…Hingga akhir 1970-an, musik berkembang di hampir semua jalur. Di jalur pop, kelompok-kelompok musik seperti Koes Plus, Favorite Group, Bimbo, D’Lloyd, The Mercy’s, atau Panbers, tak hanya hadir di panggung, tapi juga mulai eksis di dapur rekaman. Di jalur dangdut, Rhoma Irama mengibarkan Soneta yang menggabungkan irama Melayu dan idiom Deep Purple. Balada dan country pun mulai mendapatkan tenaganya di tangan Yan Hartlan, Dede Haris, atau Iwan Abdurachman. Warna lain, yang memadukan pop dan art rock, lahir dari tangan Eros Djarot atau Guruh Soekarnoputra melalui kelompoknya, Gypsy.

Perubahan paling tajam dirasakan di jalur rock. Godbless, Giant Step, AKA, Rollies, atau SAS adalah beberapa agen perubahan itu. Sayangnya, band-band itu lebih suka menjadi “epigon” dari kelompok musisi asing yang tengah merajai dunia -sejak Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, Rolling Stones, hingga The Beatles. Bisa dipahami kalau industri rekaman, yang mulai bermunculan saat itu, memunggungi mereka, dianggap tidak punya ciri. Kalau pun toh nekat rekaman, band-band rock itu harus rela memakai “topeng” di genre lain. Bayangkan, sekelas AKA pernah menelorkan album melayu. Padahal siapapun tahu, AKA dikenal dengan aksi panggung gila-gilaan dan mengusung musik rock. Kabarnya, band-band rock itu memang “menjual diri” lewat panggung.

Energi industri rekaman agaknya lebih bertumpu pada usaha mereproduksi lagu-lagu mancanegara, yang praktis tidak perlu mengeluarkan biaya royalti atau hak cipta.

Data Base, Ribetnya Mencari Referensi
Betapa menyenangkan ketika saya –generasi yang lahir di era 70an—kemudian mendapatkan data-data musisi atau apapun tentang musik Indonesia dengan lengkap dan detil. Apalagi kalau itu bisa kita dapatkan dengan mudah. Sayangnya, harapan saya –mungkin juga harapan banyak pecinta musik—sampai saat ini masih menjadi mimpi. Mengapa?

Konon, data base apapun di Indonesia, termasuk salah satu yang paling ribet dan “tidak rapi” secara pendokumentasiannya. Entah karena malas, tidak sempat, atau memang tidak dianggap penting sebelumnya. Alhasil, mencari informasi musikal di Indonesia ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Paling mudah kalau pelaku sejarahnya masih hidup, bisa kita wawancara dan dokumentasikan. Tapi untuk mereka yang sudah meninggal tanpa sempat meninggalkan doumentasi yang lengkap, paling-paling kita berpaling kepada orang-orang dekat atau keluarganya. Sebuah proses yang “tidak nyaman” dan “tidak memudahkan”…

*dirangkum dari berbagai sumber oleh djoko moernantyo, editor in chief kanalmusik.com di jakarta