PERCAYA atau tidak, perkembangan musik di Indonesia memang luarbiasa. Pertumbuhan band-band baru dengan berbagai karakter, menjadi indikasi betapa musik sudah demikian mendarah-daging untuk penikmatnya. Hebatnya, meski periuk yang tersedia terbatas dan ketat, ternyata tidak membuat gentar anak-anak muda yang punya mimpi lewat musik. Hampir setiap hari bermunculan band-band baru yang unik. Tidak semua bagus secara materi dan skill, tapi paling tidak membuka mata kita, ranah musik ini memang belum habis untuk dikupas.

nfnw

Setiap band yang lahir, pastinya mencoba untuk menawarkan karya lagunya kepada khalayak yang mereka anggap potensial. Lucu dan aneh, kalau ngeband tapi menutup diri ketika karyanya diapresiasi. Ada loh band yang begitu. Tapi mayoritas sih maunya ngetop ketika lagunya dinyanyikan sebanyak-banyaknya orang. Apalagi ada iming-iming gemerincing rupiah dalam nada sambung atau RBT. Hmm, siapa sih yang tidak ngiler?

Promosi menjadi kata kunci. Sebagus apapun lagu itu, ketika orang tidak pernah tahu, menjadi sia-sia saja perjuangan membuat lagu itu. Kecuali memang untuk koleksi pribadi doing. Sekarang sih sudah banyak cara untuk mempromosikan lagu. Sebut saja YouTube, Facebook, Twitter atau mungkin website band itu sendiri, bisa menjadi ajang untuk “menjual diri” kepada publik. Cukupkah? Tentu saja tidak, meski efektivitasnya juga bisa jadi kajian yang menarik.

Ada beberapa strategi promosi di era digital sekarang ini. Semua lini bisa kita maksimalkan, asal ada kemauan dan waktu untuk melakukannya dengan sungguh-sungguh. Dari cara yang konvensional sampai cara-cara digitalized bisa kita pakai. Perlu sekolah khusus? Belajar untuk menguasai dan mengerti itu penting, tidak harus sekolah khusus. Saya akan membocorkan beberapa strategi marketing sederhana untuk membantu band-band baru dilirik oleh masyarakat dan media. Apa yang saya paparkan ini, tidak semuanya ada di buku ekonomi, tapi juga berdasar pengalaman di lapangan menjadi tim promosi. Simak baik-baik.

1. Berteman Dengan Wartawan
Apakah ini strategi marketing? Saya katakan, iya! Band baru yang ingin dikenal secara luas, harus mencari tahu media apa yang pantas dan pas untuk menjadikan mereka dikenal. Kenali wartawan dan medianya. Ada hal yang harus kamu perhatikan sebelumnya. Karena berhubungan dengan hiburan dan entertainment, akan lebih efektif kalau kamu berteman atau kenal dengan wartawan yang memang ditugaskan di desk hiburan. Akan lucu, kalau ingin masuk industry musik, tapi ‘nempel-nya dengan wartawan desk politik atau ekonomi misalnya. Salahkah? Ooh, soal pertemanan tidak ada yang salah, tapi efektivitas promo juga harus diperhatikan. Kecuali kemudian mereka –wartawan-wartawan itu—mau mengenalkan kepada rekan mereka yang memang berada di ranah hiburan, itu beda cerita. Suatu saat, kamu bakal merasakan pentingnya kebutuhan berteman dengan wartawan, apalagi kalo akhirnya ngetop. Fenomena sekarang, wartawanlah yang jadi ujung tombak promosi dan marketing dari satu band. Mereka terlibat sebagai tim manajemen sehingga memudahkan akses ke media-media yang disasar.

2. Wave Marketing – Marketing Ombak
Istilah ini dikatakan oleh pakar marketing, Hermawan Kertajaya. Maksudnya adalah, kita tahu sasaran dan komunitas yang bakal kita sasar. Fokuslah kesana. ‘Tembakan’ bisa langsung diarahkan kepada komunitas tersebut. Mengapa? Lagi-lagi bicara soal efektivitas dan korelasinya dengan bujeting. Kamu bisa lebih terarah dan tepat sasaran.

