Di Indonesia, selama beberapa tahun silam, kita mengenal ada beberapa festival besar yang pernah digelar.  Bukan festival main-main, karena selain didukung perusahaan besar [biasanya rokok –red], pemenangnya [atau finalisnya] punya kans besar untuk menjejak ke industri musik yang nyata. Banyak jebolan festival di Indonesia yang kemudian membesar dan punya karier bagus. Tapi jauh lebih banyak yang akhirnya “mati” tak terdengar lagi namanya. Apa yang salah dengan mereka, festival dan pesertanya?

 

"Kemana band-band jebolan festival hebat itu?"
Kemana band-band jebolan festival hebat itu?”

ADA beberapa festival berskala nasional yang pernah lahir. Dari berbagai festival musik yang diselenggarakan, mulai dari Festival Lagu Pop Nasional, Lomba Cipta Lagu Prambors, Lomba Cipta Lagu Dangdut, Kontes Band Yamaha, hingga Cipta Pesona Bintang di layar kaca (RCTI), ternyata festival musik rock versi Log Zhelebour yang paling tahan banting. Banyak band besar pengusung rock yang lahir di event yang mulai bergerak tahun 1984  ini. Sebut saja Jamrud, Andromeda, Slank, Grass Rock, Boomerang, U9, Kobe, Kaisar dan masih banyak nama lain. Sayangnya, dari puluhan finalis yang pernah dibuat kompilasinya, hanya segelintir nama yang masih bisa disebut eksis. Selebihnya cuma jadi catatan “pernah ikut festival” doang.

"festival itu gerbang masuk ke area yang susah disentuh"
“festival itu gerbang masuk ke area yang susah disentuh”

Tahun 2007, salah satu perusahaan rokok besar dengan menggaet salah satu label besar, menggagas festival musik pop bertajuk A Mild Live WANTED! Yang kelak bermetamorfosis menjadi WANTED! Even tahunan ini melahirkan satu nama besar d’Masiv yang sampai sekarang masih berkibar di blantika musik Indonesia. Nama lain, bukan juara, yang juga mencuat adalah Geisha. Selebihnya, baik yang juara pertama, atau sekadar jadi finalis, masih harus berkutat dengan perjuangan untuk benar-benar bisa eksis dan diterima publik musik Indonesia. Nama-nama Magneto [yang akhirnya bubar], The Lonely Bulls [TLB], Supernova atau D’Neno, adalah jawara-jawara yang kembang –kempis mempertahankan keberadaannya. Mungkin masih ada, karena terikat kontrak dengan label, tapi untuk disebut eksis, rasanya kok miris.

Nama LA Light Indiefest sempat mencuat juga. Nama yang oleh pelaku indie sempat dipertanyakan, karena menurut mereka “indie” itu bukan untuk dijadikan festival, karena lebih ke attitude. Tapi ya sudahlah, karena mungkin saja itu hanya “jualan” sponsor untuk melahirkan musik-musik yang tidak biasa. Apakan yang tidak biasa itu kemudian disebut “indie” lain lagi persoalannya. Secara musikalitas, event yang tidak pernah melahirkan juara [hanya finalis, yang kemudian dirangkum dalam satu album kompilasi], disebut-sebut cukup berhasil mencetak musisi yang “berbeda” dan berani “nyempal” dengan trend. Sebut saja C.U.T.S, The Bannery, Gecko, Lars, Respect, Morning Blue. Mungkin kita masih bisa melacak beberapa nama, tapi menemukan nama lain yang pernah hadir dalam kompilasi ini, seperti mencari jarum di pantai berpasir. Nyaris tak mungkin.

"Usai ikut festival musik, lalu apa? Mikiiir...."
“Usai ikut festival musik, lalu apa? Mikiiir….”

Saya mau menanyakan kabar peserta yang jadi finalis-finalis nasional nih. Apa kabarnya mereka? Apa titik tersulit sehingga mereka harus “hanya” jadi kembang festival saja, dan kesulitan beranjak menembus jaring-jaring industri musik? Atau industrinya yang terlalu “sombong” menoleh kepada pendatang baru dengan musikalitas bagus, tapi lagi-lagi atas nama “tidak sesuai tren” kemudian menggeser potensi-potensi muda itu, dan membuat mereka harus jungkir balik. Sukur-sukur keukeh, tapi kalau mentok ya apa boleh buat, terpaksa “melacur” juga di industri.

Kalau bicara pembelajaran tentang industri, selama masa camp di Jakarta untuk finalis, setiap festival hebat itu selalu memberikan wawasan tentang bagaimana menghadapi industri dan persoalannya. Baik secara riil, atau behind the scene dari industri itu sendiri. Memang tidak semua rahasia industri dibeber, tapi paling tidak gambaran besarnya sudah jelas di depan mata. Kalau sudah diberitahu, tapi mejen  di aplikasi, berarti ada yang salah dengan band atau industrinya bukan?

Menang festival, kaliber nasional sekalipun, bukan jaminan semuanya bakal lempeng dan mudah dilewati. Justru ketika diumumkan sebagai pemenang, sejatinya kerikil mulai bertebaran, paku mulai terpasang, dan titik yang ujungnya belum jelas, mulai terbentang. Repotnya, banyak yang terpeleset, banyak yang tertancap paku, menangis dan ngambek, dan banyak yang kehilangan arah menemukan titik tak berujung. Menyerah, mundur, merasa terasing dengan karya dan industrinya sendiri hingga kemudian memilih keluar dari lingkaran setan yang dianggapnya tak punya potensi apa-apa.

Lalu apa gunanya festival-festival hebat itu? Tentu bukan salah festivalnya tentu saja. Festival itu hanya jadi “pintu gerbang” masuk ke akses yang susah ditembus. Ketika sudah di dalam gerbang, tentu banyak hal yang akan dilihat dan dihadapi tadi.  Ada malaikat, iblis, “tuhan”  dan krucil-krucil penggembira yang beredar.  Jangan salah gaul ajah. Kalau ada yang eksis sampai sekarang, tentu Anda bisa menebak, mereka memang punya potensi dan bertemu dengan siapa di industri. Tapi kalo yang gagal dan belepotan, tidak usah disebut mengapa.

Kemana jebolan festival-festival hebat itu? Kemana festival-festival hebat itu bermuara?