Sebenarnya bagus, ketika wong cilik menemukan tempat untuk menumpahkan unek-unek kehidupannya.  Bisa terkesan melarat tapi bahagia, atau menderita dan perlu pelampiasan untuk didengar. Dan dangdut adalah enigma dari sebuah arus bawah yang nyaris [selalu] terabaikan. Enigma artinya adalah misteri atau teka-teki.

"dangdut adalah entitas budaya marjinal yang masiv"
“dangdut adalah entitas budaya marjinal yang masiv”

DI RANAH musik Indonesia, diakui atau tidak, dangdut menjadi paradoksal dunia hiburan. Dicari-cari karena dianggap punya rating bagus di televisi dan panggung, tapi dicaci maki karena [masih] dianggap musik kampungan, curhatan rakyat jelata dan genre marjinal. Boleh saja pengamat musik mengatakan, dangdut sudah “naik kelas” menjadi lebih bergengsi dan diperhitungkan, atau dangdut sudah naik kasta. Padahal buat saya, pernyataan-pernyataan itu justru menjadi pembenaran kalau selama ini industri musik menepikan dangdut. Menjadi musik yang [seolah] di-egeliter-kan.

Seorang profesor di Amerika Serikat, Prof Andrew Weintraub PhD dari University of Pittsburgh USA, sebelu memulai risetnya tentang dangdut, mencoba mencari penggalan sudut pandang dari kolega-koleganya. Dan apa pendapat mereka? “Segerombolan perempuan minim, bergoyang-goyang pinggul.” Mungkin Anda yang mengaku metropolis, setuju dengan pendapat itu?

Dari sudut pandang saya, dangdut sudah menemukan root-nya dan tidak usah mengubah esensi lagu, yang menjadi enigma marjinal itu. Tidak ada yang berdosa, saat mengatakan dangdut musik norak atau kampung, tapi tidak ada yang dipermalukan juga saat seseorang mengatakan mengidolai musik dangdut, sama dengan musik lain yang dianggap punya kelas dan kasta lebih tinggi. Kebanggaan berdiri sama tinggi dengan musik lain, haruslah dipertahankan. Betul, musik dangdut lebih kerap dimainkan di level terendah dalam kasta kemanusiaan. Betul, dangdut sesekali terjebak pada erotisme ketubuhan –yang sebenarnya dilakukan genre lain juga—tapi mengapa hanya dangdut yang jadi korban?

"paling mudah masuk ke level masyarakat manapun." -- foto: Kristanto Purnomo - Kompas Images
“paling mudah masuk ke level masyarakat manapun.” — foto: Kristanto Purnomo – Kompas Images

Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music. Beberapa musisi terkenal luarnegeri, seperti Lady Gaga malah meletakkan intro dangdut sebagai bridge sebelum masuk ke banda lagu.  Meski saya berkali-kali bilang, betapa dangdut menembus jajaran elit musisi kelas dunia, tapi akan tetap saja disebut dan dianggap sebagai musik marjinal. Banyak lagu dangdut yang bertema sosial dan mengangkat realita kehidupan ketika orang-orang terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa, ketika melihat ketidakadilan dan ketidakmanusiaan.

Yang harus dikikis mungkin adalah, identifikasi dangdut dengan ketubuhan. Artinya, selain audio yang kudu punya cengkok khas, visual yang sensual, cantik, menggoda dan sedikit “nakal” adalah pakem wajib di dangdut. Maaf, saya harus berseberangan dengan pendapat itu. Dangdut adalah pengejawantahan realita sosial yang tersumbat, menetes dalam lirik-lirik marjinal yang mungkin saja berisi keluhan, gugatan atas ketidakadilan, atau penderitaan yang identik dengan kemiskinan. Hal lain yang perlu dikikis adalah, lirik dangdut sering dianggap tak punya makna, terlalu dangkal, dan bahasanya kampungan. Begitukah?

Bagi saya, dangdut memang harus mempertahankan marjinalitasnya. Sementara musik lain sering dilihat tak terjangkau masyarakat kebanyakan, dangdut kerap dianggap mewakili proletarian yang masiv. Weintraub, profesor dangdut itu berargumentasi:

Dangdut tak hanya sebagai refleksi langsung atas politik nasional dan budaya, tetapi Dangdut sebagai praktik ekonomi, politik dan ideologi yang telah membantu membentuk gagasan masyarakat terkait kelas, gender dan etnisitas dalam bangsa-negara Indonesia moderen.”

Tapi yang harus ditegaskan: dangdut adalah hiburan alternatif dan berskala massa, dan merupakan ruang katarsis yang berdampak pada gairah hidup rakyat di level bawah. Itu tidak usah dipatahkan. Apakah kemudian itu menjawab enigma dangdut sebagai musik perlawanan? Jawabnya: IYA.