Dimana orang gampang mendapat julukan artis? Di Negeri bernama Indonesia. Asal kamu pernah nongol di satu sinetron, apalagi dapat peran utama, cap artis akan langsung menancap [cukup lama biasanya].  Salahkah?

Tentu saja tidak, selama itu diimbangi dengan karya-karya berikutnya yang seharusnya makin membaik. Tapi di Indonesia cukup unik. Cap artis itu akan terus mengikuti meski kemudian si “artis” tadi cukup lama menghilang dari dunia selebritis. Noktah artis itu akan tetap menjadi trademark, meski kemudian si “artis” tadi tak pernah berkarya yang lebih baik dan kemudian malah banting setir ke dunia yang berbeda dengan keartisan.

Dunia artis sering dipahami sebagai dunia yang penuh gemerlap. Tampaknya selalu “berkelas” dan ”serba mahal” lantaran mereka-mereka yang disebut “artis” tadi memposisikan diri sebagai pemilik kelas dan kemahalan tadi. “Tidak lucu dongkalaupublik figur tampil seadanya.” Begitu biasanya mereka berkilah. Salah? Sekali lagi, tidak ada yang melarang. Mau pamer cincin, gelang, kalung berentet, mobil paling mewah, sah-sah saja. Asal, semua itu didapat dengan karya apik yang membuat cap keartisan itu memang layak didapatkan.

Julukan artis juga bisa didapat ketika “artis” tersebut menjadi pemberitaan di televisi atau media cetak secara bertubi-tubi. Entah soal karya-karya glamoritasnya atau yang paling sering adalah settingan kasus yang diekspose habis-habisan. Bisa perceraian, perselingkuhan, konflik keluarga atau konflik sesama “artis” tadi. Dan ketika pemberitaan mereda, orang-orang yang terlibat itu tiba-tiba menjadi selebritas baru dan jadlah mereka ditahbis sebaga “artis”. Gampang bukan? Tak cuma sinetron loh, musisi atau anak band pun kerap dianalaogikan sebagai artis sekarang. Entah mana yang lebih penting, menjadi musisi itu

Penulis menawarkan sebuah “revolusi keartisan” yang cukup radikal.  Untuk bisa disebut artis, selebritis, atau publik figur,  perlu satu karya yang progresif dan revolusioner dan bisa membawa pengaruh yang luas. Tak selalu pengaruh positif memang, tapi  engaruh itu benar-benar bisa perubahan pola pikir, pola hidup dan cara pandangan penggemarnya mungkin.

Beken? Ngetop? Jadilah Artis. Bintang Sinetron misalnya. Untuk mendapat “gelar” artis, dia harus bisa mempunyai kualitas akting yang kuat. Tak cuma karena dia ganteng, cantik dan berwajah indo. Begitu pula, bintang flm layar lebar.  Dia harus menunjukkan kekuatan akting yang yang tidak biasa-biasa saja ditopang dengan attitudeI yang baik pula. Dia harus bisa membuktikan, karya-karya mereka selanjutnya [kalau cuma main di satu film atau sinetron, tampaknya belum pantas disebut artis] punya kemampuan yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Revolusi lain adalah, untuk mereka-mereka yang tidak punya karya apa-apa tapi sering muncul di acara hiburan [oleh rekan-rekan wartawan sering disebut ‘banci tampil” –red], jangan pernah disebut artis. Kadang-kadang beban sebagai artis itulah yang membuat mereka “melakukan segala cara” supaya tetap disebut dan berada dilingkungan keartisan.

Resiko ‘revolusi keartisan” ini adalah, kita hanya akan punya sedikit artis saja. Selebihnya, ya figuran-figuran dunia hiburan yang numpang lewat saja.  Tapi dari yang sedikit itu, ada kualitas dan karya yang bisa dibanggakan. Berani? Dan tentu saja infotainment bisa bangkrut, lantaran gosip artisnya hanya itu-itu saja. Bagaimana?