Setelah “terbelah” dalam dua kubu, Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, musisi [baca: seniman] Indonesia, kini seharusnya mulai kembali ke jati diri sebagai musisi, berkarya tanpa batasan dan berkarya tanpa kebencian.  Kebodohan, idealisme politik, arogansi, dan sifat mekengkeng atau ngeyelan, harusnya sudah larut dan mencair dalam dinamika kesenian yang lebih positif. 

 

"Musisi boleh berbeda kubu, tapi toleransi musikalnya tak boleh berhenti" [foto: oi-kotabekasi.blogspot.com]
“Musisi boleh berbeda kubu, tapi toleransi musikalnya tak boleh berhenti” [foto: oi-kotabekasi.blogspot.com]

KELAK, Pemilu 2014 bakal dicatat dalam sejarah di Indonesia, sebagai Pemilu yang paling hectic dari semua sudut. Kawan bisa menjauh, suami istri bisa sedikit “ribut”, pasangan kekasih bahkan ada yang putus, karena berbeda pilihan politik. Di ranah musik, terjadi juga. Beberapa musisi terang-terangan menjadi pendukung [fanatik] dari capres yang ada.  Kini setelah semuanya terang siapa yang menang, musisi-musisi tersebut harusnya tidak lagi merasa dalam “kubu” yang berbeda, tapi kembali ke jalurnya selama ini.

Sebenarnya relasi musik dan politik tidak terjadi baru-baru ini saja. Apalagi di negara yang demokrasinya sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun, musik dan politik sudah berdampingan meski dalam kapasitas yang berbeda-beda perannya. Kalau Anda ingat, Pussy Riot, sekelompok musisi perempuan di Rusia, malah sempat dipenjara karena berteriak soal politik. Jadi, ini bukan pertama kalinya musisi dan politik bertabrakan. Ekspresi politik melalui musik telah hadir dalam budaya dan periode waktu banyak. Mari kita belajar dan menelisik ke era lawas ketika musik mulai dibenturkan dengan politik.

Pemberontakan Musisi Klasik

Anda ingat dengan musisi klasik terkenal Guiseppe Verdi? Karyanya kerap dimainkan dalam opera-opera klasik, hingga sekarang. Karya operanya yang berjudul Nabucco di tahun 1844, pernah dijadikan mobilisasi Italia untuk melawan dominasi Austria dan Perancis, yang kala itu dikuasai oleh Napoleon Bonaparte. Verdi malah sempat diangkat sebagai anggota parlemen tahun 1861, karena “jasanya” menciptakan opera tersebut. Sebelumnya, Italia sempat membanti Perancis ketika perang dengan Austria.

Kemudian tahun 1954, komposisi balet berjudul Spartacus, garapan Aram Khachaturian, yang bercerita tentang pemberontakan budak yang dijadikan gladiator melawan kekaisaran Romawi, dipakai sebagai metafora melawan pemerintahan Rusia. Kemudian ada komposer Jerman, Kurt Weill yang membuat opera The Three Penny Opera, dengan sudut pandangan Marxis.

Underground Attack

Sebelum nama-nama populer seperti Rage Against The Machine [RATM], tahun 1968 sudah ada band bernama undergrund MC5 yang melakukan protes secara politis lewat lagu-lagunya. Lagu-lagunya seperti ‘The American Ruse’ dikenal cukup keras menentang Perang Vietnam dan pembunuhan Martin Luther Jr yang menghebohkan Amerika.

Akhir 70-an, band-band punk seperti The Clash, Sex Pistols, dan Dead Kennedys, lebih keras dan terang-terangan menulis lirik yang sering mengamuk terhadap pemerintah, tentang kapitalisme, rasisme, dan isu-isu sosial. Mereka adalah band punk yang memiliki pengaruh abadi sampai sekarang. Di era-era terbaru, muncul band-band seperti Green Day, Sleater-Kinney, Anti-Flag, dan Rise Against, punk tanpa kompromi dengan lirik sosial politik di lagu mereka [ingat lagu ‘American Idiot’-nya Green Day]. Kemudian ada U2 dan REM.

Pada tahun 1990, berdiri Rock the Vote, organisasi non-profit, yang didirikan di Los Angeles oleh Jeff Ayeroff, salah satu eksekutif industri rekaman di Amerika Serikat. Misinya adalah “membangun kesadaran politik dan keterlibatan orang muda untuk mencapai perubahan yang progresif.” Tahun 2012, anggota Rock the Vote telah terdaftar lebih dari lima juta anak muda. Sekarang pasti lebih.

Dari apa yang saya tulis secara singkat di atas, sebenarnya hanya ingin mengatakan, seniman juga punya kepekaan sosial dan politik. Ketika mereka melawan dengan lagu, biasanya justru punya kekuatan yang tidak pernah diduga. Sayangnya di Indonesia, banyak musisi yang kemudian jadi partisan. Ini yang kemudian membuat musisi terlihat tidak jujur dengan karyanya. Ibaratnya, yang kepleset politik, dan yang benar-benar bersuara tentang politik. Anda bisa bikin daftarnya sendiri.

Pemilu 2014 membuat saya akhirnya memilih dan memilah, musisi yang benar-benar peka dengan situasional, atau memilih jadi musisi partisan yang hasilnya malah mengecewakan. Agak subjektif mungkin, tapi kentara di permukaan. Ini bukan perkara siapa mendukung siapa, tapi seperti yang sudah saya katakan di atas, musisi itu jadi kelihatan tidak jujur dengan karyanya. Dan itu akan dicatat dalam sejarah, hitam putihnya. Sila Anda pantau…