Salah satu pendukung presiden terpilih Jokowi yang cukup militan adalah musisi [baca: seniman]. Buktinya adalah, ketika menjelang pemilihan, mereka –para musisi itu—menggelar konser di Gelora Bung Karno dan dihadiri ratusan ribu pendukung.

 

"Musik dan Politik, Menjadi Medan Magnet Tarik Menarik"
Musik dan Politik, Menjadi Medan Magnet Tarik Menarik”

TENTU ada alasan mengapa para musisi itu ngebet dan mati-matian mendukung Jokowi sebagai presiden. Beberapa alasan, selain karena pria asal Solo itu dikenal dekat dengan seniman dan musisi, juga karena kecintaannya pada musik rock. Hobi yang olehh lawan politiknya sempat disentil juga, karena dianggap mencintai kebudayaan asing ketimbang budaya sendiri. Kecintaannya pada rock-lah yang kemudian membuat Solo sempat sukses menggelar Rock in Solo,  dan menjadi Solo sebagai salah satu alternatif atmosfer rock, selain Jakarta dan Bandung.

Sejatinya, seni dan politik memang seperti magnet yang tarik menarik. Seniman, biasanya punya penggemar dan massa yang lumayan besar. Malah ada yang besar sekali. Pun dalam kampanye pemilu di Indonesia, beberapa waktu lalu. Saya selalu terobesi –kalau tidak dibilang punya mimpi—bahwa musik dan musisi bisa mengubah masyarakat secara luas. Dan membuat karya dengan pengaruh kuat untuk mengubah, sebenarnya sudah bagian dari berpolitik. Dalam tulisan-tulisan dan gagasan saya sebelumnya, saya sempat menyebut lahirnya musisi sayap kiri dan musisi sayap kanan, Meski kini terdengar usang, tapi toh tulisan saya yang sederhana itu, pelan-pelan mulai terbukti.

"musik dan musisi bisa mengubah masyarakat secara luas"
musik dan musisi bisa mengubah masyarakat secara luas”

Lalu bagaimana mengombinasikan politik dengan jargon ‘politik adalah kemenangan’ dengan kesenian yang [seharusnya] bicara soal nurani dan kejujuran. Sesuatu yang termat kecil berada di ranah politis. Saya mengutip kalimat seorang pianis dan komposer bernama Frederic Rzewski, ketika berpidati di depan mahasiswa seni University of Wisconsin, tahun 1983 silam:

 Seni dan politik bukan hal yang sama. Ada titik di mana mereka bertemu, dan ada titik di mana mereka berseberangan. Kita tidak bisa serta merta memasukkan orang lain ke dalam pelayanan lain tanpa melemahkannya, merampas beberapa kekuatannya sebagai wahana komunikasi. Politik dunia seni cenderung cukup relevan dengan politik secara umum. Sedangkan jenis seni yang memenuhi dunia politik sering cukup lemah sebagai seni. Sebuah kombinasi yang efektif dari keduanya adalah tetap teoritis mungkin, karena secara praktis diperlukan. Sayangnya, kondisi ini mungkin hanya ada di saat-saat tertentu dalam sejarah.”

Kembali pada pertanyaan, apakah musik berpolitik, atau politik membelokkan musik,agak sulit menenpatkan gagasan utamanya. Atau mungkin kita sepakat dengan pandangan seorang sastrawan Inggris bernama George Orwell. Menurutnya, gagasan bahwa seni tidak ada hubungannya dengan politik, sebenarnya sudah merupakan merupakan posisi politik.

Musik Revolusioner atau Musik Kritis?

Banyak literatur yang kemudian menghubungkan bagaimana musik dan politik saling terbentuk. Ada istilah komposer politik, artinya musisi yang berkarya dengan tema-teman politik dan politis. Hal ini terjadi pada banyak masa kekuasaan, termasuk pemerintahan fasis Hitler di Jerman, Mussollini di Italia dan Stalin di Uni Soviet ketika itu. Selama tahun 1930-an, gelombang revolusi mencapai menara gading, dan komposer mulai melihat diri sebagai bagian dari kelas pekerja. “Entah komposer atau musisi itu tahu atau tidak,  mereka sebagian besar dari mereka sudah menempatkan diri sebagai milik proletariat,” tulis Charles Seeger, musicologist Amerika, dalam salah satu essainya tahun 1934.

Sebutan “Musik Revolusioner” muncul dan lebih diarahkan untuk pendukung [extra-musik] atas posisi ideologis tertentu. Karya-karya revolusioner ini lebih sepenuhnya “politik” dalam cara yang dipahami secara tradisional. Sementara “Musik Kritis” puunya kriteria tidak mencoba untuk menang, dan menjauhkan dari gerakan atau ideologi tertentu. Musik kritis mengamati, menerangi, dan memberikan kritik atas aspek tertentu dari masyarakat. Meskipun biasanya kritikus musik itu akan mengatakan dalam kerangka ideologis. Singkatnya, “Musik Kritis” menyajikan masalah yang mungkin memiliki banyak potensi solusi, sedangkan “Musik Revolusioner” menyediakan solusi tunggal untuk banyak masalah. Jelas sekali bedanya bukan?

Dimana Musisi Indonesia Berdiri?

Agak menggelisahkan kalau ada musisi yang dituding fasis, atau sektarian, atau progressive tapi bukan di karya, hanya di pernyataan untuk media. Saya hanya ingin menempatkan musisi Indonesia, siapapun dia, di pihak manapun dia berdiri, punya pandangan politik dan ideologi apapun, dia harus bisa menjadi kritis. Kritis itu tidak melulu mengikis. Kritis itu tak membuat kekerabatan dan karya makin teriris. Musisi secara politis punya kekuatan untuk mengubah kesadaran masyarakat akan satu isu dan topik. Dan itu sudah jelas terbukti dalam banyak dekade, termasuk di Indonesia. Kalau berkaca kepada telaah kritis di atas, menjadi musisi kritis adalah menjadi musisi yang bisa memberikan banyak potensi solusi.

Menjadi pengawal, pendamping, pengawas, atau apapun istilahnya atas pemerintahan politik kita, wajib hukumnya untuk musisi. Memberi catatan, peduli pada keresahan dan kegelisahan masyarakat, kemudian meluruskan penyimpangan kekuasaan, adalah sikap politis musisi. Kalau musisi yang belum lama ini menjadi pengggerak antusiasme massa yang luarbiasa, sudah mulai tak peduli, celakalah Jokowi.  Celakah negeri ini. Harapan saya, semoga hal itu tidak terjadi.