setiap musisi, penyanyi atau siapapun yang berkiprah di industri musik, dijamin punya kemampuan bicara di depan publik [public speaking] yang bagus? Ternyata tidak. Banyak dari mereka yang “gagal” menjelaskan dirinya, memaparkan musikalitasnya atau menuntaskan karyanya kepada masyarakat [termasuk wartawan] lantaran tidak punya kemampuan berbicara kepada publik. Meskipun yang tidak sedikit, dari ”sononya” punya kemampuan menguraikan sebuah persoalan dengan baik dan benar kepada publik.

Saya membatasi persoalan ini kepada musisik yang bergelut di industri musik Indonesia. Khususnya yang selalu berhadapan dengan masyakarat dan wartawan, termasuk pekerja infotainment. Mengapa hal itu menjadi penting? Karena ternyata public speaking itu tidak identik dengan “banyak bicara” kepada khalayak, juga tidak identik dengan bahasan yang berbelit-belit yang dipakai untuk berkelit.

Saya sering menemukan musisi [baru dan lama], yang masih kesulitan ketika harus menjelaskan tentang materi lagunya. Ini nampak sekali ketika konperensi pers atau wawancara khusus dengan wartawan. Apalagi kalau wartawannya menguasai materinya dan tahu proses pembuatannya dengan mencari informasi dari luar musisinya. Yang ada, musisi atau penyanyi itu seperti “boneka” di atas panggung yang dipajang karena menjadi produk baru. Sayang sekali.

Itulah sebab utama, mengapa banyak sekali orang mengalami rasa gugup dan takut saat harus berbicara di depan orang banyak. Saat harus melakukan public speaking. Rasa gugup dan takut, yang muncul karena tidak terbiasa dan tidak pernah secara sengaja memahami dan mempelajari fenomena public speaking.

Buat saya, kesempatan bertemu dengan banyak wartawan adalah kesempatan untuk “jual diri, jual materi, jual karya” dalam arti positif. Ketika di kesempatan pertama “gagal” mempertahankan karyanya, meski sebenarnya bagus, itu menjadi “lampu merah” yagn harus segera dibenahi.

Berbicara tidak dapat dilakukan hanya dengan membuka mulut dan bersuara. Bebicara memiliki pola dan cara yang berbeda-beda. Berbicara tidak dapat dilakukan hanya dengan asal bicara. Berbicara, harus jelas dan dapat dimengerti. Berbicara dalam bahasa Indonesia berbeda dari berbicara dalam bahasa lain. Berbicara untuk pergaulan berbeda dari berbicara untuk karir, profesi dan bisnis. Berbicara formal tidak sama dengan berbicara informal.

Bahasa yang mencerminkan keseriusan. Bahasa yang mencerminkan pentingnya pencapaian tujuan untu dikenal visi dan msinya di industri musik yang mereka ceburi ini. Bahasa itu, adalah bahasa public speaking.

Bahasa untuk berbicara kepada orang banyak. Bahasa yang tidak diperoleh sejak lahir. Bahasa yang selama ini hanya diperoleh secara sambil lalu. Bahasa yang dikuasai oleh sebagian besar dari kita, dengan cara-cara yang tidak pernah disengaja, tidak pernah terstruktur atau tidak tersistem.

Dalam ilmu komunikasi, jika kita sebagai komunikator [anggap saja musisi] yang ingin menyampikan pesan kepada komunikan [bisa masyarakat, atau wartawan], harus punya message yang jelas. Ketika tidak sampai maksudnya, berarti ada ‘erosi fakta’ atau kesalahan komunikator, si musisi itu.

Menjadi public speaker yang efisien dan efektif, akan memberi musisi bekal dan alat untuk membuat perbedaan besar dalam memberikan informasi tentang karya yang dibuatnya.

Keahlian ini dapat dipelajari. Kini saatnya musisi meningkatkan kemampuan berbahasa dalam cara yang paling baik, dan menguntungkan untuk semua situasi. Situasi pribadi, situasi sosial dan situasi komersial. Saatnya bagi Anda untuk meningkatkan kualitas diri, yang secara langsung akan meningkatkan kualitas pribadi, karir, profesi dan bisnis Anda. Ini saatnya bagi Anda untuk mengubah diri menjadi komunikator yang efisien dan efektif.

Menjadi komunikator yang jelas, tegas, berpengaruh, meyakinkan, memotivasi, dan membuat orang lain melakukan tindakan sesuai keinginan Anda. Dan itu semua, dimulai dengan kepercayaan diri dalam berkomunikasi secara publik.

