SLANK. Menyebut nama band ini sama artinya dengan menyebut ‘kekuatan’ lirik sebagai satu fatwa pujangga. Apa yang mereka tuangkan dalam lagu, menjadi satu fatwa yang banyak diikuti dan dituruti oleh Slanker-nya, ketimbang kotbah-kotbah rohaniwan yang banyak memberi penghakiman.

SLANK berhasil membentuk satu fanatisme, satu kekuatan dan satu pergerakan, lewat musik. Ini menarik. Tapi apa yang sudah diraih oleh Bimbim [drum], Kaka [vokal], Ridho [gitar], Abdee Negara [gitar] dan Ivanka [bass], tidak didapat dalam sekejab. Mereka menggarap base-community lebih dari 20 tahun. Satu rentang waktu yang tidak sebentar untuk eksistensi satu band di Indonesia.

Sekadar menoleh sebentar ke belakang, Cikal bakal lahirnya Slank adalah sebuah grup bernama Cikini Stones Complex (CSC) bentukan Bimo Setiawan Sidharta (Bimbim) pada awal tahun 80-an. Band ini hanya memainkan lagu-lagu Rolling Stones dan tak mau memainkan lagu dari band lain, alhasil mereka akhirnya jenuh dan menjelang akhir tahun 1983 grup ini dibubarkan.

Bimbim meneruskan semangat bermusik mereka dengan kedua saudaranya Denny dan Erwan membentuk Red Evil yang kemudian berganti nama jadi Slank, sebuah nama yang diambil begitu saja dari cemoohan orang yang sering menyebut mereka cowok selengean dengan personel tambahan Bongky (gitar) dan Kiki (gitar). Kediaman Bimbim di Jl. Potlot 14 jadi markas besar mereka.
Mereka sempat tampil di beberapa pentas dengan membawakan lagu-lagu sendiri sebelum Erwan memutuskan mundur karena merasa tidak punya harapan di Slank. Dengan perjuangan panjang terbentuklah formasi ke-13, Bimbim, Kaka, Bongky, Pay dan Indra, Slank baru solid.
Dengan formasi Bimbim (Drum), Bongky (Bass), Pay (Gitar), Kaka (Vokal) dan Indra (Keyboard) mereka mulai membuat demo untuk ditawarkan ke perusahaan rekaman.

Setelah berulang kali ditolak, akhirnya tahun 1990 demonya diterima dan mulai rekaman debut album Suit-Suit… He He He (Gadis Sexy). Album yang menampilkan hit Memang dan Maafkan itu meledak dipasaran sehingga mereka pun diganjar BASF Award untuk kategori pendatang baru terbaik. Album kedua mereka, Kampungan pun meraih sukses yang sama.

SLANK juga mengalami masa-masa “disolasi” [kegelapan] ketika personilmya terpuruk menjadi ‘budak’ narkoba. Mungkin kalau sampai sekarang masih terjebak disana, mereka sudah mati dan hanya menjadi sejarah saja. Tapi ternyata mereka tak mau hanya jadi sejarah, tapi terus menciptakan sejarah dalam pentas musik Indonesia.

Seorang penulis pernah mengatakan, hanya dengan ketekunan latihan seseorang bisa menemukan keseimbangan. Meski bermakna religi, ungkapan tersebut bisa menjadi gambaran bagaimana SLANK berlatih terus menerus untuk menemukan keseimbangan. Dan itu mereka dapatkan ketika akhirnya memutuskan meninggalkan barang laknat bernama narkoba itu.

SLANK Adalah PERGERAKAN
Siapa yang membantah?  Ketika SLANK “menghujat” para koruptor [yang kemudian tersinggung dengan bodohnya], hampir semua umatnya di seluruh Indonesia menyatakan diri siap berdiri di belakangnya. Ibaratnya, ketika orang “menyenggol” band ini dengan sebuah ancaman, entah psikis, atau emosional, semua akan menjadi benteng untuk berhadapan dengan gempuran itu. Dan itulah SLANK. Mereka sudah membentuk satu gerakan massa lewat musik. So far, mereka tetap berada para jalur yang semestinya. Slanker dan SLANK tetap menjaga komitmen mencintai bangsa ini dengan caranya sendiri.

SLANK juga jadi contoh bagaimana mereka “menyetir” industri, bukan industri yang “menyetir” mereka.  Album-albumnya diedarkan lewat label yang mereka bentuk sendiri.  Kekuatannya adalah mereka punya harga tawar yang maksimal tentang apa saja soal albumnya.

Sayangnya, label ini “hanya kuat” untuk album SLANK saja. Ketika mencoba mengorbitkan musisi baru, ternyata mereka terengah-engah, kalau tidak ingin disebut gagal total.  Dengan kata lain, pergerakan SLANK ternyata memang harus untuk SLANK, bukan untuk yang lain. Apakah ini jadi kelemahan band ini? Tampaknya betul. Mereka nyaris “selalu” gagal menjadi pengorbit band-band atau musisi baru. Meski labelnya adalah produser perorangan.

