UNTUK BAND pemula, band yang baru masuk industri musik dan kemudian menggelar launching untuk memamerkan eksistensinya. Berhadapan dengan wartawan itu seperti ‘sidang skripsi’ di depan dosen. Dicecar dengan banyak pertanyaan yang menukik, tajam, membingungkan, berputar-putar dan kadang menyakitkan. Band-band ini sering terjebak pada jawaban yang normative dan tidak menjelaskan tentang karyanya sendiri.

Berhenti Jadi Jurnalis itu Bisa Kapan Saja, tapi Penulis Itu Abadi!
Hati-hati menjawa pertanyaan wartawan.

Mereka biasanya tergantung pada press relese yang sudah dibuat untuk membantu wartawan memahami karya si artis atau band tersebut. Tapi jangan salah, tidak semua wartawan hanya berpatokan pada rilis yang sudah dibagikan itu. Jujur, meski tidak semua pertanyaan wartawan berbobot dan menguasai materi, tapi berdasar pengalaman, banyak pertanyaan yang kemudian bisa menjadi “daya kejut” untuk band baru. Belum lagi kalau bicara soal bahasa tubuh, intonasi dan gaya bertanya.

Tidak ada yang tidak mungkin, begitu Adam Malik selalu berkata. Untuk band baru yang menemui kendala seperti itu, saya akan memberikan “bocoran” bagaimana harusnya bersikap, menjawab, dan menguasai materi yang ditanyakan. Catatan ini mungkin sedikit membantu ketika band atau penyanyi baru itu kelak melakukan promo tour ke banyak radio dan daerah. Karena mereka akan bertemu dengan banyak wartawan dengan pertanyaan yang beragam, meski kadang-kadang banyak yang sama juga. Tapi apapun pertanyannya, meski sudah didengar ribuan ali, tapi ketika menjawabnya tidak dengan hati, semangat dan antusias, akan menjadi jawaban yang membosankan. Hati-hati soal itu.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh band atau penyanyi baru itu antara lain adalah:

1.Kuasai Materi Dengan Baik

Secara logika, band yang rilis album, seharusnya sudah khattam tentang materi albumnya. Baik soal aransemen, lirik, tema, atau komposisi lagunya. Alhasil, ketika di depan wartawan, soal materi kudu tidak jadi persoalan lagi. Sayangnya, karena rasa segan, malu, gugup, panik, mereka seringkali belepotan menjawab pertanyaan soal materinya sendiri. Ini menjadi paradoks, materi sendiri tapi nggak ngerti. Kecuali, semua lagunya diciptakan oleh orang lain, dan dia hanya menyanyikan saja. Penguasaan materi menjadi hal vital yang musisi baru itu harus –saya katakan harus—dikuasai dengan baik dan benar.

2. Latihan Konperensi Pers

Latihan? Betul. Percayalah, zaman sekarang banyak band, musisi, atau label yang meremehkan press conference untuk band baru. Alasannya macem-macem. Nggak efektiflah, terlalu biasa, atau mungkin bujetnya mendingan dipakai untuk promo. Tapi saya juga masih percaya, band baru penting memperkenalkan diri, karya dan attitude-nya. Nah, sebelum memulai preskon, baiknya sehari atau beberapa hari sebelumnya, ada training untuk mereka. Undang saja, satu dua orang wartawan yang dianggap kapabel untuk memberi coaching.

Ajukan semua pertanyaan yang biasanya diajukan kepada artis. Dan biarkan si artis itu belajar menjawab dengan apa yang ada di kepalanya. Mungkin jawabannya salah, atau memunculkan pertanyaan baru yang lebih ribet, tapi tak apa. Lebih banyak “berantakan” di coaching daripada kacau balau di preskon sesungguhnya.

