Di Indonesia, banyak lagu yang liriknya tidak jauh dari konotasi seksual.  Nyaris semua genre punya lagu yang liriknya terang-terangan bicara soal pelecehan seksual [khususnya kepada perempuan]. Pertama mendengarnya, apa yang ada di kepala Anda? Seperti sebuah lelucon atau malah Anda muak menyimaknya? Sayang, masih banyak yang menyukainya. Miris.

“Lirik Berkonotasi Pelecehan Seksual Tetap Jadi Pemikat?”  Foto: Kristianto Purnomo/Kompas Images

SUATU ketika saya sedang berkaraoke bersama beberapa kawan lama.Pilihan lagunya macam-macam, karena memang selera musik kami berbeda-beda. Tapi yang kami sepakati adalah, lagu yang kami pilih harus bisa membuat kami semua senang dan berjoget. Tidak boleh ada lagu “galau” yang menyedihkan. Beberapa kawan iseng mencari lagu daerah yang dikenal dengan campursari. Dan meski dengan diam-diam, saya mencermati setiap lirik yang muncul di layar karaoke tersebut. Entah mengapa, nyaris semua lagu yang dipilih kawan saya itu, semua berkonotasi seksual. Penyanyinya ada yang laki-laki, perempuan atau dua-duanya nyanyi bareng. Dan setiap gerakan di atas panggung, membuat saya harus geleng-geleng kepala.

Kalau saya menyebut campursari, itu bukan identifikasi dan judgement bahwa musik yang merupakan kolaborasi budaya timur dan barat itu selalu identik dengan pelecehan seksual dalam bahasa tubuh dan lirik. Mengutip pendapat seorang peneliti kebudayaan bernama John Fiske dalam bukunya  Understanding Populer Culture. Menurut Fiske,  dalam proses seperti itu akan terjadi apa yang disebut excoparotion, yaitu suatu proses dimana kelompok subordinat menciptakan kebuduyaannya sendiri diluar sumber-sumber dan komoditi yang disebabkan oleh sistem dominan. Disana –masih menurut Fiske– ada kebudayaan rakyat asli yang menyediakan alternatif, sehingga mereka menciptakan seni atas apa yang tersedia.

Lirik Seksual Jadi Komoditas Industri?

Tentu tidak semua industri setuju dan memilih area yang secara normatif disebut meminggirkan etika moral itu. Tapi tidak ada asap kalau tidak api, tidak ada konsumsi kalau tidak ada produksi. Dalam beberapa literatur [karena budaya literasi dan riset khusus tentang lirik seksual ini minim –red], saya menemukan bahwa banyak masyarakat yang “dianggap” menyukai tendensi lirikal yang terkesan “tak bermoral” itu.

Di Indonesia, kalau bicara musik yang dianggap –sekali lagi, hanya yang dianggap—murahan, biasanya akan langsung menoleh ke campursari, dangdut, tarling. Padahal sebagai musik yang dianggap paling mewakili musikalitas Indonesia, musik-musik yang saya sebut diatas punya peluang untuk menjadi musik yang egaliter, tanpa batas dan tanpa gengsi. Sayangnya, kadang-kadang kita melihat  pelaku industri [musik tersebut] kadang –kadang tampil tapi terkesan “murahan”.  Indikator paling mudah, dari cara berdandan dengan kostum dan warna yang mencolok. Komunikasi panggung yang terkesan jorok dan vulgar, plus gerak badan yang lebih mengedepankan erotisme ketimbang seni yang [dianggap] berbudaya.

Tapi jangan salah, komoditas lagu dengan lirik berkonotasi seksual [saya lebih suka menyebutnya musik pelecehan seksual –red], bukan hanya milik musik atau musisi yang dianggap kasta pinggir, atau [bukan] musiknya kaum urban. Dikotomi yang memuakkan, tapi masih tetap saja ada di industri.

Saya teringat ketika seorang George Michael menggegerkan industri musik dunia [termasuk di Indonesia] ketika merilis single ‘I Want Your Sex’. Lagu yang dirilis Juni 1997 ini, membuat banyak orangtua di Indonesia ketika itu, memilih membanting kasetnya ketimbang anaknya dipengaruhi lirik-lirik “tanpa moral” itu. George Michael membuat kita malu [mungkin kemudian penasaran?] mendengarnya. Dengan istilah-istilah slank yang seronok, dia menyatakan bahwa seks adalah pelampiasan nafsu yang bebas dilakukan. Liriknya tidak perlu saya kutip disini bukan?