SLANK [BENAR-BENAR] GO INTERNATIONAL?
Meretas trayek international setelah menembus usia karir 25 tahun, tentu bisa dilihat dair banyak sudut. Ada yang merasa, SLANK sebenarnya terlembat untuk melakukan hal yang harusnya sudah dicapainya beberapa tahun silam. Tapi banyak pula yang menilai, SLANK mempersiapkan “amunis” yang cukup kuat sebelum benar-benar siap ke pentas dunia. Yah, daripada koar-koar nggak jelas dan nggak nyampe-nyampe juga, mendingan  pelan tapi pasti dan melangkah terus. Begitu mungkin pikir anak-anak SLANK.

Langkah yang diambil memang tidak main-main. Mereka menggaet Blues Saraceno. Doi adalah gitaris, komposer sekaligus produser yang punya 3 album solo “Never Look Back”(1989), “Plaid” (1992)dan “Hairpick” (1994). Dia juga pernah menggantikan gitaris Ritchie Kotzen di grup Poison. Saraceno juga banyak mengisi lead gitar pada berbagai album rock dan pop seperti Taylor Dayne, Cher, Lindsay Price, Scott Caan, Anthony Michael Hall, Randy Coven, Dweezil Zappa, Ziggy Marley, Melissa Etheridge dan banyak lagi.

Dari proses rekaman yang ditayangkan di salah satu televisi, termasuk ngobrol dengan personil SLANK, Saya  bisa merasakan bagaimana band yang dianggap ‘supergroup’ di Indonesia ini rela dipermak dan menjadi “tidak siapa-siapa” lagi ketika di Amerika Serikat.  SLANK harus belajar lagi dengan ketukan, nada, vokal dan aransemen serta proses recording yang tidak bisa seenan udelnya sendiri. Semua terjadual.

Untungnya, SLANK “mau” dan melakukan proses itu [tampaknya] dengan senang hati. Sebelumnya langkah internasional itu sudah mereka lakukan dengan merekam beberapa lagu dengan bahasa Jepang, bareng band blues asal Jepang The Big Hip.

Album rilisan Amerika diberi judul ‘Anthem For The Broken Heart’ [Orkes Sakit Hati]. Kata Abdee, “Debut album Internasional ini pembuktian Slank sebagai musisi Indonesia yang bisa menembus pasar Amerika dan Eropa. Pasalnya, selama ini hanya musisi Eropa yang datang ke Indonesia. Sementara mereka, mengenal Indonesia hanya sebagai negara teroris. Kami datang untuk bermain musik. Bukan menjadi teror.” SLANK menyebutnya dengan ‘Diplomasi Rock n Roll a la Slank’

Sayangnya, album yang berisi lagu berbahasa Inggris ini tidak diedarkan di Indonesia. Alasannya, karena hitungannya internasional, jadi sementara diedarkan di pasar Amerika.  Alasan yang ‘tidak masuk akal’ sebenarnya. Karena bagaimanapun, Slanker di Indonesia berhak tahu dan ingin tahu seperti apa album yang digarap dengan ‘sangat serius’ di Amerika itu. Meski versi “nakalnya” sudah bisa dicari dan diunduh di internet. Lagu-lagunya memang diambil dari kantong album yang sudah beredar dan kemudia diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Seperti misalnya ‘I Miss U But I Hate U’ atau ‘Devil In U’ dan ‘2 Sweet 2 Forget’

Kalau diperhatikan, SLANKER sebenarnya juga bisa “menyayangkan” langkah SLANK ke Amerika Serikat ini. Meski penulis percaya, yang mendukung pasti jauh lebih “mengerikan” supportnya. Penulis sih tidak kagum-kagum amat dengan langkah SLANK Ini.  Malah sebenarnya mereka mengalami kemunduran musikal, dibanding era SLANK yang peduli dan menyenangkan dengan ornamen tradisionalnya.

Bukan tak setuju. SLANK kemudian terdengar ‘American Style’ ketimbang ‘Indonesia Stye’. Padahal, untuk menembus pasar Internasional ciri budaya itu penting bukan? SLANK pernah memasukkan instrumen kecapi di beberapa lagunya, mereka juga sempat memainkan gitar bernada seperti nuansa Kalimantan, dan juga menyanyikian lagu ‘Gundul-Gundul Pacul’ meski di aransemen ulang. Katanya musik adalah bahasa yang universal?

SLANK Tak Bisa Dikritisi?
Sayangnya, SLANK sendiri makin lama makin kehilangan “rohnya.” Banyak fans yang berbalik mengkultuskan SLANK. Originalitas SLANK kian tergerus menjadi makna ekonomi yang kemudian berhitung untung rugi.
SLANK seolah berlomba menjadi band yang terbesar, dibanding band-band lain. Ironis sebenarnya, lantaran kelahiran band ini justru muncul dari sebuah kesederhanaan dan sikap perlawanan yang kental. Paradoksal yang keterlaluan.

