APA yang ada di benak Anda ketika saya sebut budaya atau kebudayaan? Buat awam, yang tidak berkecimpung dalam kiprah budaya, biasanya akan menghubungkannya dengan peradaban kuno, artefak dan setumpuk kisah masa lalu. Itukah budaya?

"Jangan terjebak  para ruang nostalgia, sehingga lupa melahirkan karya yang bisa jadi ciri budaya."
“Jangan terjebak para ruang nostalgia, sehingga lupa melahirkan karya yang bisa jadi ciri budaya.”

Secara etimologis, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Tentu tidak secara harafiah mentah-mentah kita mengadopsi penjelasan tersebut. Dalam kacamata saya, “budaya adalah karya yang dibentuk manusia di satu masa, dan berkembang luas memengaruhi kehidupan dan manusia lain di masa sesudahnya.”

Lalu, apakah saya, Anda dan kita bisa menciptakan budaya? Tentu saja bisa. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendudukungnya. Kalau tidak ada yang mendukung dan memberinya kehidupan, budaya dan kebudayaan, lambat laun juga bakal mati.

Saya teringat cerita, bagaimana Korean Wave akhirnya menjadi budaya yang luarbiasa dan menjadikan Korea [Selatan], bangga dan berdiri sejajar dengan negara ras kuning lainnya, seperti Jepang dan Tiongkok. Dalam satu masa, pemerintah Korea mengundang musisi-musisi hebat seluruh dunia, termasuk Indonesia. Mereka diundang untuk menggelar konser setiap tahun dengan genre yang berbeda-beda. Ada pop, rock, blues, jazz, dan macam-macam. Usut punya usut, bukan untuk mencuri ilmu dari musisi yang mereka undang, tapi memberikan wawasan baru kepada rakyatnya, untuk menciptakan budaya sendiri. Terbukti, kebudayaan Korea sekarang dengan K-Popnya benar-benar merajai dunia.

Bagaimana Indonesia? Jangan terjebak  para ruang nostalgia, sehingga lupa melahirkan karya yang bisa jadi ciri budaya. Musisi [dan seniman] Indonesia, sering terjebak pada pewarnaan ketika bicara soal budaya. Seolah-olah budaya dan kebudayaan selalu bicara tradisi dan tradisionalisme. Coba kita ketik “kebudayaan” di image Google, yang muncul selalu hal-hal yang berbau tradisi saja. Tentusaja bukan salah dan dosa, tapi sebenarnya tidak melulu itu. Budaya populer, juga adalah kebudayaan kekinian yang bisa dikembangkan dan menjadi kekuatan atau ciri dari satu bangsa. Musisi juga bisa mengadopsi tradisi menjadi populer, tentu saja dengan pengembangan dan  inovasi yang kreatif.

Saya harus katakan, zaman berubah, manusia berkembang dan kebudayaan menemukan persepsi dan definis terkini. Tapi yang tetap, budaya dan kebudayaan selalu dan akan terus menjadi ciri bangsa yang kuat. Kalau sekarang Korea menjadi “contoh” bagaimana budaya popnya begitu menggurita, siapa tahu kelak Indonesia bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih. Jaring kebudayaan kita lebih menggurita, tapi sinerginya yang perlu disentuh.

Nah, mari menciptakan budaya dan kebudayaan…