DANGDUT! MUSIK dangdut memang belum dapat diterima masyarakat luas. Ia masih dianggap konsumsi menengah ke bawah. Maka, dangdut masuk kampus adalah terobosan baru untuk mempublikasikan dangdut di kalangan intelektual dan mengemasnya menjadi sajian yang patut disejajarkan dengan aliran musik lain.

Bicara musik dangdut, seolah sama saja bicara dengan “sampah” atau “kasta” yang lebih rendah. Musik dangdut meski sudah masuk ke strata sosial yang lebih tinggi, tetap saja dianggap sebagai musik kampungan yang hina dina. Sampai sekarang, dangdut menjadi pelekat justru di level grass root. Meski banyak pejabat yang mengundang penyanyi dangdut ke tataran pentas papan atas, tapi dangdut masih menjadi ajang yang dipandang sebelah mata.

PADA zaman gelap di Eropa dulu, gereja menganggap dirinya punya otoritas untuk menghukum–sebagian dengan cara disalib dan dibakar hidup-hidup– orang-orang yang dianggap melakukan tindakan melawan ajaran gereja –kalau menurut bahasa Rhoma Irama yang ditujukan kepada Inul adalah: haram, najis, dan mesti dilawan dengan jihad.

Tidak sedikit perempuan yang menjadi korban, justru karena perempuan mudah dituduh melakukan praktik sihir. Itu karena posisi mereka lemah secara sosial, kultural, moral! Dan sekarang zaman itu diejawantahkan oleh Rhoma Irama, raja dangdut Indonesia.

Pada masa Orde Baru, otoritas dipegang satu tangan. Benar atau salah, baik atau buruk, indah atau tidak indah, semua ditentukan oleh negara yang diejawantahkan oleh Pak Harto. Istilah populernya waktu itu state versus civil society.

Para seniman kreatif sadar bahwa kualitas karyanya tergantung betul pada kebebasan berusaha agar tidak ada penindasan terhadap kreativitas ini. Tetapi setelah otoritas Pak Harto tergeser oleh reformasi, justru muncul otoritas-otoritas partikelir –yang tak lebih dari preman-preman– termasuk tentara dan polisi swasta. Rhoma Irama mengejawantahkan otoritas partikelir ini yang terancam oleh anak lugu yang mencari nafkah dengan menyanyi dan menari dari desa pesisiran Pasuruan: Inul Daratista! Mengatasnamakan moral bangsa, terjadilah penindasan terhadap kebebasan kreativitas.

Pendapat-pendapat di atas dipaparkan oleh budayawan-budayawan kontang Indonesia yang getol menyoroti dangdut. Banyak alasan mengapa dangdut yang pernah disebut sebagai “musik comberan” [dibanding musik rock misalnya –red]. Goyangnya yang seronok, kostumnya yang norak, sampai lirik lagunya yang tidak edukatif [yang edukatf itu gimana sih?]. Tapi dangdut juga menjadi “objek” partai-partai ketika masa orde baru sampai sekarang untuk menyedot massa ketika massa kampanye. Dangdut juga “mau tidak mau” menjadi “sahabat” wong cilik yang notabene memang tidak tinggal di kampung dan gang sempit.

Sebenarnya, musik dangdut adalah musik yang mempunyai kelebihan tersendiri baik itu irama, syair maupun lagu dibandingkan dengan jenis musik lainnya. Musik dangdut yang selalu dianggap musik kampungan dan kuno oleh sebagian remaja dilingkungan musik tertentu yang identik sebagai musik untuk golongan ekonomi menengah kebawah. Sebenarnya hal ini tidak benar, karena sudah banyak televsi stasiun swasta yang menayangkan acara musik dangdut dengan porsi yang luar biasa dan diminati oleh berbagai macam golongan masyarakat.

Ada mitos bahwa musik dangdut adalah milik rakyat kalangan bawah. Bisa jadi lantaran kebanyakan orang desa lebih suka membeli kaset dangdut ketimbang kaset musik Barat yang digandrungi anak kota. Banyak yang ‘alergi’ dengan lagu-lagu dangdut. Dangdut kerap diidentikkan dengan musik yang kurang elit, kampungan, bahkan seronok. Tapi beberapa tahun lalu mendadak orang terperangah ketika para bapak-bapak menteri itu asyik berdangdut ria. Pelopornya, Wakil Gubernur DKI Jakarta [ketika itu] Basofi Sudirman. Orang pun mengira musik ini sudah naik derajat.

Lalu bagaimana seharusnya posisi dangdut? Sebagai bagian dari insan musik di Indonesia, dangdut harus mendapat posisi yang sejajar dengan musik lain. Jazz, rock, pop, atau blues tidak lebih tinggi dibanding dangdut. Persoalan-persoalan internal dangdut pun harus segera dibenahi. Persoalan goyang dan kostum yang sering jadi masalah, menurut penulis justru harus diolah dengan lebih baik. Dangdut tanpa goyang memang seperti sayur tanpa garam. Kreativitas goyang itulah yang penting.

Dangdut memang bukan musik kampungan! Yang membuatnya kampungan justru stigma-stigma bahwa pentas dangdut selalu diakhiri dengan kekerasan dan keributan. Hal-hal buruk seperti itulah yang harusnya mulai dikikis. Dangdut bisa kok jadi pembawa damai juga. Jadi, ayo mulai bergoyaaaaang….