Selalu, setiap mendekati bulan-bulan beraroma religi, entah Ramadan, Natal, atau perayaan-perayaan agama lainnya, tiba-tiba berjejal lagu rohani dimana-mana. Sebagai pengantar ibadah, musik berlirik religi memang cukup membantu. Paling tidak bisa membuat kita mengingat keberadaan pencipta dengan lebih intens. Tapi bagaimana dengan pelaku lagu religi tersebut?

"musik religi banyak yang dibuat hanya karena momentum, bukan keikhlasan."
“musik religi banyak yang dibuat hanya karena momentum, bukan keikhlasan.”

 LEGENDA  Rock n ‘roll, Jimi Hendrix, pernah menyatakan, “Musik adalah agama saya”. Namun, bila direnungkan lagi, bagaimana sejatinya musik benar-benar dapat inheren dengan religiositas? Musik memainkan peran yang sangat penting dalam budaya kita. Semua orang suka mendengarkan beberapa jenis musik, genre apa pun yang mereka nikmati. Musik dapat dianggap “agama” dengan mempelajari pesan yang ditulis oleh penciptanya, dan bagaimana efek yang mereka miliki di khalayak luas.

Beberapa  tahun silam, saya pernah melakukan satu riset dan investigasi kecil, tentang bagaimana korelasi lagu religius dengan kehidupan penyanyinya. Bukan untuk mencari-cari kesalahan dan kemudian menghakiminya, karena itu bukan domain dan haksaya untuk menghakimi. Saya hanya ingin memberi gambaran, dibalik maraknya lagu-lagu rohani, ternyata pelakunya masih banyak yang berjuang untuk menjadi rohani, secara karakter dan sikap.

Mengacu pada konser lagu religi yang banyak beredar. Dalam setiap peluncuran album tersebut, selalu dikatakan ini adalah musik “pengantar” ibadajh yang sesungguhnya. Jarang saya menemukan, ada yang mengatakan: bahwa musik religi yang dicipta adalah puncak religositas dari penciptanya. Puncak kedekatannya dengan khalik. Keberanian itu tak pernah dimunculkan, sehingga yang muncul adalah kesempatan dalam kesempatan.

Tingkat pencapaian puncak pemahaman agama adalah RELIGIOSITAS. Salah satu definisi umum tentang religiositas adalah: Sikap hati nurani, batin dan pikiran manusia yang selalu diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan keadilan. Religiositas adalah setingkat lebih tinggi dari agama. “Religiositas dapat diperoleh tanpa melalui agama, ia diperoleh terutama dari pengalaman hidup. Tapi yang perlu dicatatat, religiositas tak pernah menafikan agama.”

Bahkan di industri musik pun, religiusitas punya takaran. Meski nyaris semuanya semu, tapi paradigma religius itulah yang selama ini dipermainkan.  Ada beberapa ciri religiusitas semu yang ditebarkan oleh musisi.

Pertama, lagu religi diciptakan hanya untuk mendapat status terhormat.  Mereka bisa saja berkilah, toh mereka hanya menyampaikan pesan saja dan tidak ingin menggurui. Tapi seberapa banyak yang punya cita-cita mulai seperti itu? Mereka –para musisi itu—tampak masih mengejar pujian, penghargaan dan sebutan-sebutan omong-kosong dalam masyarakat. Belum lagi kalau dikaitkan dengan industri. Perhitungan untung rugi jadi panglima.

Kedua, kebiasaan sok religius itu kemudian benar-benar menjadi hal buruk.  Pernah mendengar pameo, “Dengar apa yang saya katakan, tapi  jangan lihat apa yang saya lakukan.“  Percaya atau tidak, itulah yang terjadi pada sebagian besar musisi yang membuat album religi. Materinya bagus, menyentuh dan punya lirik yang membawa kita kembali mengingat keberadaan sang khalik. Tapi kelakuan pencipta [dan penyanyi], amat membingungkan “umatnya“.

Jangan-jangan, ketika band-band pop yang sedang ngetop itu bikin album religi, fansnya melihat karena sosok personil dari band itu. “Mungkin saja, lebih kepada manusia bukan message  yang ingin disampaikan,“ jelas seorang musisi yang selalu menolak membuat album religi.

Ketiga, ritual rilis album atau singel religi merupakan “kewajiban“ dengan segala pernak-pernik ucapan yang menggambarkan keimanan dan kedekatannya dengan pencipta. Segala ritual omong kosong itu memang perlu untuk menunjukkan cara untuk membenarkan diri menyangkut album atau single religi itu. Ketika masa edar lagu religi itu selesai, semua atribut itu akan buru-buru dilepas dan menjadi seperti semula.

Musisi, dalam relevansinya dengan perannya sebagai manusia adalah makhluk yang serba terbatas [relativismus uber alles]. Keserbaterbatasan manusia ini telah cukup mengantarkan manusia pada situasi dimana ia senantiasa membutuhkan [dan bergantung pada] Zat Yang Tak Terbatas alias Yang Maha Mutlak [Absolutismus uber alles]; Dialah Tuhan sebagai The Ultimate Reality  [Realitas Tertinggi].

Secara fitrah pula, manusia dianugerahi oleh Tuhan naluri untuk beragama atau religiositas, yang merupakan sesuatu yang sudah built-in dalam dirinya, bahkan sejak sebelum kelahirannya ke alam dunia. Naluri ini telah cukup mendorong manusia untuk melakukan pemujaan terhadap apa yang dianggapnya sebagai The Ultimate Reality  [Realitas Tertinggi] itu. Patokan musisi, ketika menciopta lagu religi harusnya berkutat disini. Selain unsur dakwah dari agama yang dibuat lagu. Tapi juga bukan dakwah yang serta merta mengajak orang untuk seturut dengan keyakinannya. Itu namanya pemaksaan.

Saya terrmasuk yang meyakini, manusia bisa tersentuh nuraninya, bahkan dengan hal-hal yang selama ini dianggap sepele dan tak berguna. Tapi kalau lagu religi tidak linier dengan kehidupan yang lebih baik dari penyanyi dan penciptanya, rasanya ada yang mengganjal. Semua bukan dalam konteks: dengar saja lagunya, jangan liat kelakuannya.