3. Biasakan Mencatat

Ini kerap saya perhatikan. Tidak pernah ada team dari artis yang sedang preskon itu, mencatat detil pertanyaan yang diajukan. Kalau artisnya mungkin sibuk menjawab gempuran pertanyaan, tapi manajemenya harusnya bersikap merekap apa-apa yang ditanyakan. Menapa itu jadi penting, untuk pemula evaluasi menjawab pertanyaan itu penting. Karena mereka adalah front-man yang berhadapan dengan wartawan dengan segala bentuknya. Kalau rajin mencatat, pertanyaan apa saja yang biasa ditanyakan, dan bagaimana sebaiknya menjawab dengan efektif, benar dan tepat, mungkin bisa dicapai dengan baik.

4. Bahasa Tubuh

Banyak artis yang gagal pada kesempatan pertama karena punya aura [bukan aura kasih ya] yang tidak menyenangkan. Beberapa artis yang sekarang sudah mencapai puncak popularitas, beberapa diantaranya sempat mengalami “gegar-budaya” ketika wawancara dengan wartawan di awal karirnya. Jawabannya belepotan dan mengaburkan makna karyanya denga mencoba melucu yang tidak lucu. Saya tidak tahu, apakah itu menutupi ketidakmampuannya berkomunikasi di depan khalayak, tak menguasai materi, atau memang dia bodoh tapi beruntung bisa masuk dapur rekaman. Beda loh.

Jangan terlihat takut, minder atau seperti ‘kabayan saba kota’. Wartawan juga manusia, yang tidak tahu apa-apa dengan karya si artis. sebelumnya Ketika wartawan bertanya, ada proses pembelajaran dan proses pemberitahuan hingga wartawan jadi tahu tentang artis itu. Janggan dianggap ketika wartawan bertanya, hanya sekadar ngetes saja. Ada proses belajar bersama. Perhatikan wartawan yang bertanya, jangan bersikap berlebihan, dan jangan kelihatan takut dengan nunduk terus.

5. Jangan Meremehkan

Ini berlalu untuk wartawan dan artisnya. Untuk wartawan, meski artisnya kelihatan ‘ndeso’ tapi jangan langsung dihakimi bahwa dia hanya mengandalkan keberuntungan saja. Untuk artis, jangan pernah meremehkan pertanyaan yagn diajukan wartawan, meski mungkin pertanyaan itu terdengar dangkal, kacang, atau bodoh sekalipun. Bukan hak artis untuk menilai pertanyaan itu bermanfaat atau tidak. Jawab saja dengan jawaban yang membuat dua pihak sama-sama terpuaskan.

Artis yang merasa dirinya sangat menguasai teknik bermusik bagus, punya skill tinggi, dan pendidikan musik yang mumpuni, juga jangan langsung menganggap wartawan tidak ngerti apa-apa tentang musiknya. Kalau hal ini sudah muncul, yang ada adalah kesombongan dalam menjawab pertanyaan. Percayalah, itulah awal kejatuhanmu.

Antusias menjawab dan menyimak setiap pertanyaan, akan memberikan nilai tambah kepada artis tersebut. Jangan terlihat lesu, malas atau asal-asalan dalam menjawab, terlepas itu persoalan imej yang ingin dibangun atau tidak.

6. Belajar, Belajar & Belajar
Saya selalu menganggap, ketika bertanya kepada artis, musisi, atau siapapun yang diwawancara, saya sedang belajar. Proses pembelajaran itu terus menerus dan tidak pernah berhenti. Begitu juga dengan yang harus dilakukan oleh artis baru itu. Jangan pernah menganggap pertanyaan wartawan, apapun bentuknya, sebagai satu intimidasi. Mengkritisi beda dengan memojokkan, menguasai materi beda dengan asal tanya tak jelas. Tapi semuanya harus dihadapi dengan cerdik, apik dan ramah.

Kalau sukses, kelak akan menghadapi wartawan yang sama, dengan beragam pertanyaan yang mungkin sama. Sekali lagi, jangan pernah bosan. Ketika kebosanan itu muncul dan menjadi attitude, masalah akan muncul.

