APA yang harus saya katakan, kalau dalam setahun sekitar 1500-2000an band atau solois, merilis single dan album? Percayalah, pelaku industri dan penggemar musik di Indonesia pun pasti pusing. Penikmat musik bakal kliyengan juga kalau diminta memilih, mana penyanyi yang paling disukainya. Lah segambreng…

"gedibal adlaah kotoran yang harus dibersihkan"
gedibal adalah kotoran yang harus dibersihkan”

DALAM  industri musik, soal skill menjadi tidak terlalu penting, asalkan nadanya indah, punya modal, menguasai marketing, dan bersedia dikendalikan oleh pasar. Melawan lewat musik pun kalau kemudian berhasil dan meluas, maka pasar akan berupaya untuk merangkulnya pula.

Ok, lalu apa pula yang harus saya lakukan, kalau ada klaim musik ini haram, musik itu haram. Leher kepala saya bakal cukup pegal saking sering geleng-geleng kepala kebingungan dengan fatwa-fatwa itu. Padahal dalam istilah Ulil Absar Abdalla, musik adalah pertanda bahwa sorga bisa diciptakan di muka bumi, sekarang ini juga.

Musik dapat membawa kita membubung ke dunia lain, ke sebuah fantasi, mengatasi dunia saat ini yang centang perentang, dunia yang bopeng. Musik membawa kita kembali ke taman Eden, seolah-olah kita tak pernah terlempar dari sana.

Akhir-akhir ini, saya amat tergoda mendengar lagu-lagu Ali Farka Toure, musisi blues asal Mali, Afrika dan Silvio Rodríguez di Cuba. Bukan nama yang familiar di Indonesia. Tapi amat ‘menganggu’ kuping saya.  Musiknya jelas tidak mainstream dan industrialis. Liriknya “marah” dan memberontak dengan kondisi yang dilihatnya. Bisa apa saja, politik, ekonomi dan industri musik itu sendiri.  Mereka juga awalnya ditolak industri musik mainstream.

Nama yang saya sebut di atas, memang akhirnya bisa “menunggangi” industri [di negaranya] untuk menyampaikan pesan perlawanan kepada banyak orang. Nah, apakah di Indonesia hal itu bisa dilakukan atau jangan-jangan yang mulai “nyempal” itu justru terkontaminasi dan terbawa pengaruh ke industri itu. Ini tergantung kepada seberapa kuat mempertahankan prinsip sebenarnya.

Kalangan industri selalu berlindung di balik “kemurnian bermusik”, bahwa musik adalah musik, tidak ada politik, ideologi, dan kepentingan apapun di dalamnya selain kepentingan estetik dan naluri seorang pemusik. Pada kenyataannya, musik adalah produk dari refleksi fikiran [otak] manusia terhadap keadaan sekitarnya, tidak mandiri, dan selalu kepentingan tertentu. Industri maksudnya.

Mungkin saya sedang utopis, berkhayal terlalu ngaco. Tapi perhatikan, terlalu banyak musisi yang memilih menjadi gedibal –istilah Jawa yang artinya onggokan tanah di dasar sepatu/sandal  di industri musik. Mereka jadi pengikut atau copycat dari band [dan label] yang sudah sukses duluan, dengan dalih, itulah yang dimaui pasar. Dan gedibal biasanya akan mengganggu saat makin tebal. Di industri musik, ketika makin menjemukan, para gedibal biasanya akan dibersihkan cepat-cepat.