Idealisme Dalam Musik Adalah Omong Kosong

COBA jelaskan, apa arti idealisme dalam bermusik?

Hmm, pertanyaan itu tidak sekali dua kali muncul dalam wawancara dengan solois atau band yang merilis album, atau masuk dalam industry musik di Indonesia. Banyak yang mengatakan, kalau musik idealis, susah “dijual” atau susah mendapat tempat di industry. Bahasa kerennya, musik idealis itu linier dengan cutting edge. Ulasannya gagah bukan? 

"idealisme itu omong kosong. tidak ada apapun yang ideal di dunia ini."

“idealisme itu omong kosong. tidak ada apapun yang ideal di dunia ini.”

APA sebenarnya idealisme itu, khususnya korelasi dengan musik? Mengacu pada tata bahasa, ideal adalah kata dasarnya. Ideal adalah satu tataran riil, dimana apa yang kita pikirkan, bayangkan, dan lakukan, selaras, linier dan senada dengan apa yang kita bayangkan. Semuanya pas. Tapi kata seorang tokoh agama, ideal itu tidak ada, karena tidak ada kesempurnaan di dunia ini.

Saya agak mendebatnya, karena menurut saya, idealisme adalah dalah sebuah pemikiran, tak jauh beda dengan Ideologi. Kata dasarnya juga hampir sama, yaitu Ide. Idealisme adalah suatu bentuk pemikiran yang didasarkan atas intelektual dan experience seseorang.

Sesungguhnya idealisme itu bukanlah sesuatu yang baku dan diam. Idealisme adalah perjalanan. Dan tanpa kita pernah berusaha untuk menunjukkan idealisme kita sendiri, maka idealisme kita akan tenggelam dan mau tidak mau kita akan harus hidup dalam idealisme orang lain.

Idealisme dari bahasa Inggris yaitu Idealism dan kadang juga dipakai istilahnya mentalisme atau imaterialisme. Istilah ini pertama kali digunakan secara filosofis oleh Leibniz pada mula awal abad ke- 18. Leibniz memakai dan menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, secara bertolak belakang dengan materialisme Epikuros. Idealisme ini merupakan kunci masuk ke hakikat realitas.

Dari sekian banyak definisi idealis, bagaimana korelasinya dalam industri musik? Benarkah idealis tidak mendapat tempat yang layak dalam industri musik [komersial?]. Oh ya, saya ingin menyinggung sedikit soal “rivalitas” idealis dan komersial. Saya pribadi, tidak terlalu setuju dengan komparasi tersebut. Selain memberi ruang sempit untuk berkembang, juga memberi pengkotakkan lain, bermutu dan tidak bermutu. Apakah komersial itu tidak idealis? Atau idealis itu tidak identik dengan komersial?

Ini yang terjadi, bahwa idealis menjadi konkruen dengan segala hal yang berbau mutu dan perlawanan. Idealis kemudian [amat] identik dengan cutting edge. Istilah yang saya sendiri masih meraba-raba dengan tepat penjelasannya. term idealisme dalam bermusik sebagai budaya resistan terhadap budaya mainstream.

Padahal seperti yang saya sebut di atas, idealis itu tidak baku dan diam. Idealis itu bergerak terus. Belajar terus. Seorang musisi yang cukup puas dengan posisinya sekarang, tidak mau mengembangkan diri, mendengar banyak musik lain, tidak layak disebut idealis. Dia lebih pantas disebut pemalas. idealisme mempunyai peranan penting dalam perkembangan intelektual dalam bermusik. Karena idealis itu pembelajar dalam konteks musikal.

Idealisme adalah perjalanan. Saya tidak mau terjebak pada dikotomi idealis dan komersial, karena dalam kacamata saya, dua ranah itu punya sisi ideal yang sama-sama bisa diperjuangkan, tapi tidak dipertentangkan. Banyak musisi yang merasa “terkontaminasi” di industry dan kemudian membuat side-project atas nama idealis.

Buat saya, itu bukan idealis, tapi semata alter ego semata. Idealis bermusik itu bukan ketika bisa membuat musik, lirik, aransemen yang berbeda dengan yang biasa dimainkannya, tapi ketika wawasan musikalnya bertambah, pengalaman musikalnya meningkat, dan menemukan hal baru yang sebelumnya tidak diketahuinya.

So, ketika ditanya idealisme musisi dalam bermusik, kita tidak bisa langsung menuding saat itu juga. Idealisme adalah experience. Idealisme adalah perjalanan yang tidak pernah berhenti. Dan dalam musik [dan industrinya], idealisme adalah ketika musisi berpikir dengan musik dari hatinya. Kelak, idealisme-nya itu bisa jadi ideologi. Tapi percayalah, prosesnya menemukan ideal itu tidak instan.

Ideal itu utopis, idealis itu nihilisme. Jangan pernah mengklaim musik A idealis, musik B kurang idealis, musik C komersil semata. Idealisme, termasuk dalam musik, harus ditumbuhkan, karena seperti kata Plato, itukah kunci masuk dunia realitas. Kecuali musisi itu masuk punya dunia sendiri.

*ditulis oleh djoko moernantyo, editor SoundUp Jakarta. Semuanya merupakan pendapat pribadi…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s