Untuk musisi yang baru terjun di industri yang harus berhadapan dengan oragn banyak, dari pengalaman yang saya hadapi, ada beberapa cara yang sebenarnya bisa mereka lakukan sebagai bekal:

1. Pelajari & Kuasai Materi Karyanya Dengan Maksimal
Percaya atau tidak, banyak musisi, penyanyi, atau composer, ternyata tidak menguasai materinya sendiri. Mereka sering kebingungan ketika ditanya mengapa membuat materi seperti itu. Artinya, mungkin karya itu tidak keluar dari hati, sekadar pesanan, atau dikejar target. Apapun itu, menguasai materi yang sudah jadi dan siap dijual, akan sangat membantu penguasaan, pengayaan, dan tentu saja bisa menjelaskan dengan enak dan diterima.

2.Berbagi Penjelasan

Jarang musisi yang menguasai segalanya, dari aransemen, komposisi, lirik, sampai mencari player. Meski ada, tapi tidak banyak. Mayoritas yang terjadi, selalu ada pembagian pekerjaan. Ada yang membuat lirik, mencari komposisi dan kemudian diaransemen bersama. Alangkah lebih indah dan menyenangkan kalau hal itu bisa dijelaskasn oleh yang berkompeten. Misalnya ada pembagian siapa yang bicara soal aransemen, soal lirik dan soal industrinya sendiri. Sayangnya, ini jarang terjadi. Yang ada, pembicaraan didominasi satu orang yang “seolah” menguasai segalanya.

3. Tahu Dimana kita Berbicara
Berbicara di depan konser yag ditonton ribuan orang, berbeda dengan bicara di depan wartawan yang jumlahnya 10 orang, berbeda pula dengan interview di radio yang interviewernya cuma satu orang. Hadir paling tidak satu jam sebelum acara dimulai yang dapat anda gunakan untuk melihat situasi tempat anda akan berbicara serta alat-alat bantu yang akan anda gunakan. Hal ini akan sangat membantu anda dalam mengurangi kegugupan. Sayangnya, masih banyak musisi yang menganggap keterlambatan adalah hal bisa. No way, bro!

4. Pelajari Audiens
Banyak musisi baru [meski musisi lama ada juga], sering meremehkan audiens. Ketika meremehkan, sebenarnya dia sudah kalah sebelum bertanding. Siapapun audiens yang dihadapi, dia harus hargai dan tetap hormat, karena itu akan memunculkan respek. Sbelum naik ke panggung, sebaiknya punya waktu untuk bersosialisasi dengan beberapa dari mereka. Perkenalan ini akan membuat musisi merasa bagian dari mereka dan ini juga ternyata ampuh untuk mengurangi rasa gugup. Sayangnya, atas nama “kejutan” label sering “mengurung” mereka di belakang panggung.

5. Penampilan Fisik [atau Imej]
Sering terjadi, band baru kemudian “dihajar” oleh wartawan dalam sesi tanya jawab, karena imej yang muncul pertama kali adalah arogan dan terkesan sombong. Apalagi kemudian ketika menjawab pertanyan terkesan meremehkan dan arogan. Be Humble man! Perhatikan fashion dan kostum sebagai musisi, karena itu akan jadi sesuatu yang diingat oleh audiens, apapun itu.

6. Antusias
Tunjukan antusiasme pada waktu berbicara walaupun pertanyaan yang diajukan wartawan atau audiens mungkin kurang bermutu atau terlalu dangkal bagi musisi. Sikap anthusisme akan menciptakan respect dari audiense. Sebaliknya sikap musisi yang ogah-ogahan atau menganggap remeh hanya akan membuat audiense menyesal ikut dalam acara ini.

7. Menjadi Diri Sendiri
Bukan basa-basi kalau hal ini saya masukan. Banyak band atau musisi yang muncul di depan, selain tak bicara yang antusias dan menyenangkan, kerap berusaha menjadi oranglain. Orang lain itu mungkin idolanya atau siapapun yang memberi pengaruh kepadanya. Saran saya, hentikan itu dan jadilah diri kamu sendiri. Itu jauh lebih apresiatif bagi wartawan atau audiens.

8. Berlatih, Berlatih & Berlatih
Tugas memberi penjelasan dan informasi itu tak hanya selesai ketika sesi press conference dengan wartawan kelar. Justru sebelum itu, seharusnya para musisi itu sudah harus berlatih. Coaching media bekerjasama dengan wartawan yang dipilih, yang sudah dilakukan beberapa label, ternyata sangat membantu kemampuan musisi atau band itu untuk lebih berani bicara dan belajar menguasai materinya dengan baik. Karena ketika kelak besar dan terkenal, penguasaan hal-al seperti itu, menjadi mutlak adanya. Mereka belajar menghadapi wartawan dan menjawab pertanyaan yang tak cuma teknis, tapi juga menjebak dan membingungkan. Bahkan sekadar pertanyaan “jahil”.

Apa yang saya tulis ini, berdasar pengalaman dan sharing dengan banyak band, penyanyi, composer, label, wartawan dan penikmat musik. Semoga bermanfaat.

One thought on “8 Kiat Untuk MUSISI Supaya Bisa NGOMONG BENER Di Depan PUBLIK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s