PERKEMBANGAN industri musik belakangan memang makin menggila. Konser dan festival–festival besar juga makin marak. Yang menarik, mulai ada focusing dalam penyelenggaraan konser dan festival tersebut. Rock, HipHop, Blues, Jazz atau Underground, semua mendapat tempat yang layak di musik Indonesia. Hal itu tentu membuat media yang biasa meliput musik menemukan “oase” segar. Banyak hal menarik yang bisa diliput dan ditulis.

SAYANGNYA, ada beberapa keluhan dari musisi yang sampai ke telinga penulis, kualitas tulisan wartawan yang meliput musik tidak makin membaik, tapi makin “kejar tayang” semata. Itu berlaku untuk semua media cetak, televisi, dan online. Makin kurang tulisan yang indepth tentang musik dan makin kurang wartawan yang mau repot belajar tentang hal-hal di belakang industry musik itu sendiri. Semuanya mengejar deadline. Yang ada, kualitas tulisannya hanya sebatas reportase. Tidak ada jurnalis yang kuat [apalagi kemudian menjadi spesialis] di musik.

Kalau kemudian ada beberapa media musik [dan memang mengkhususnya diri di musik] yang cukup berbobot, penulisnya pun tetap harus belajar dan menggali informasi tentang industry dari semua lini. Saya pribadi tidak bisa menyalahkan industry media yang membuat jurnalis tidak bisa memfokuskan diri pada penulisan musik yang berkualitas dan berbobot. Ada beberapa hal yang membuat jurnalis akhirnya menjadi sekadar jurnalis, tanpa bekal yang cukup untuk mengeksplorasi wawasan musikalnya.

Musisi yang menjadi jurnalis pun sebenarnya tidak sedikit. Artinya secara wawasan dan pengetahuan soal musik, harusnya lebih baik dibanding jurnalis yang bukan musisi. Sayangnya, ternyata tidak selalu begitu. Banyak musisi yang “fanatic” dengan genre-nya sendiri. Alhasil, tulisan yang dihasilkannya pun tidak terlalu menonjol. Tulisan-tulisan tentang musik kedodoran. Wartawan memang bukan seniman, bukan pemusik, tapi dia diharapkan mendekatkan seniman dan masyarakat. Harus berusaha, belajar, untuk meningkatkan mutu liputan.

Malas Ke Lepangan
Dunia internet memang menguntungkan. Bahan tulisan apapun bisa kita dapatkan tanpa harus berkeringan berburu narasumber dan menikmati pengalaman di lapangan. Saya ingat ketika kuliah filsafat dulu, wartawan itu profesi “kaki” kata seorang Sindhunata, penulis senior di Kompas. Awalnya, kita masih bingung dengan ungkapan itu, tapi akhirnya terjun sebagi wartawan, ungkapan itu menjadi benar.

Pengalaman di lapangan itulah yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Bagaimana kita bisa menulis tentang dahsyatnya konser Slank, kalau kita tidak melihat konsernya, mendengar sound-systemnya, ngobrol dengan personilnya, atau melihat antusiasme penonton atau fans-nya.

Buat wartawan yang “malas” berkeringat, menelpon panitia, manajer band, kemudian meminta data sekunder, seperrti bagaimana suasana konser, jumlah tiket yang terjual, listing lagu-lagunya, dan sedikit ngobrol dengan band [kalau sempat], akan memudahkan. Tidak usah repot-repot ke lapangan ah. Percayalah, tulisan si wartawan itu akan garing dan tidak bernyawa. Apalagi kalau si penulis tidak kenal atau tidak tahu sama sekali tentang musisi yang ditulisnya, redaktur [yang ngerti musik pastinya], bakal jungkir balik mengedit dan mereparasi tulisan itu. Artinya, apresiasi terhadap acaranya sendiri bakal mentah.

Kloning Berita
Ini yang sedang ngetrend sekarang. Istilahnya cloning berita. Jurnalis tidak usah datang ke sebuah acara konser, karena ada jurnalis lain yang mau berbagi informasi tentang acara itu. Salahkah? Tentu saja tidak, karena mungkin jurnalis itu ada acara lain yang harus diliputnya juga. Tapi saya ingin mengatakan, bagaimana dengan ruh dari tulisan itu. Hal yang sering terjadi adalah erosi fakta. Karena diburu deadline, kesalahan informasi soal nama, list lagu, atau kejadian menarik yang terjadi, kerap terjadi. Yang ada, diketawain.