Dalam sebuah penelitian [ilmiah] yang dilakukan Dr. Brian A Primack dari Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, terbukti bahwa lirik-lirik lagu yang bertema pelecehan seksual punya andil besar dalam memberikan stimulus birahi kepada pendengarnya. Dari 711 remaja berusia sekitar 14 tahun yang menjadi relawan penelitian  —setelah diperdengarkan lagu bertema porno dan seks selama 14 jam — ternyata diketahui satu dari tiga relawan pernah melakukan seks akibat dorongan dari lirik lagu. Primack mengatakan, para remaja itu juga ada yang melakukan hubungan seks lebih dari sekali akibat lirik lagu yang menggugah birahi.

Lirik Pelecehan Seksual Disukai Industri Hiburan

Agak paradoksal sebenarnya, ketika Indonesia yang dikenal dengan unggah-ungguh, ternyata justru punya banyak lagu dengan lirik berkonotasi pelecehan seksual.  Lucunya, banyak hujatan dan himbauan dari pemuka agama, praktisi hiburan, bahkan dedengkot musisi, supaya musisi dan penyanyi, menolak lagu dengan lirik seksual. Tapi apa mau dikata, justru lagu-lagu seperti itulah yang kemudian jadi “pemikat massa” dalam sebuah helatan. Coba saja perhatikan nanti, kalau sudah mulai masuk kampanye Pemilu. Musik dengan geal-geol penyanyi dan lirik lagu yang  nyerempet-nyerempet ‘selangkangan’-lah yang biasanya dipenuhi massa. Ironis bukan?

Hentikan Pelecehan Seksual Dalam Lirik Lagu dan Aksi Panggung.”

Beberapa tahun belakangan, bukannya menurun tapi justru tipikal lagu seperti itu menaik. Memang tidak semuanya bermunculan di televisi nasional, karena bakal disemprit oleh Komisi Penyiaran Indonesia [KPI], tapi ketika off-air malah menggila. Siapa masih ingat kasus lagu berjudul ‘Jupe Paling Suka 69’ nggak? Lagu ini dibawakan oleh Julie Perez, salah satu artis lokal yang identik dengan kemolekan tubuhnya.  Dengan desah dan bahasa tubuh yang menyiratkan hubungan laki-laki dan perempuan, siapa bakal bantah lagu ini menjurus ke hubungan seksual? Atau musisi luar sepeti Cindy Lauper lewat lagunya ‘She Bop’ yang terang-terangan bicara soal ajakan masturbasi?

Belum cukup contohnya? Ok, bagaimana dengan lagu ‘Hamil 3 Bulan’ milik pedangdut Agung Kiwi? Anda mungkin akan mencibir dan mengatakan: “Ah, biasa bukan kalau lagu dangdut isinya lirik pelecehan seksual?”. Tentu saja bukan karena dangdutnya, tapi lebih kepada penciptanya yang “sangat sadar” bahwa tema-tema seperti itu, biasanya lebih mudah dicerna oleh pendengar dewasa, meski tak sadar “merusak” imajinasi belia anak atau remaja.

Riant Nugroho [2008] menuliskan bahwa pelecehan seksual yang umum terjadi adalah unwanted attention from men,  penyampaian lelucon jorok lewat lirik atau bahasa tubuh di panggung secara vulgar pada seseorang dengan cara yang dirasakan sangat ofensif. Selain itu juga ada ketimpangan gender dengan bentuk stereotip yang muncul dalam anggapan perempuan bersolek dilakukan untuk memancing perhatian lawan jenisnya, sehingga pada kasus kekerasan maupun pelecehan seksual, perempuan yang dipersalahkan. Stereotip mengakibatkan diskriminasi, seperti halnya kalangan masyarakat Indonesia ada semacam double moral,  jika perempuan yang melanggar batas kesopanan merekaakan dicela, tetapi jika yang melakukan adalah seorang laki-laki maka hanya dimaklumi saja. Ini banyak terjadi di industri musik Indonesia.

