Saya mengamini pernyataan pepatah lama: “hidup hanya sekadar mampir minum.” Buat saya, itu ada rentetannya, kalau mau minum, dimana mata airnya? Kalau mampir, berarti kita sedang dalam perjalanan panjang. Pertanyaannya adalah: mampir dimana hidup kita ini? Sejuta pertanyaan itu membuat saya tidak berhenti bertanya dan akhirnya tudingan “pemberontak” adalah stigma yang harus saya  terima. 

"bertanya itu bukan sebuah kesalahan."
bertanya itu bukan sebuah kesalahan. memaksa dia adalah pembunuhan

KETIKA manusia terlahir pertama kali ke dunia, sebenarnya dia sudah menjadi makhluk yang “penasaran” dengan apapun yang ada di sekitarnya. Semakin dewasa, akhirnya kita menjadi manusia yang sering bertanya, tentang hal apapun. Kita mengejar di pemilik jawaban, untuk menjelasksn apa yang kita mau tahu, sedetil-detilnya. Kita berubah menjadi manusia “penanya” yang tak pernah puas. Entah orang lain melihat dan menyebutnya sebagai apa: kritis, crigis, cerewet, sok mau tahu, rewel, atau malah terlalu cerdas untuk dijelaskan. Terserah saja, mau disebut apa. Tidak akan mengurangi bobot dari si manusia itu sendiri kok

Saya pribadi sudah terlalu sering dituding macam-macam ketika saya mempertanyakan semua hal. Jawaban yang pa;ing sering muncuil adalah: tidak semua hal itu bisa dipertanyakan. Kadang-kadnag ada hal yang memang tidak memerlukan jawaban apa-apa. Hmm, cara mengelak atau memang tidak punya kemampuan menjelaskan? Berpikir positif saja, memang mungkin tidak semua hal bisa ditanyakan dan didiskusikan.  

Ketika saya mempertanyakan keesaan Tuhan, saya dituding atheist. Belum sampai level diskusi, baru sekadar bertanya. Ketika sekolah, saya mempertanyakan kebijakan-kebijakan sekolah yang saya anggap terlalu mengungkung, saya dianggap murid yang bandel. Alih-alih diterangkan, saya malah sempat mendapat hukuman karena bertanya. Ketika saya bertanya tentang mengapa banyak kisah yang dibelokkan dalam pelajaran sejarah di SMA, saya malah mendapat tugas untuk tidak bertanya tentang pelajaran yang saya tahu bisa didiskusikan. Tugasnya juga tidak penting: menulis di satu buku tulis ‘Saya tidak akan mengulangi pertanyaan saya lagi’. Apakah semua sudah phobia dengan pertanyaan? Apalagi kalau saya bertanya tentang pelajaran yang ada hubungannya dengan Pancasila ketika itu, bisa-bisa tidak ada jawaban, tapi nilai merah di rapor saya. Meski nilai ujian tidak pernah di bawah 8.

Pernah dianggap sinis, ketika sebenarnya Anda skeptis? Bedanya tipis memang, karena sinis mematikan dialog, sementara skeptis membuka ruang dialog. Tapi ketika itu muncul dengan cara yang dianggap tidak pas, kita langsung dituduh sinis sesinis-sinisnya. Mungkin kita akan dituding sombong, belagu, sok, atau keminter kalau kata orang Jawa. Yah kalaupun kita sombong, kita belagu, kita keminter, selama tidak membunuh karakter orang lain, ya biarkan saja. Kalau hal-hal itu dianggap dosa yang pantas masuk neraka, biarkan saya itu urusannya dengan pencipta, bukan dengan sesama ciptaan.

Di ranah filsafat, sejuta pertanyaan itu lahir dari kegelisahan. Apapun. Dan setiap manusia sejatinya membawa kegelisahannya masing-masing. Ditanyakan, disimpan, atau sekadar dicuatkan, itu pilihan mereka masing-masing. Saya memilih menjadi penanya, bahkan ketika bertanya itu kelak dianggap sebagai pemberontakan. Bahkan ketika bertanya kelak dianggap subversif. Bertanya bukan sekadar bertanya, karena buat saya bertanya itu belajar. Bertanya itu ilmu.

Saya jadi teringat satu baris kutipan puisi Wiji Thukul dari puisinya berjudul “Sajak Suara” yang terkenal itu:

kalau engkau memaksaku diam, aku siapkan untukmu: pemberontakan!……