Ini cerita sederhana tapi mengganggu, soal puntung rokok. Dulu, sebelum ada rokok filter, rokok kretek adalah “idola” bagi pemulung puntung. Tembakau tersisa diambil dan kemudianbisa dijual kembali. Sayang, filter mengubah peruntungan, karena “gabus”-nya, tak laku dijual. Alhasil. Pemulung puntung, kini kehilangan lahan pencaharian. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.

"larangannya sudah jelas bukan? kalau masih melanggar, berarti ada yang salah dengan otak anda!"
“larangannya sudah jelas bukan? kalau masih melanggar, berarti ada yang salah dengan otak anda!”

SAYA pribadi, memang anti rokok. Jujur, saya tak pernah mencoba untuk merokok dalam segala bentuknya. Bukan berhenti, karena terkena penyakit tertentu. Bukan berhenti karena “bertobat” atau bukan berhenti karena “nazar”. Tapi saya memang tak pernah menyentuh rokok. Saya tidak tahan asap, saya juga tidak tahan baju dan rambut saja tercium aroma rokok, tatkala keluar dari ruangan yang isinya perokok. Saya sangat paham bahayanya perokok pasif, apalagi yang aktif. Tapi jangan salah, saya tidak anti perokok. Tapi silakan merokok, paling dekat 1 kilometer dari tempat saya berpijak.

Ngomong-ngomong soal puntung rokok, pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri, bagaimana memperlakukan puntung rokok, menghormati penikmat asap, dan bagaimana puntung memampatkan lubang WC atau seloka. Lah, kok nylimur?

Ini persoalannya. Ketika “mengunjungi” toilet-toilet wangi di mall atau hotel, saya selalu terganggu dengan puntung rokok yang ada di kloset. Memang, toilet adalah “tempat paling nyaman” dan “aman” setelah semua tempat publik, dikenai larangan merokok. Sembari nongkrong nggak jelas, BBMan, klepas-klepus asap rokok mengebul. Bodo amat dengan ‘penongkrong’ berikutnya yang mungkin tidak merokok. Abu dibiarkan bertebaran, aroma “busuk” rokoknya masih berseliweran dan pluuung……puntung lempar ke kloset.

Saya haqul haqul yakin, si perokok itu bukan buta huruf, pernah “makan” sekolahan dan pernah [sedikit mungkin] diajari tata krama. Di atas kloset biasanya jelas-jelas terpampang tulisan: “Dilarang Membuang Puntung Rokok Ke Dalam Kloset!”. Kalau larangannya tertulis besar-besar dan masih dilakukan juga, buat saya bukan lagi egois, tapi tolol akut.

"merokok itu bukan soal kualitas, tapi soal sugesti diri."
“merokok itu bukan soal kualitas, tapi soal sugesti diri.”

Bukan sekali dua kali saya menemukan puntung rokok mengapung di atas kloset, berkali-kali. Dan “hebatnya” selalu di toilet yang beradab, di hotel, mall atau tempat-tempat yang disebut “bergengsi”. Apa artinya? Bahkan egoisme dan ketololan itu sudah masuk ke lini yang dianggap berbudaya, berpendidikan dan punya adab. Rokok adalah kebutuhan tubuh, karena berkaitan dengan tubuh yang juga menjadi penjara jiwa untuk mencapai kebijaksanaan. Maka bisa kita simpulkan bahwa rokokpun menjadi penjara atau kuburan bagi manusia.

Relevansi yang bisa kita ambil dari semua pembahasan di atas adalah; mari kita bersikap kritis terhadap keputusan kita yang memilih untuk “dijajah” oleh rokok. Rokok yang sebenarnya justru memperbudak kita, sehingga tidak dapat mencapai kebaikan. Bukan sebaliknya, menjadi tolol karena “penjajahan” rokok.

Ini bukan soal anti rokok dan perokoknya, tapi attitude perokok dan etika merokok.