BERITA –bukan sekadar isu—perpindahan agama public figure, selalu menarik perhatian. Belum lagi kasak-kusuk di belakangnya, yang kadang lebih heboh ketimbang “pencerahan spiritualitas” pelakunya. Kini, Lukman Sardi, aktor kelas Piala Citra itu, lagi “dibedah” dari semua lini, ketika menyatakan diri masuk agama Kristen. Media memang “bahagia” ketika ranah privat manusia dengan penciptanya bisa dikupas tuntas, seolah mereka adalah Tuhan yang berhak memberi penghakiman.

jurnalisme sektarian itu bahaya!
jurnalisme sektarian itu bahaya!

ANDA mungkin sekarang sedang aktif membaca berita Lukman Sardi itu. Mungkin mendengar presenter  infotainment akan bertutur lengkap dengan penjelasan dari A sampai Z? Apa yang Anda rasakan? Kegembiraan karena seorang publik figur pindah agama sama dengan Anda? Ikut menghujat karena pindah agama yang berbeda dengan Anda?

Berita-berita di atas disampaikan dan ditulis bukan oleh media yang mengkhususkan diri pada agama tertentu [meski media-media khusus itu biasanya juga mengulas panjang lebar]. Media-media itu media sekuler yang ditonton oleh kalangan heterogen. Media-media itu menampilkan audio dan visual, yang bisa menimbulkan banyak interpretasi. Apalagi diimbuhi pendapat tokoh agama atau yang ditokohkan untuk sekadar mencari pembanding.

Media –tanpa menyebut satu media tertentu— begitu bangga memberitakan soal keributan keluarga yang –konon— salah satu alasannya adalah si artis pindah agama. Media begitu bangga menulis panjang lebar  tentang perasaan “nyaman” si artis setelah pindah agama [dengan embel-embel dibanding agama terdahulu]. Media begitu bersorak ketika seorang artis menemukan pencerahan  dan masuk agama tertentu.

Apakah salah jurnalisme –yang penulis sebut jurnalisme sektarian—seperti itu?  Lantas bagaimana dengan media yang jelas-jelas menjurus ke arah sektarianisme?

Menurut hemat saya, informasi-informasi sektarian seperti itu sepantasnya diletakkan dalam porsi yang tidak terlalu mencorong. Bukan persoalan agamanya yang penting, tapi persoalan kehidupan yang bisa dilihat [karena yang tidak bisa dilihat, sudah masuk urusan privat] yang seharusnya menjadi pertimbangan.

Meskipun kata “agama” sering didefinsikan secara berbeda-beda oleh para ahli, penulis cenderung menerima kata ini sebagai istilah praktis yang bisa kita pakai untuk menyebut sistem kepercayaan manapun, entah Islam, Kristen, Budha, Hindu, bahkan yang tak beragama sekalipun. Kita sedikit “melambung”  ketika disebut_sebut nyaris semua agama melahirkan peradaban besar. Fatal yang menyebut hanya Islam yang melahirkan peradaban besar! Fatal pula hanya Kristen yang menciptakan quantum leap peradaban!  Fatal juga ketika ada klaim Hindu dan Budha-lah yang sebenarnya melahirkan peradaban itu.

Beragama [atau tidak] itu bukan urusan wartawan, bahkan bukan urusan negara sekalipun. Pilihan itu benar-benar murni dari hati! Bukan karena disodori jabatan, sandang pangan, atau bahkan ancaman kekerasan yang sering kita lihat di negeri ini. Saya bukan ahli agama, tapi soal memilh agama, yang saya tahu bukan karena “desakan” manusia lainnya, tapi desakan nuraninya sendiri. Apapun pilihannya.

Lalu bagaimana wartawan memaparkan kebebasan idealnya tanpa menjadi ‘kompor’ pertentangan secara tidak langsung? Buang, pandangan-pandangan picik dan kegembiraan ‘berlebihan’ dalam pemberitaan artis atau public figure yang pindah agama.  Wartawan jangan jadi hakim moral dan merasa berhak mencampuri pilihan seseorang.

Wartawan harus punya kesadaran individual yang paling dalam tentang pilihan religiusitas seseorang.  Wartawan harus pandai mencermati “fatwa-fatwa” atau “surat gembala”  yang sebenarnya bisa dikritisi lebih baik.  Ketika kita menerima segala sesuatunya mentah-mentah –meski kadang-kadang diembeli ayat-ayat pendukung—sebenarnya kita menjadi “katak dalam tempurung” yang tak bisa melihat dunia lebih lebih luas dan lapang.

Saya menentang jurnalisme sektarian seperti itu…