Belajar, Belajar dan Belajar, Jangan pernah berhenti mengenal wartawan dan semua pertanyaannya, jangan pernah berhenti mengenal industrinya, jangan pernah berhenti belajar untuk tetap berkarya lebih baik dan lebih baik lagi.

7. Pertahankan Hubungan Baik
Banyak yang beranggapan, hubungan wartawan dan si artis hanya berlaku selama relasi pekerjaan saja. Sebenarnya tidak. Mempertahankan relasi baik dengan wartawan, menyapa, sekadar SMS atau say hello ketika bertemu dalam acara tertentu, menjadi nilai-plus. Jangan dilihat sebagai asas manfaat saja. Karena sekarang makin banyak wartawan yang berusaha mendekat ke artis dengan harapan mendapat “keuntungan” tertentu, sebaliknya artis mendekat ke wartawan karena ingin pamornya juga bisa dibantu. Hubungan baik penting, tapi tetap ada jarak itu juga perlu.

8. Percaya Diri & Jadi Diri Sendiri

Banyak artis, musisi, band atau siapapun itu, tampil di depan wartawan dengan kualitas kepercayaan diri yang parah. Banyak yang tampil seolah bukan dirinya. Seperti disetir, sehingga yagn nampak di depan adalah robot. Kalau masih begitu, dia belum siap masuk ke industri.

Ketika sudah mantap masuk ke industri musik, apapun konsekuensinya dia harus siap. Kepercayaan diri itu harus dipuk dari awal. Tapi jangan over confidence, karena itu juga terlalu berlebihan. Akan nampak di hadapan wartawan, apakah orang itu over PeDe, atau malah tidak punya kepercayaan diri sama sekali. Kemudian yang penting lagi, jadilah diri sendiri.

Cara ngomong, cara bersikap, attitude yang dimunculkan, adalah benar-benar karakternya dia. Meski makin banyak artis yang “muka-dua” tapi menjadi diri sendiri jauh lebih penting. Ketika dia berhasil, dia akan merasakan kerjakerasnya tidak sia-sia. Dan ketka gagal, dia tidak stress, gila, atau berbuat yang aneh-aneh seperti caleg kita. Dia tetap bersemangat berkarya, sampai batas yang dia rasa mampu.

Kemudian tidak takut menerima tantangan. Banyak penyanyi yang ‘karbitan’ merasa ‘ketakutan’ ketika ditantang untuk mendendangkan suaranya tanpa iringan musik. Kalau memang yakin dengan kemampuannya, kenapa tidak? Meski yang banyak terjadi adalah “belepotan” ketika melantunkan bait demi baitnya. Tapi nggak masalah, karena keberanian dan kejujuran memberi nilai plus.


9. Persiapkan Dengan Matang

Banyak musisi yang tidak mempersiapkan diri dengan baik ketika wawancara, preskon, apalagi one on one interview. Ini harus jadi catatan penting untuk pendatang baru, Apapun medianya, ada beberapa hal mendasar yang mesti disiapkan. Pertama, cari tahu siapa dan media apa yang akan mewawancarai Anda. Jangan hanya mendengar dari koodinator pers, media yang datang ini, yang datang itu, tapi kalau bisa tahu sifat media, itu akan membantu mendapat gambaran. Kedua, cari bahan/data pendukung yang relevan. Ini kaitanay dengan penguasaan materi dan karya. Ketiga, siapkan beberapa key messages untuk dikomunikasikan dalam wawancara tersebut. Ini bisa didapat kalau ada coaching dan ngobrol dengan beberapa pihak yang berkompeten.

10. Berdoa
Boleh kita berusaha macam-macam, tapi sebelum memulai, berdoa mungkin memberi ketenangan dan keyakinan. Paling tidak membuat kita tidak sendiri di preskon atau pas wawancara dengan wartawan.

Semoga Membantu!