Paruh pertama 1970. Malcom McLaren pulang ke London setelah gagal bisnis di New York. Bersama istrinya, Vivienne Westwood, McLaren membuka gerai busana “Let It Rock” di Kings Road. T-Shirts dan pelbagai aksesori untuk kaum underground jadi mata dagangan mereka.

Banyak yang datang ke sana, terutama anak muda. Salah seorang pelanggan di antaranya Steve Jones, gitaris band sekolahan The Strand, yang dibentuknya pada 1972 bersama drummer Paul Cook.

Kepada McLaren, Jones bilang ingin membuat grup musik dan minta dicarikan orang. Jones perlu pencabik bas dan vokalis. Tak sulit bagi McLaren. Ia menemukan Glen Matlock. Tinggal seorang vokalis. Tapi ini pun bukan perkara berat. McLaren mendapati John Lydon, seorang pelanggan lain yang sering ngoceh tak karu-karuan. Lydon tak suka pemerintah.

Ketika diajak bergabung, Lydon mengiya. Ia pun tak keberatan ketika McLaren menawarkan nama baru “Johnny Rotten.” Pekerjaan berikutnya mencari nama kelompok. McLaren ingat slogan di sebuah T-shirts yang bertuliskan “Sex Pistols.” Tak mau pusing, mereka menerima nama itu.

Nopember 1975. Di St. Martins College, untuk pertama kalinya Sex Pistols manggung. Bukan band utama. Mereka cuma sisipan di antara nama-nama besar, termasuk Adam Ant. Sambutan publik luar biasa. “Punk rock”, demikian Pistols menyebut aliran musiknya, mulai dikenal dan berkaki.

Berbagai panggung mereka jelajahi, termasuk Mont De Marson Punk Festival di Prancis. Namun, titik sukses mereka sepertinya berawal dari klub100 saat berlangsung Punk Festival pada September 1976, yang ditonton juga oleh para pemandu bakat dari perusahaan rekaman raksasa. Di sana, mereka sepanggung dengan supergrup Siouxsie & The Banshees, dengan drummer terkenal Sid Vicious, nama top dari John Simon Ritchie. Kelak, Sid jadi bassist Sex Pistols.

Sukses di situ mengantarkan Sex Pistols ke dapur rekaman di bawah bendera EMI, sebuah raksasa industri rekaman dunia. Oktober tahun yang sama, single pertama mereka kelar dengan judul seram: Anarchy In The UK. London berguncang. Publik menyebut mereka “anak-anak setan” lantaran lirik lagu mereka yang terang-terangan mengaku anti-Kristus, seraya memuja anarkisme. “…And I wanna be an anarchist/Get pissed/Destroy!”

Untuk mempertahankan momentum, McLaren menghubungi Bill Grundy, pengasuh program acara televisi “Today.” Dasar Grundy, ia memprovokasi Sex Pistols untuk melontarkan kata-kata kotor. Dan berhasil. Lengkap sudah identitas Sex Pistols sebagai perusak norma.

Maret 1977, mereka meluncurkan single berikutnya, God Save The Queen. Usaha untuk mendapat simpati kerajaan? Hehe..jauh. Jauh banget. Justru sebaliknya, inilah ekspos mereka yang paling verbal untuk mencaci-maki kerajaan. Lihat saja bagaimana Jamie Reid mendesain kaver single itu. Wajah sang Ratu ditampilkan dalam dandanan punk, lengkap dengan tindikan pin di hidungnya. Jangan tanya liriknya. “God save the queen/Her fascist regime/It made you a moron/A potential H bomb…” Duh, maknyak!

Kena batunya, God Save The Queen dilarang dinyanyikan di seluruh Inggris Raya. “Sex Pistols adalah symptom kemunduran masyarakat. It could have a shocking effect on young people,” kementerian pendidikan Inggris menyalak keras. “I will do everything in my power to stop them appearing here again,” timpal ketua Dewan Kesenian London. BBC mencoba mencari tahu lebih dalam dengan mengundang mereka. Sex Pistols menyambut.

Kehadiran Sex Pistols di BBC mengundang kecaman. Kali ini, makian justru datang dari komunitas punk. Di mata mereka, tindakan Sex Pistols telah ikut memperkeras guncangan terhadap subkultur punk. Ini karena, BBC dianggap sebagai representasi simbol-simbol pemerintah, yang selama ini mereka kecam.

Guncangan sebelumnya datang dari grup musik punk rock lain, Ramones. Pada 1976, Ramones merilis lagu Now I Wanna Sniff Some Glue, dengan menambahkan elemen pop. Di tahun 1979, Buzzcocks dianggap berbuat sama ketika merilis lagu Orgasm Addict.