3. Cyber Public Relations [PR]
Sebelumnya, kamu kudu paham pentingnya PR untuk band. Tentu tidak langsung professional menunjuk konsultan PR, tapi learning by doing, kecuali band kamu punya dana tak terbatas untuk menyewa konsultan itu. Mengapa saya menyarankan Cyber-PR? Strategi ini bisa dilakukan tanpa kamu harus berdiri dari tempat duduk. Tapi tentu bagaimana PR-ing dan maunya band itu, harus bisa disinergikan di awal. Dunia cyber adalah dunia tanpa batas apapun. Tidak ada jarak. Kamu bisa pilah dan pilih “sasaran” yang ingin diincar. Tidak asal hantam-kromo, membabi-buta menyebar materi lagu lewat jalur maya. Pelajari benar soal PR ini.

4. Social Media
Ini nyaris sama dengan cyber-PR di atas. Bedanya, kamu masuk lebih intim dan personal kepada pribadi-pribadi yang potensial menjadi fans, pembeli CD atau pen-download RBT kamu. Banyak sekali social media yang bermunculan dengan karakter yang berbeda-beda. Ada plurk, facebook, twitter, miimr, koprol, youtube, soundclick, digaku. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tapi saya sarankan, cari waktu untuk mempelajari social media ini secara khusus. Ini akan menjadi marketing yang amat dahsyat dengan biaya yang lebih murah. Sebaiknya memang ada satu orang yang addict dengan social media ini, jadi mau repot untuk ngoprek.

IMG-20151028-WA0004
RENTDO – Kompilasi Musikini Vol. 1 — [Foto: Pepen Buez]

5. Press Release
Ini bagian dari marketing. Ketika baru kamu muncul di permukaan, tidak semua orang tahu dengan band kamu. Mungkin malah banyak yang acuh dan tidak peduli saking banyaknya band baru bermunculan. Nah, inilah pentingnya memberi kesan pertama lewat rilis ini. Saya ingin tegaskan, JANGAN ASAL-ASALAN ketika membuat rilis dan memberikan informasi tentang band kamu kepada media. Kalau sudah asal buat, percayalah “kegagalan” pertama sudah berada di pelupuk mata. Jangan remehkan informasi yang bakal dibaca oleh banyak orang. Kalau kesulitan membuat rilis atau info diri, jangan malu dan segan minta tolong kepada wartawan yang kamu kenal, atau orang yang kamu anggap mampu menulis rilis dengan baik dan benar.

6. KOMUNIKASI & ATTITUDE
Saya tidak pernah merekomendasikan band manapun, untuk melakukan manajemen isu. Sebatas isu bahwa band kamu akan merilis album, silakan saja. Tapi kalau harus “menyewa” artis atau penyanyi yang sudah kondang untuk “ditempelkan” dengan band kamu yang orang tidak tahu, rasanya terlalu berlebihan meski kamu sanggaup membayar artis yang paling ngetop sekalian. Saya meyakini, cara ini memang akan mendongkrak nama, tapi tidak akan pernah mendongkrak karya untuk diapresiasi. Kalau mau terlihat sebagai band yang “bandel, urakan, dan rock n’roll” ya tunjukkan itu dalam ucapan, sikap dan karakter di panggung. Komunikasi dengan audiens, fans, atau media, juga akan berpengaruh pada karir kalian. Kalau masih baru, belum ngetop, sudah belagu atau sok, selesai sudah kalian.

7. Unik & Konsisten
Tidak mudah menjadi trendsetter dan nyempal dari trend atau pakem. Yang ada malah dianggap aneh sama musisi lain. Tapi kekuatan “unik” inilah yang membuat orang menoleh dan memperhatikan. Contohnya White Shoes and The Couple Company. Ketika semua membuat lagu pop dengan cengkok melayu, mereka malah nongol dengan kemasan lawas, baik dari lagu atau dandanan. Dan mereka konsisten. Atau Naif yang selalu tampil dengan karakter 70-annya. Saya percaya, setiap keunikkan itu punya tempat. Tapi bukan berarti kalian harus ikut “nyleneh” tapi jujur dengan keunikkan itu. Oh ya, unik itu tidak harus dari fashion, tapi bisa juga dari karakter personil, aransemen lagu, lirik atau aksi panggung. Jadi tidak usah takut dengan keunikan kalian. Yang penting konsisten.

Semua kiat dan cara di atas tidak akan berjalan kalau band kamu malas untuk belajar dan melakukan inovasi ide. Apalagi kalau sudah masuk label, pasrah kepada untuk urusan promonya. Inovasi, kreativitas dan wawasan menjadi amat penting buat band kalian dan itu harus muncul dari diri kalian. Hmm, kamu tentu tidak mau dianggap sebagai band pemalas bukan?

*ditulis oleh djoko moernantyo, editor in chief kanalmusik.com di Jakarta