Kasus terakhir terjadi pada penyanyi Inggris Robin Thicke. Single terbarunya ‘Blurred Lines’ diboikot di Edinburgh University, pasalnya dalam satu bagian liriknya, Robin justru menyarankan untuk berhubungan seks. Sementara ada kebijakan di salah satu kampus terrtua di Inggris ini, untuk melakukan kampanye anti perkosaan. Tentu tidak asal melarang, karena pihak kampus menyatakan sudah banyak melakukan penelitian tetnang korelasi lagu berkonotasi seksual dengan perkosaan yang mereka lawan.

Satu hal yang jelas dan itu amat disadari oleh pelaku industri musik, pelecehan seksual dalam lirik, lagu dan aksi panggung, selalu menyerempet kepada perempuan. Jarang sekali lelaki yang menyerukan ajakan seksual itu kepada dirinya sendiri. Lucunya, banyak musisi atau penyanyi perempuan yang justru ikut menyerukan pelecehan seksual itu. Entah mereka sadar, sensasi atau mereka tolol tidak menyadari bahwa tubuhnya dikonsumsi untuk pelecehan seksual. Yang aneh kalau perempuan itu makin bangga.

Perubahan Pola Pikir Musisi Dan Industrinya

Saya tidak mengerti, mengapa beberapa bagian industri musik –tidak semua memang- menyukai eksploitasi seksual sebagai jualan produknya. Mereka menyuarakan pelecehan seksual tanpa merasa bahwa mereka sedang mengangkangi harga diri dan martabat manusia lain, khususnya perempuan. Harus saya akui, lirik “pinggiran” yang dekat dengan kaum marjinal, memang cepat menjadi konsumsi yang mudah diterima. Meski itu kental dengan “tanpa etika” menurut kaum moralis.

Yang repot, masih banyak dari kita yang dianggap berpendidikan lebih dan bisa menularkan ide-ide cerdas, terjebak pada stigma yang muncul di pasaran. Lirik-lirik dan lagu yang kental dengan konotasi seksual, dianggap sesuatu yang biasa, lucu, sekadar nyeleneh, bukan hal yang memrihatinkan. Tanpa sadar ketika kita karaoke misalnya, pilihan lagunya juga masuk ke area maskulinitas, dan mengabaikan sisi feminitas yang sebenarnya perlu kita hormati juga.

Saya seperti “menggarami air laut” ketika ajakan untuk belajar soal kesetaraan gender, memahami lirik yang cerdas dan menempatkan manusia lain [khususnya perempuan] sebagai manusia yang selevel, bukan karena posisinya, tapi memang sudah seharusnya begitu. Di industri musik Indonesia, pemahaman-pemahaman itulah yang bahkan sampai saat ini, perlu keras untuk mengubah paradigma dan pikiran sempit para pengejar keuntungan atas nama pelecehan seksual itu.

Feminis eksistensialis, Simone De Bauvior tidak menyebutkan adanya subjektivitas bagi perempuan. Eksistensi perempuan dihadirkan bukan pada dirinya atau untuk dirinya sendiri, melainkan realitas dibentuk dari pandangan patriaki atau laki-laki. Saya ingin menegaskan, eksistensi musisi perempuan, sayangnya tidak ditentukan oleh karya atas dirinya untuk dirinya, tapi dibentuk atas pandangan musisi laki-laki.

Baiklah, di akhir tulisan ini saya menyarankan Anda, penikmat, musisi, label dan pelaku industri lainnya, menyimak lagu ‘Your Revolution’ milik Sarah jones, seorang aktris dan penyair campuran Afro-Amerika. Ketika merekam lagu itu, Jones hanya ingin mengritik berbagai prasangka maupun cara pandang yang menempatkan perempuan hanya sebagai objek seksual, termasuk dalam industri hiburan [baca: musik]. Ia juga mengritik eksploitasi seksual perempuan dalam lagu-lagu popular, termasuk hip-hop. Semoga kelak, lirik-lirik yang lebih cerdas [meski masuk area marjinal] makin bertebaran.

……Your revolution will not happen between these thighs

Your revolution will not happen between these thighs

Your revolution will not happen between these thighs

Not happen between these thighs

Not happen between these thighs……