Buat mereka yang fanatik, punk adalah secret society. Kemunculan mereka di masyarakat umum sekadar untuk menunjukkan bahwa mereka ada. Mereka tak merasa perlu untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

Dalam pandangan mereka, kehadirannya di muka bumi lebih sebagai akibat berbagai kekeliruan orang tua. Karenanya, jika pertanggung-jawaban diperlukan, kaum tua itulah yang mestinya ditanyai. Berangkat dari sana, Sex Pistols dianggap telah menghancurkan jatidiri punk. “Punk is dead,” teriak mereka.

Punk telah mati? Benarkah? Seperti apa sebenarnya mereka membayangkan Punk? Apakah hanya mereka bertiga yang dianggap mewakili punk? Bukankah punk tak semata rock, tapi juga pop, fashion, bahkan seni rupa seperti diekspresikan Jean-Michel Basquiat di tahun 1980-an dengan gerakan Neo-Primitif-nya yang terkenal itu? Siapa sebenarnya yang layak menyandang punk? Rentetan pertanyaan itu bukan perkara mudah untuk dijawab. Lumrah kalau hingga kini ihwal punk masih menyisakan perdebatan.

Salah satu cara untuk memahami punk adalah dengan menelusuri riwayat kelahirannya. Dan ini dia, punk memang bukan semata rock, tapi sikap hidup yang lebih luas. Atau, jangan-jangan hidup tanpa sikap, sebagaimana ledekan Cosmo Landesman dalam The Revival of English Pride yang mencap mereka, “utopis”? Entahlah.

Tapi, sejatinya embrio punk berasal dari hidup yang serba gamang. Saat itu, banyak anak muda yang dilahirkan tanpa ayah karena meninggal dalam Perang Dunia II. Tahun 1960-an mereka jadi remaja, dan tiba-tiba saja mereka merasakan betapa susahnya hidup. Mereka menyalahkan pemerintah yang telah menggiring ayah-ayah mereka ke medan perang. Di Amerika, situasi diperkeruh lagi oleh perang-perang baru, taruhlah Perang Vietnam.

Situasi itu menumbuhkan generasi bunga (flower generation). Kerja mereka berdemonstrasi di jalanan, dengan membagi-bagikan bunga, dan berbusana motif bunga. Momentum ini menandai kelahiran kaum hippies.

Ketika protes menemui jalan buntu, mereka tenggelam dalam kesendirian, apatisme. Gaya hidup hippies merebak dengan cepat dan membawa nilai-nilai baru: antimiliter, antiperang, antigereja, dan beragam anti-anti lain, tak terkecuali anti-norma seks puritan.

Merebaknya gaya hidup hippies ditandai oleh anak-anak berbusana skater yaitu memakai celana berpipa ekstra lebar dengan motif menyala, mengenakan manik-manik, sandal, jaket, atau mantel bulu. Bertolak belakang dari raut wajah militer, mereka membiarkan rambutnya panjang tergerai. Sebagian di antaranya memelihara kumis dan jenggot. Mereka pun dekat dengan segala jenis madat, mulai heroin sampai ganja.

Kecenderungan hidup semacam itu menimbulkan reaksi kaum muda lain. Muncul generasi baru: skinhead. Kepala mereka botak, atau sedikitnya cepak, bercelana jins pudar yang digulung sampai mata kaki hingga sepatu larsnya kelihatan. Di dalam benak mereka, tertanam prasangka bahwa gaya hippies telah membawa masyarakat pada sikap pasif.

Permusuhan skinhead dan hippies berlangsung, dan memasuki tempo tinggi menjelang paruh akhir 1960-an. Yang menarik, mereka sama-sama anti-kemapanan. Kaum muda Inggris, yang juga anti-kemapanan, melihat kekonyolan itu. Entah hendak memberikan teladan bahwa rambut panjang dan botak bisa berdamai atau sekadar ingin punya gaya lain, mereka ramai-ramai mencukur rambut. Tak sampai gundul habis, di tengah-tengahnya disisakan jambul, yang mereka sebut mohawk, atau kadang disebut gaya mohican.

Sebagian lagi, ini yang lebih umum, untuk mereka yang enggan memotong rambut, menatanya dalam spike-top, gaya rambut berduri-duri. Sementara perempuan punk lebih suka menata rambut mereka dalam gaya warna-warni—yang umumnya cerah: hijau muda, kuning, ungu, merah muda.

Awal 1970-an, punk meluas ke seantero Inggris, dengan dandanan semakin lengkap. Yang paling top tentu saja peniti cantel (safety pins) yang ditusukkan ke daun telinga, hidung, atau malah pipi. Celana jins dibiarkan menjurai apa adanya, tapi mereka menyobek beberapa bagian. Untuk mendapatkan efek fashion, mereka kadang-kadang mengenakan rantai atau kalung anjing, salib, bahkan swastika Nazi.