Berita Akal-Akalan
Perhatikan betul ketika Anda membaca berita liputan tentang konser musik yang Anda tonton juga. Perhatikan detilnya. Apakah urutannya sama, kostumnya benar, atau crowd-nya juga tidak melenceng penggambarannya? Ini biasanya jurnalis yang dikejar deadline mepet, tapi tidak datang ke acara tersebut. Yang ada, Para artis diminta memainkan satu lagu, beraksi di panggung, lantas dipotret. Hasil wawancara siang ini kemudian ditulis dan keluar di koran besok. So, jangan kaget kalau penggambaran si artis di konser yang sesungguhnya, berbeda dengan tulisan di media. Lah wong akal-akalan ¬kok.

Minim Wawasan Musikal
Coba perhatikan, apakah ada wartawan yang spesialis meliput [dan menulis] tentang rock? Jazz? Dangdut, atau klasik? Kalau pun toh ada, jumlahnya tidak ekuivalen dengan musik itu sendiri. Yang ada adalah wartawan apa saja. Dia bisa meliput musik, criminal, atau ekonomi. Jadi, jangan tanya soal wawasan musikal, selama orangnya tidak mau berusaha mencari tahu dari sumber-sumber lain yang kompeten, entah lisan entah literatur.

Selain itu, keinginan untuk belajar dan mengenal musik lebih komplet, tampaknya belum begitu menjalar. Cukup kenal musisinya, akrab dengan label, rasanya cukup. Tapi pernahkah wartawan itu mencoba tahu arti produser, music director, ring back tone, A&R, atau peran label. Saya yakin tidak banyak yang cukup punya bekal untuk itu.

Bisa memainkan musik akan lebih membantu, tapi kalo pun tidak bisa juga bisa belajar istilah musik dan industrinya dari literature. Semua cara bisa dipakai untuk menambah wawasan dan eksplorasi diri dengan maksimal. So, diharapkan hasil tulisannya juga jauh lebih bagus dan menarik, serta memberi pencerahan yang dibutuhkan.

Malas Bertanya & Budaya Instan
Mbah Google memang sudah seperti Tuhan, menyediakan semua jawaban atas pertanyaan kita. Hal itulah yang membuat banyak manusia begitu tergantung dan menggantungkan diri kepadanya. Tak terkecuali wartawan musik. Berkenalan secara personal dengan musisi, melihat mereka rekaman, nongkrong bareng dan sharing, akan membuat wartawan itu punya kepekaan dan bekal untuk menulis dari sudut pandang yang berbeda. Kalau sekarang, acaranya belum diadakan, wartawan sudah punya template tulisan, tinggal mengubah tanggal dan nama musisi yang konser. Ibarat tubuh, tulisan itu tidak berdaging. Nggak ada rasa. Lah gimana tuh?

Wartawan sekarang juga paling malas bertanya secara kritis. Bergantung kepada press release yang dibuat oleh humas atau labelnya. Poles sana-sini, sedikit kutipan kalimat langsung, jadilah reportase. Malah tidak sedikit, wartawan yang bener-bener ambil utuh rilis yang dibagikan. Giliran ada tanya jawab, semua diam dengan alasan nanti saja kalau one on one wawancara.

Perpindahan Liputan

Ini paling repot. Ketika si wartawan sudah mulai mendalami musisi dan industry musiknya, dia harus menerima nasib dipindah ke desk lain. Misalnya dari hiburan, kudu pindah ke criminal, politik atau ekonomi. Jadi agak repot menyesuaikan diri lagi. Meski alasannya adalah “supaya bisa tahu semua bidang liputan’, tapi tetap saja membuat di jurnalis ini kerepotan memantapkan dirinya di bidang yang diinginkannya. Ini biasanya dialami wartawan harian atau majalah berita. Beruntunglah wartawan yang bekerja di media spesialis, karena biasanya lebih focus

+++

Tulisan ini adalah otokritik untuk kita, yang menyebut dirinya wartawan musik, peliput musik, atau ditugaskan di desk musik. Banyak yang potensial menjadi jurnalis musik handal, tapi tergantung kemauan untuk mengembangkan diri dan memahami bahwa industry musik, tidak hanya soal mencipta lagu dan menyanyi, tapi banyak aspek yang bisa dieksplorasi. Semoga bermanfaat dan membuat dunia musik makin mudah dimengerti lewat tulisan-tulisan yang menarik dan mencerahkan.

*ditulis oleh djoko moernantyo, editor in chief kanalmusik.com Jakarta, merupakan pendapat dan riset pribadi