Pencitraan. Entah mulai kapan kata ini populer, tapi kini setiap aktivitas publik yang memanfaatkan media, selalu dituding pencitraan. Apalagi di dunia politik yang mendekati Pemilihan Umum 2014. Biasanya akan banyak politisi-politisi baru bermunculan dengan semua catatan “kebaikannya” di media.

DI INDUSTRI dimana saya berkecimpung, musik dan hiburan, pencitraan juga jadi ajang penting untuk mendongkrak popularitas. Meski saya selalu melihat di balik layar, apakah benar yang mereka lakukan adalah pencitraan semata, bukan tindakan tulus dari hati.

"bukan sekadar pencitraan tau juga personal branding untuk karier."
“bukan sekadar pencitraan tau juga personal branding untuk karier.”

Dari pengamatan dan sisi komunikasi, saya meyakini bahwa artis, musisi dan manajemennya, perlu mempelajari yang namanya propaganda dan publisitas. Ketika kuliah, ada mata kuliah propaganda dan publisitas. Kedua mata kuliah ini selalu menarik perhatian buat saya, meski dosen yang mengampu menyampaikan uraiannya dengan membosankan dan selalu membuat saya ngantuk di kelas. Tapi teori-teori propaganda, cara mempengaruhi massa, kemudian digandakan dengan pencitraan lewat publisitas, membuat saya bertahan untuk duduk di kelas. Saya kemudian mencari teori dan menelaah topik ini lewat buku yang saya pinjam di perpustakaan kampus.

Dalam beberapa literatur komunikasi yang saya baca, propaganda berasal dari kata propagare, yang artinya adalah menyebarkan. Menurut Encyclopedia International: ‘propaganda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan’. Sedangkan dari Qualter, ‘propaganda adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja oleh beberapa individu atau kelompok untuk membentuk, mengawasi atau mengubah sikap dari kelompok-kelompok lain dengan menggunakan media komunikasi dengan tujuan bahwa pada setiap situasi yang tersedia, reaksi dari mereka yang dipengaruhi akan seperti yang diinginkan oleh sang propagandis.’ Agak lebih panjang memang teori Qualter.

Ketika akhirnya saya berkecimpung di industri musik, sebagai coach public speaking maupun jurnalist, propaganda dan publisitas ternyata berperan penting dalam mendongkrak popularitas dan imej sosok publik figur. Menanamkan imaji kepada masyarakat tentang citra diri, kemudian membuat orang lain terpengaruh dengan hal-hal yang dilakukannya, adalah bagian dari cerita yang terjadi di industri musik ini.

"kenalkah Anda dengan diri Anda sendiri?"
“kenalkah Anda dengan diri Anda sendiri?”

Suatu ketika saya ngobrol dengan personel band terkenal. Meski namanya tak besar-besar amat, tapi secara imej, band kawan saya ini sukses. Mengusung rock, attitude-nya sedikit urakan, dan dianggap sebagai rock n’ roll urban yang masih tersisa. Fanbase-nya cukup kuat, meski kalau bicara soal jualan CD, akan sama saja dengan band-band lain yang belepotan.

Saat saya bertanya soal album terakhirnya yang tidak ngerock, tapi malah cenderung disko. Jawabannya agak mengejutkan saya: “Itu soal pencitraan saja mas,  karena akhirnya kita ingin musik band ini bisa masuk ke semua area genre,” celetuknya. Berhasil sih, tapi apakah apresiasinya sama ketika masyarakat tahu itu lagu pencitraan saja?

Dalam hati saya juga makin “curiga” dengan banyak band atau musisi yang terlibat dalam aksi-aksi sosial dengan eksposure yang membabibuta. Tanpa mengurangi rasa hormat akan aktivitas “baik” yang dilakukan, tapi saya biasa melihat jejak rekam perjalanan dan aktivitas dibalik yang tidak tampak. Banyak dari mereka yang didapuk sebagai duta apapun, ternyata tak punya rekaman kehidupan yang linier dengan apa yang mereka katakan.

Mereka hanya memanfaatkan momentum, kebetulan punya basis massa yang masiv sehingga tampaknya bisa. Kalau kemudian mengubah persepsi mereka dan fanbase-nya tentang hal-hal positif, tentu tidak masalah. Tapi kebanyakan hanya tampak di permukaan. Selebihnya hanya pencitraan semu saja. Semoga “kecurigaan” saya hanya kegelisahan saya saja.

Setiap melakukan coaching, saya selalu bertanya imej apa yang akan dibentuk? Kemudian sejauhmana band atau musisi tersebut bersusah payah untuk melakukan aktivitas sesuai dengan imej yang disepakati akan dipilih. Karena ini dampaknya jangka panjang. Slank akhirnya menjadi ikon perlawanan atas kemapanan dan simbol rock’n roll yang kuat. Tapi berapa tahun mereka membentuk posisi itu? Dan mereka konsisten.

Atau bagaimana seorang Ahmad Dhani memanfaatkan media yang “terkecoh” dengan semua aksi arogan, sombong dan semena-menanya. Terbukti, sampai sekarang banyak yang menunggu aksi-aksi “menyebalkannya’ dan itu membuatnya bertahan di puncak popularitas.

Tentu saja, dalam teori industri musik, sebenarnya band atau musisi itu tetap dinilai pada kemampuan musikal mereka. Tapi menemukan sinergi antara musikalitas dan munculnya imej yang tepat, pastinya akan membantu mendongkrak band atau musisi tersebut untuk bisa lebih dikenal khalayak luas.