Dandanan yang memedihkan mata itu mengundang banyak cemoohan. Mereka dituding anti-fashion. Dan, di luar dugaan, orang-orang punk menerima tudingan itu dengan gegap-gempita. Bagi mereka, lebih baik dituding demikian ketimbang diri mereka terseret-seret oleh selera umum. Bagi mereka, dalam fashion atau apapun, kemandirian jadi kata kunci. Do-it-yourself, itulah slogan mereka yang paling terkenal.

Untuk memastikan tak ketinggalan informasi, mereka bertukar cerita dan pengalaman lewat media-media underground. Majalah Sniffin Glue boleh disebut sebagai salah satu media paling berpengaruh dalam komunitas mereka. Media-media sejenis ikut menyebarkan wabah punk ke seantero dunia.

Apa yang mereka maksud dengan punk, mungkin susah untuk dicarikan padanannya dalam kamus, yang hanya mengartikan “anak muda tak berpengalaman.” Punk memang istilah slang untuk “penjahat atau perusak” dan karenanya salam sapa mereka acap diawali dan diakhiri “destroy!”. Bahkan tak kurang wartawan musik BBC sekaliber Bill Brewster ikut-ikutan meneriakkan kata itu.

Terlihat dengan jelas, bahwa punk bukan semata rock. Sekiranya rock dianggap mewakili punk, ada banyak kelompok musik lain yang masih tetap berjalan di jalurnya. Mulai The Adverts, The Undertones, Generation X, The Fall, The Damned, Joan Jett, Husker Du, Black Flag, The Police, sampai The Clash.

Ketika Sex Pistols reuni pada 1996—setelah bubar di tahun 1979, menyusul tewasnya Sid Vicious akibat overdosis—album mereka Filthy Lucre Live masih dianggap sebagai representasi punk. Film dokumentasi The Filth & the Fury yang dibuat Julien Temple pada 2000 lalu, pun masih menyebut musik mereka sebagai kelompok punk. Atau, kematian Dee Dee—nama populer untuk Douglas Colvin, pemberi ruh pada Ramones—pada 2002 kemarin, masih dikait-kaitkan sebagai “kehilangan besar bagi komunitas punk dunia.”

Saya pikir, punk memang belum mati. Lebih-lebih dalam fashion. Setidaknya, punk menjadi semacam romantisme yang memacu berkembangnya rancangan-rancangan alegoris, baik dalam gaya gothic atau new romantic. Perhatikan Madonna. Ketika punk dianggap habis, Madonna tampil dalam aksen punk; taruhlah ketika Konser Blond Ambition Tour 1990. Di sana, ia mengenakan bra kulit yang ujungnya diruncingkan. Sekali waktu, si nakal Jean Paul Gaultier mendandani Madonna dalam busana jaring ala goths, rambut berwana, lengkap bibir merah merekah—khas busana punk perempuan di masa awal kemunculannya.

Di belahan lain, ekshibisi mode sepanjang awal tahun 2000 memamerkan punk tanpa harus membawakan pesan-pesan kebencian dan arogansi. Mereka menyebutnya sweet punk. Dalam terminologi ini, rantai anjing, peniti dan kunci gembok, tak lagi pakem. Kalau pun harus dihadirkan, elemen-elemen tersebut tak perlu harus berbahan besi dan baja, tapi cukup imitasi plastik sekadar untuk memberi aksen.

Berkhianat atau tidak, itulah yang dimanifestasikan perancang-perancang ternama dalam berbagai medium, sejak produk barang kulit Narciso Rodriguez untuk Loewe sampai jaket terbalik John Galliano untuk Christian Dior. Mereka melestarikan punk dalam kosmologi yang mereka yakini. Punk ditampilkan lebih modis, lebih manis, minus sumpah-serapah.

Di belahan lain, sweet punk pun mewujud pada dandanan adrogini seperti diperlihatkan David Bowie atau Culture Club. Nada dasarnya, sambil menentang kemapanan, mereka berusaha untuk meyakinkan dunia bahwa apa yang digunakan perempuan bisa dipakai laki-laki. Gaya glam lahir di sini, bersamaan dengan bermetamorfosanya musik punk ke dalam pop, yang kemudian dikenal sebagai new wave.

Punk di masa ini lebih pantas diartikan sebagai sikap untuk tak bergantung pada siapa pun, dan membiarkan dirinya bebas lepas. Tak tertutup kemungkinan, mereka berulah-sikap seperti pendahulunya, yang terkadang salah dalam cara, namun benar dalam inti. Kalau mau lebih konkret Anda bisa menyimak si empunya punk Johnny Rotten yang mencoba menyampaikan isi hatinya, tapi terpleset dari grammar: “It’s all about being yourself. Be a … individual.”

*Artikel Ini Bagian dari Artikel CulTure Street, Dimuat DI JUICE Magz Edisi September 2005