Bagaimana rasanya hidup di antara kampret-kampret? Pasti berisik dan saling mengeraskan suara, supaya terdengar paling menonjol. Oh ya, Anda tahu apa itu kampret kan? Dari telisik yang saya baca, kampret adalah sebutan untuk kelelawar yang berukuran kecil pemakan serangga. Dalam bahasa ilmiahnya disebut Microchiroptera. Meski sering dihina-dina, dagingnya –konon—bisa jadi obat buat kamu yang punya asma atau bengek.

"negeri dijejali para penjilat"
negeri dijejali para penjilat”

ENTAH darimana asalnya pula, kampret jadi kata makian. Setiap kita sebel dan marah dengan orang lain, kampret-lah yang paling sering disebut, selain asu, dan monyet. Salah apa sebenarnya si kampret ini sehingga jadi sumpah serapah. Apakah, ketika sedang kita menyerampahi, kita berharap orang itu seperti kampret, gelantungan di pohon dengan kepala terbalik, dan menumpahkan tahi baunya? Rasanya tidak begitu. Apakah kita menyumpahi dengan si kampret ini, tiba-tiba kita seperti jagoan tak terkalahkan? Rasanya juga tidak begitu.

Mari kita menilik kampreto republic, dimana kampret-kampret tak lagi menjadi hinaan, tapi menjadi pemegang kekuasaan dengan semua tingkah dan ucapan yang aneh-aneh. Marilah kita mencoba menjadi warga kampreto republic, dimana ketiadaan tetaplah ketiadaan, tanpa harus menjadi ada atau diadakan. Marilah menjadi warga kampreto republic, dimana agama dipahami sebagai kerangkeng dan dijadikan monster menakutkan bagi kemanusiaan dan kehidupan.

"bungkam saja mulut penjilat-penjilat itu"
“bungkam saja mulut penjilat-penjilat itu”

Oh ya, jangan heran dan sangat beralasan bila ada yang alergi pada agama. Bila agama tidak lagi mengayomi dan melayani manusia dan kehidupan, sudah waktunya demi nalar kehadirannya, agama model demikian hilang dari kehidupan. Jangan-jangan yang kita butuhkan dalam hidup adalah kebaikan dan kemaslahatan saja. Apakah berbentuk atau tidak bernama agama.

Intinya, sepanjang membawa kebaikan bagi manusia dan kehidupan kita normal Itulah agama. Jangan-jangan yang lebih kita butuhkan adalah “agama” tanpa nama. Ah, itu kata-kata ahli kitab di kampreto republic. Bukan republiik yang sesungguhnya kok.

Di kampreto republic, ketidakadilan, timpang-harta antara si kaya dan si miskin, saya meyakini, bukanlah suratan Tuhan, melainkan diciptakan oleh sistem dan watak negara. Kemiskinan itu dipersiapkan, diciptakan oleh segelintir orang berkuasa. Kampret-kampret menindih komunalisme dengan jargon-jargon dan tahi-tahi busuknya.

Apakah kampret-kampret itu sudah pandai bersuara lebih merdu dengan kebohongannya? Atau malah terdengar seperti bualan yang makin membabi-buta? Adakah beda antara kebohongan dan bualan? Kamus Bahasa Indonesia mencatat, berbohong berarti menyatakan sesuatu yang tidak benar. Bual artinya omong kosong; cakap besar (kesombongan).

Kampreto Republic kini menuju yang kedua: membual, karena kebohongan dilakukan berkali-kali. Sama artinya dengan republik omong kosong, kampret yang banyak cakap menyejahterakan rakyat, tapi mempersiapkan, melaksanakan, dan mengawal pemiskinan warganya.

Di kampreto republic, kampret-kampret itu makin membabi buta, tak lagi makan serangga dan tetap mengeluarkan tahi busuk-nya! Ah, dasar kampret…