Saya mungkin hanya setetes air yang tidak ada artinya di lautan yang amat sangat luas. Suara, tulisan, atau apapun yang saya lakukan, mungkin juga hanya numpang lewat saja. Tapi paling tidak, saya punya “bukti sejarah” pernah menawarkan sesuatu yang saya yakini bisa memberikan kebaikan. Ini ada hubungannya dengan musik, industrinya dan pemilu.

"musisi di parlemen? selama benar-benar tidak  terkooptasi banyak kepentingan, silakan saja!"
“musisi di parlemen? selama benar-benar tidak terkooptasi banyak kepentingan, silakan saja!”

KALAU Anda cermati baik-baik, setiap pelaksanaan kampanye pemilihan umum atawa pemilu, semua lini yang berhubungan dengan rakyat dan masyarakat, tiba-tiba bergerak bandulnya. Semua menjadi punya kata seragam: peduli. Satu kata yang tampaknya hanya bermakna temporer saja. Selebihnya, hanya jadi penggembira yang selesai keriaan, selesai juga kepeduliannya.

Setiap kampanye, rasanya tidak afdol kalau tidak melibatkan penghibur. Entah itu musisi, solois, band atau MC yang biasanya diambil dari artis-artis yang sudah dikenal, minimal di level propinsilah. Setiap menjelang pemilihan umum, mereka –para seniman dan pekerja seni itu—selalu diajak-ajak sebagai goal getter kalau-kalau tokoh parpolnya tidak disukai oleh masyarakat. Tak hanya itu, menjelang pemilu pula biasanya nama-nama musisi yang selama ini tak pernah berurusan dengan politik –paling tidak mereka biasanya mengaku tidak terlalu pusing dengan politik—tiba-tiba didapuk sebagai calon legislatif, yang artinya harus berpolitik. Kejutan yang menggelikan.

Pelaku kesenian –sebut saja industri musik—termasuk salah satu yang banyak dilibatkan dalam kampanye dan partai. Dwiki Dharmawan, salah satu musisi papan atas Indonesia, tiba-tiba saja dicalonkan sebagai caleg Partai Amanat Nasional. Sungguh, saya tidak pernah mendengar kiprahnya dalam politik level apapun.  Kenal atau mengisi acara kepartaian mungkin sering, tapi terlibat dalam pendidikan politik? Atau Ifan, vokalis Seventeen, band yang diidolai ABG itu. Entah apa alasan kongkritnya ketika namanya terpampang sebagai salah satu caleg Partai Gerindra.

Saya amat meyakini, Ifan termasuk “buta huruf” dalam politik, apalagi langsung berjuang untuk masuk DPR Pusat. Atau Anang Hermansyah yang didapuk sebagi caleg PAN. Bukan meremehkan, tapi kapasitas seniman dan pekerja seni, yang biasanya jauh dari hingar bingar politik, tiba-tiba bicara politik, buat saya agak menggelikan dan menggelisahkan.

"musisi di parlemen: musisi yang berubah atau parlemen yang mengubah?"
“musisi di parlemen: musisi yang berubah atau parlemen yang mengubah?”

Saya hanyalah pewarta musik, tidak punya massa besar. Tapi kegelisahan yang saya rasakan ingin saya bagikan. Siapa tahu, kawan-kawan musisi kalau berhasil nangkring di DPR bisa bersuara nyaring laiknya di atas panggung konser.  Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah:

Adanya perbaikan  atau gerakan pembetulan pikiran melawan penyakit puas diri. Ini jadi penting, karena mayoritas merasa perjuangan seniman yang berpolitik adalah ketika kampanye. Salah masbro! Perjuangan kalian sesungguhnya ketika sudah menjadi ”wakil”. Kalau kemudian pekerja seni lainnya tidak merasa terwakili, siap-siap Anda disumpahserapahi dan mendingan lengser.

Gerakan melawan penyakit puas diri sangat penting bagi pekerja seni, karena kita tidak mau mandeg, kita mau maju terus dan maju dengan langkah-langkah yang lebih positif dan tegas. Arti penting gerakan ini lebih besar lagi bagi para pekerja seni [tentu saja termasuk musisi] karena pembentukan jiwa, semangat, kesadaran, moral dan watak seniman banyak tergantung pada bantuan mereka di DPR kelak. Bukan mutlak, tapi kebijakan-kebijakan yang tidak merugikan seniman, harus jadi acuan. Pekerja seni itu bisa jadi lurus, tapi bisa jadi oportunis. Semoga yang terpilih, adalah yang lurus.

Dulu, Presiden Soekarno pernah mengatakan kepada para pekerja seni,tentang pentingnya pelaksanaan prinsip ”berkepribadian dalam kebudayaan”. Dalam konteks kekinian, saya mengartikan bahwa seniman dalam berkarya harus meletakkan jati dirinya di atas kepentingan kekuasaan.

Kalau bicara industri  musik, jati diri musisi adalah karya-karya yang jujur, sebelum yang dijejali kepentingan label yang ini itu. Oleh karena itu menempatkan diri dalam pikiran dan perasaan dengan penggemarnya adalah masalah penting bagi para musisi Indonesia.

Dulu, Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra , menolak lahirnya pelaku atau dalam katagori revisionis. Sayangnya, lembaga ini kemudian diberangus karena dianggap punya ikatan dengan Partai Komunis Indonesia. Tapi bukan soal itu yang ingin saya katakan. Musisi Indonesia harus bisa mempunyai soko guru yang jelas. Dalam pandangan Lekra, kaum revisionis adalah mereka yang bangga kalau berhasil menjiplak atau membikin barang tiruan [surrogaat] dari budaya lain. Tidak punya jati diri.

Kegelisahan saya juga adalah, musisi Indonesia tidak hanya menjadi kacung kampret dari industri musik borjuasi saja, tapi juga bisa menjadi tuan atas karyanya sendiri.

Kebanggaan atas kemampuan dan karyanya, harus dimunculkan, bukan dilebur atas nama budaya global. Dan itulah yang ingin saya titipkan kepada musisi-musisi yang kemudian memilih menjadi “corong” musisi lainnya di parlemen. Sanggup nggak?