Jujur saja, saya sebenarnya muak dengan dikotomi seperti judul di atas. Tapi mengapa itu masih saya angkat dalam tulisan ini? Saya harus katakan pembelajaran tentang dikotomi itu masih gagal memberikan pencerahan kepada [bukan] musisi. Bahkan jurnalis yang biasa berkutat dengan liputan hiburan [sayangnya tak hanya musik], masih banyak yang tergopoh-gopoh mencerna. 

"lupakan dikotomi musik laku dan musik nggak laku. berkarya saja. titik!"
lupakan dikotomi musik laku dan musik nggak laku. berkarya saja. titik!”

 

DALAM banyak kesempatan acara musik, banyak pertanyaan yang berulang da berulang. Entah siapa yang tolol, yang menjelaskan, atau yang menerima penjelasan. Atau sebenarnya dua-duanya tidak tahu juga? Pokok persoalannya selalu berputar pada pertanyaan seperti apakah musik yang laku di industri, dan musik apakah yang [sebaiknya] dihindari, karena rentan tidak laku.

Tidak bisa dipungkiri, ada kepentingan di balik isu dikotomi itu. Menggunakan logika terbalik, seharusnya muncul sebuah pertanyaan: siapa yang diuntungkan ketika isu makin menguat dan menguar ke permukaan? Tapi  lupakan soal siapa yang diuntungkan, mari kita menelisik bagaimana sebenarnya dikotomi itu bisa dijelaskan, dipaparkan dan dielaborasi sehingga menjadi sinergi yang melahirkan karya bagus, bukan karya laku atau tidak laku.

Dalam satu helatan musik di Jakarta, seorang Yovie Widianto dan Once Mekel, punya pendapat yang senada. “Kita akan berkembang, kalau kita bisa mengapresiasi banyak musik yang berbeda.” Saya menggarisbawahi pernyataan tersebut. Saya berikan contoh: seorang Rod Steward punya kualitas dan wawasan musikal yang tajam, ketika dia “berlari-lari” di area jazz, folk, dan country.  Ini bukan soal “melacur” ke genre lain diluar genre awalnya, tapi memberikan pemahaman baru atas karya-karya personalnya. Atau rockstar Bon Jovi yang melintas batas dengan album fully blues, reinterpretasi dari karya-karya populernya.Laku atau tidak, tampaknya bukan target utama.

"jangan tertipu produser yang menjanjikan macam-macam cerita sukses, tapi sebenarnya omong kosong besar. "
“jangan tertipu produser yang menjanjikan macam-macam cerita sukses, tapi sebenarnya omong kosong besar. “

Alasan klasik di Indonesia adalah: musik [sejatinya] belum bisa dijadikan gantungan hidup secara total. Dari survey kecil-kecilan yang pernah saya lakukan setiap wawancara, nyaris semua musisi lama dan baru, mengatakan: siap hidup dari musik. Tapi dalam hitungan bulan, atau tahun, mereka menghilang dan tak lagi ngeband atau bermusik. Artinya, masih banyak yang menjadikan musik dan musisi sebagai “halte” saja. Kalau tumpangan lain lebih menarik, mereka akan naik dan pindah ke terminal lainnya.

Saya hanya akan memberikan pertimbangan yang tegas-tegas saja: siap bermusik? Siap menjadi musisi? Siap berkarya? Siap gagal?  Siap sukses? Pilihannya jelas: kalau tidak siap, mendingan berhenti dari sekarang, nggak usah memaksakan diri. Daripada harta habis untuk bermusik, tapi tanpa hasil yang jelas? Tertipu produser yang menjanjikan macam-macam cerita sukses, tapi sebenarnya omong kosong besar. Tapi kalau Anda siap, silakan belajar keras tentang musik, industri, manajemen, distribusi dan komposisi karya Anda sendiri. Banyak cara untuk jadi musisi yang berkualitas.

Saatnya melewatkan dan membuang dikotomi: musik laku vs musik [nggak] laku. Berani?”