…Mengapa sejarah perkembangan musik tidak begitu akrab dengan kita? Tidak banyak musisi yang merasa perlu “belajar” tenteng perkembangan musik Indonesia. Belajar sejarah dianggap sesuatu yang membosankan dan tidak penting. Padahal, ketika kita [saya dan para musisi itu] tahu banyak tentang musik Indonesia, kita bisa menakar, seberapa jauh sebenarnya “kecepatan lari” musik Indonesia dari masa ke masa itu. Generasi sekarang, siapa yang tahu nama-nama seperti Sam Saimun, Waldjinah, Bram Titaley, atau Bing Slamet?

Hampir semua pembicaraan tentang musik Indonesia, masih berkutat pada trend kekinian semata. Kita tidak merasa perlu menengok ke belakang dan berkaca pada lika-liku musisi Indonesia masa lalu. Penulis harus “merayu” banyak pihak, untuk sekedar berdiskusi tentang rentang panjang musik Indonesia. Sangat sulit memang mencari literatur. Mungkin terlalu berlebihan kalau dibilang, seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tapi begitulah adanya.

Sebutlah acara seperti Pemilihan Bintang Radio era 50-an sampai rentang akhir 70-an. Acara ini menjadi barometer munculnya bintang-bintang baru di jagat musik Indonesia. Titik Puspa yang kini melegenda, adalah salah satu jebolan festival seperti ini. Dulu ada nama “jagoan” seriosa bernama Effie Tjoa. Effie adalah seorang penyanyi opera yang juga banyak mencipta kan jenis lagu seriosa. Effie kemudian berganti nama menjadi Gita Dewi. Tentu masih ada nama-nama lain yang bisa disebut, tapi coba tanyakan kepada musisi-musisi sekarang yang sedang naik daun, bisa jadi jawabannya mereka tidak tahu [atau tidak mau tahu].

Tahun 50-an memang banyak didominasi “buaya keroncong” jagoan-jagoan seriosa seperti Sam Saimun, Ade Ticoalu, Dien Yacobus, atau Andi Mulya. Atau ada nama Masnun, seorang penyanyi serba bisa yang mejadi juara nyanyi untuk kategori seriosa, hiburan dan keroncong.

INDUSTRI REKAMAN PERTAMA
Sejarah industri rekaman di Indonesia bisa berawal dari dua tempat: Lokananta di Surakarta dan Irama di Menteng Jakarta. Lokananta milik pemerintah, dan banyak melahirkan lagu-lagu daerah, sementara Irama milik Suyoso Karsono yang akrab dipanggil Mas Yos, banyak melahirkan lagu-lagu hiburan sebutan untuk lagu pop sekarang. Nama-nama Rachmat Kartolo, Nien Lesmana, sampai Patty Sisters pernah rekaman di Irama yang awalnya hanya sebuah studio kecil di sebuah garasi di Menteng, Jakarta Pusat. Peristiwa rekaman itu terjadi di ujung tahun 1950-an hingga memasuki tahun 1960-an. [bersambung]