Pengantar:
Salah satu kelemahan musisi Indonesia adalah dokumentasi yang tidak pernah rapi. Kita biasanya akan kesulitan mencari data-data musisi yang pernah berkibar dan mempengaruhi perjalanan musik [genre apapun] di Indonesia. Penulis bekerjasama dengan Institut Indonesian Music Studies [IIMS], satu lembaga independent yang peduli dengan dokumentasi musik Indonesia, berusaha, meski belum sempurna, merepih keping-keping yang tercecer itu dalam satu tulisan berseri. Semoga bermanfaat.

+++

…Eka Sapta lahir bukan karena Amin Cengli jago bermain musik atau olah vokal. Amin hanya punya kepekaan bisnis saja. Eka Sapta sendiri kemudian berkembang menjadi band yang cukup disegani dan diperhitungkan di era 70-an.

Sukses Eka Sapta membuat Amin mengendus peluang lain, industri rekaman komersil. Amin kemudian mendirikan perusahaan rekaman bernama PT Warung Tinggi. Namanya diambil dari usaha kopi keluarganya. Uniknya, alat-alat rekamannya pun belum punya sendiri dan masih meminjam studio Remaco. Titik Puspa termasuk salah satu artis lawas yang sempat menelorkan album lewat perusahan ini. Rupanya, Amin Cengli memang sudah lama “mengintip” peluang indutri rekaman ini. Tahun 1968-1969, Amin pernah membuat rekaman di Singapura.

Tahun 1968 Amin berkongsi dengan anggota band Eka Sapta –Bing Slamet, Ireng Maulana, Enteng Tanamal dan Idris Sardi– mendirikan PT Metropolitan Studio. Saat itu piringan hitam [PH] sedang tren dan PT Metropolitan Studio berhasil merekam lagu-lagu yang dibawakan band Eka Sapta, Bing Slamet maupun A Riyanto. Sayang, PH ini tergilas format musik baru, yaitu kaset. Para pemilik saham PT Metropolitan enggan meneruskan bisnis PH ini dan melepas sahamnya. Tahun 1971 saham itu dibeli oleh Amin dan berubah menjadi PT Musica Studio’s.

Ketika Remaco mulai memudar dan kemudian ambruk, Musica mulai berkibar kencang, Di tempat ini diterapkan sistem rekam yang banyak mengandalkan insting humanisme. Dengan cara-cara ‘persaudaraan-pertemanan’, banyak sekali artis musisi yang mampu bertahan lama, dikontrak jangka panjang oleh Musica. Sebagai contoh nama Chrisye, lebih dari 80% karier rekamannya yang dimulai dari jaman album solo Sabda Alam [1978] sampai album Badai Pasti Berlalu [1999], direkam sebagian besar di Musica. Sebelumnya, masuk dalam formasi Eros Djarot, Debbie Nasution, Odink, Ronny Harahap, Guruh Soekarno, Gauri Nasution juga Kompiang Raka yang membawa musisi pentatonik Bali.

Chrisye dan Berlian Hutauruk merekam album Guruh Gipsy di studio Tri Angkasa yang hanya 16 tracks di Kebayoran Baru. Rekaman yang disebut terakhir inilah sebenarnya embrio lahirnya album paramusisi ‘gedongan’, yang melahirkan album monumental Badai Pasti Berlalu, juga album Jurang Pemisah yang digarap Jockie Suryoprayogo [1976].

Remaco pernah menjadi perusahaan rekaman ter- besar di Indonesia, dengan akses kuat ke pergaulan di dunia rekaman Internasional, karena pada saat membuat Piringan Hitam [PH], seperti Irama, Lokananta, dan Dimita, Remaco masih memakai perusahan pembuat matris pencetak PH di Singapura.

Di Remaco, lahir nama-nama besar Bimbo, D’Lloyds, The Mercy’s dan kelak Koes Bersaudara yang pada tahun 1967 berubah nama menjadi Koes Plus pun pindah ke tempat ini, karena iming-iming bonus Mercy terbaru untuk komposernya, Tony Koeswoyo. [BERSAMBUNG]