Kederhanaan SLANK makin lama makin terkena erosi makna. Bahwa kelahiran bisa berkarya lebih dari 20 tahun harus disyukuri, itu betul. Tapi ketika kemudian SLANK menjadi “bergenit-genit” dengan bujet-bujet angka yang luarbiasa, itu yang perlu dikritisi. SLANK mulai menjadi “nabi” yang kedodoran dengan “sabdanya”. Album-album band yang pernah terpuruk karena narkoba ini sudah menjadi “kunyahan” rutin Slankers. Kalau memang enak, telan. Kalau tidak enak, muntahkan.

SLANK memang makin sulit disentuh. Dalam sudut pandang yang lebih luas, SLANK seharusnya bisa menjadi pendobrak batas linier antara “kami” dengan “mereka”, antara “fansku” dan “fans mereka”, atau antara Slankers “loyal” dengan Slankers “modal kartu anggota”. Alangkah indahnya, ketika SLANK bisa menjadi basis sosial yang bisa dinikmati dan melibatkan semua orang dari banyak perbedaan, tanpa kekerasan.

Janganlah setiap album baru SLANK hanya menjadi saluran pelepasan, setelah asik tenggelam dalam “termpurung” konser dan show dimana-mana. Inilah saatnya mengembalikan orisinalitas SLANK. Saat yang tepat untuk mengembalikan SLANK sebagai satu band yang memberi spirit keinsafan [boleh disebut pertobatan] batin yang tidak dipaksakan, lewat lirik-liriknya. Slanker dan Non-slankers tidak ditakuti dengan atribut angker, tapi benar-benar menjadi “mata air” dari spirit SLANK yang tidak pernah direduksi maknanya. Kalau ternyata masih sekedar hura-hura album demi album saja, sebenarnya kita makin mendangkalkan orisinilitas karya-karya SLANK.

SLANK memang tak slengean lagi. Mereka kini sudah menjadi sosok yang mapan dan berada secara ekonomi. Kalau tak ingin menjadi menjadi “monumen” yang tidak bisa disentuh, SLANK harus memelihara spirit kesederhaan, perlawanan, dan cinta yang apa adanya. Kalau kemudian mereka “bergincu” dan “bergenit-genit” dengan lirik dan musik yang makin “pasaran”, sejatinya SLANK kedodoran menjaga identitasnya. Mau atau tidak, slankerslah yang harus menjadi “garda” terdepan mengembalikan SLANK ke akarnya.

Dalam bahasa seorang kawan [bukan] SLANKERS membabibuta, industri adalah kata kuncinya. Layaknya sebuah pabrik, SLANK nyaris kehabisan bahan baku. Setiap era memiliki ikonnya sendiri dan agaknya SLANK harus siap menerima realitas bahwa mereka bukan lagi idola di era kekinian. SLANK adalah simbol perlawanan era 1990-an.

Jadi, mereka harus lebih selektif lagi memilih repertoar dalam albumnya agar tidak terkesan masturbatif. “Bayangkan, mereka bisa merilis dua album dalam setahun. Adakah hits yang fenomenal dari kedua album itu? “ tanya kawan itu.

SLANK Adalah KEMAPANAN
Film yang bercerita soal SLANK berjudul ‘Generasi Biru’ sudah beredar. Garapan Garin Nugroho ini ingin menyorot dari berbagai sudut dan karakter SLANK dan Slankers. Tentu saja dengan sudut pandang Garin yang biasa membuat film “mikir” sebelumnya.  Memang, banyak gambaran soap spirit, kekuatan lirik dan kedahsyatan setiap sabda SLANK lewat lirik lagunya. Bahkan di Timor Leste yang notabene masih memendam “luka” dengan Indonesia, SLANK bisa menjadi atribut wajib anak mudanya.

Dalam film itu, SLANK memang masih bersuara nyaring dan lantang. Mereka juga masih menjadi ikon sebuah perlawanan lewat lagu. Melawan korupsi, melawan kekerasan negara, melawan kemiskinan. Melawan kemapanan. Tapi SLANK juga [sekarang] adalah simbol kemapanan.

Yap. SLANK adalah kemapanan. Mereka bukan ‘the untouchable’ yang semua kata-katanya harus dituruti. Tapi SLANK adalah bioritmik sebuah siklus. Dan kini siklus itu ada di tataran nyaman. Tapi, tetaplah berterimakasih pada SLANK, karena mereka berani bersuara ketika tekanan masih kuat. Dan tetap nyaring, ketika tekanan mulai melunak. SLANK memang kemapanan sekaligus gerakan perlawanan.