UNTUK pengangguran, anak kos, atau karyawan bergaji minimalis, yang namanya uang receh kerap jadi dewa penolong di akhir bulan. Padahal, kalau lagi awal bulan, si receh ini kerap diabaikan atau diletakkan pada posisi yang kurang terhormat. Tapi memang penghargaan dan sinisme masih terasa ketika Anda membayar apapun dengan recehan.  Kok begitu? 

"jangan remehkan recehan, karena dia berguna disaat tidak kita anggap"
“jangan remehkan recehan, karena dia berguna disaat tidak kita anggap”

DULU ketika saya masih kuliah dan ngekos, apalagi kiriman uang dari orangtua suka telat, uang receh yang dikumpulkan di kaleng bekas, selalu jadi pelarian. Dioprek-oprek, dikumpulin dan akhirnya bisa bernapas lega, karena bisa untuk membeli nasi dan lauknya di warteg. Kalau respon warteg sih, biasanya malah semringah ketika saya bayar pakai recehan. “Lumayan mas, buat kembalian,” celetuk mbak-mbak yang jaga, sambil tersenyum –yang terlihat manis ketika itu.

Tapi sekarang, recehan menjadi identik dengan sinisme, duafa akut dan gengsi rendah. Kejadian demi kejadian yang –iseng—saya lakukan, menjadi jawaban atas hal-hal yang kurang nyaman itu. Beberapa kali, sengaja saya memberikan uang recehan untuk membayar makanan, tiket nonton, parkir atau membayar pengamen. Betul diterima, tapi saya sangat paham mimik wajah mana yang sukacita menerima, atau ekspresi palsu dan singit saat mengenggam recehan.

Betul, memang agak merepotkan ketika memegang recehan. Selain beban jadi tambah berat, gesekkan suaranya yang berisik, menghitungnya pun butuh waktu yang kadang-kadang tidak sebentar. Tapi nilai tukarnya toh sama saja dengan uang kertas bukan? Lambat laun saya mulai bisa mendeteksi karakter orang ketika berhadapan dengan uang recehan itu. Tidak peduli tampan dan cantiknya Anda, tapi ketika datang menggenggam recehan, Anda adalah wong cilik. Jadi “berhak” tidak dianggap.

Nasib recehan, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sikap kita ketika menilaiseseorang pada kesan pertama. Kita sering meremehkan dan kemudian memberikan penghakiman yang menyakitkan, kepada orang yang kita sendiri masih ragu siapa dia sebenarnya. Sayapun pernah ‘terpeleset’ melakukannya. Suatu hari sembari menunggu seorang kawan berbelanja, saya ngobrol denganb seorang tukang parkir yang terlihat kumuh. Orangnya kurus, hitam, dengan gigi sedikit ompong. Sok asik dia menyapa saya dan mencoba berdialog. Kemudian saya tahu dia asal Jawa Timur dan kamu ngobrol dengan bahasa Jawa Timuran. Dibalik penampilannya yang belepotan itu, tukang parkir itu “memamerkan” keahliannya yang membuat saya terkejut. Tentu saja saya pura-pura tidak terkejut. Dia fasih berbahasa Inggris dan Jerman. Selidik punya selidik, dia juga mantan musisi kafe di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta awal 90an.

"semakin diremehkan, semakin menanjak. "
semakin diremehkan, semakin menanjak. “

Mungkin tukang parkir itu menjadi recehan dan saya adalah kasir terpandang yang menerima recehan itu. Senyum saya suck dengan jawaban singkat yang saya “paksakan.” Persis penjagat loket bioskop yang sebenarnya cantik, tapi menjadi buruk rupa di mata saya, karena terlihat “merendahkan” seorang pemuda yang menambahkan uang recehan 500 dalan pembayaran tiketnya. Sikap yang membuat saya muak dan geleng-geleng kepala.

Meremehkan hal kecil, nyaris jadi karakter semua manusia. Semua menganggap bahwa semua persoalan itu harus besar baru dianggap benar-benar persoalan. Kita sering meremehkan hal-hal kecil dalam berelasi dengan manusia lain. Akibatnya, selain konflik di belakang hari, kita selalu gagal berempati kepada manusia lain yang memerlukan uluran tangan kita, atau sekadar memerlukan senyum kita.

Sayangnya, kita “nyaris” menganggap manusia lain seperti uang recehan, baru berguna ketika kita sudah kehilangan yang lain. Terlalu sering ‘menbusukkan’ orang lain di kesan pertama. Baru kita anggap ketika kita terdesak pada pengakuan untuk mendekati recehan itu.  Filosofi recehan itu, membuat kemanusiaan kita terlemahkan.