Untuk generasi yang lahir tahun 2000an, nama God Bless mungkin hanya didengar lewat perbincangan orangtua, om, tante atau malah opa oma.  Masih mending sekarang bisa nguplek  di youtube untuk tahu lagunya. Terlepas dari silang sengkarut kehidupan personelnya, band ini adalah artefak hidup, yang lincah bertutur tentang perjanan musik [rock] di Indonesia.

 

"god bless, tak mendadak rock untuk bisa menjadi legenda di Indonesia"
“god bless, tak mendadak rock untuk bisa menjadi legenda di Indonesia”

Band yang kerap gonta-ganti formasi –khususnya drumer dan kibor—diakui atau tidak, menjadi saksi hidup naik turunnya perjalanan musik Indonesia, hingga sebesar sekarang ini. Legenda? Pasti banyak yang setuju kalau saya sebut band ini disebut legenda. Karena memang sudah pantas dikategorikan disitu.  Formasi terakhir ketika konser di Bandung akhir Agustus 2014 adala Ahmad Albar [vokal], Donny Fattah Gagola [bass], Ian Antono [gitar], Abadi Soesman [kibor] dan  Fajar Satritama [ini sebenarnya drumer Edane].

Kalau bicara biografinya, Anda bisa menemukan di banyak tempat. Tapi saya ingin mengajak kita mempelajari filosofi dan konsistensi band gaek tersebut. Mengapa mereka bisa bertahan, sementara ratusan bahkan ribuan band baru yang lebih fresh, muda dan bagus, bermunculan tiada henti. Pernah ada masanya God Bless seperti hiatus dan berhenti berkarya, tapi toh kemudian mereka muncul lagi dan eksis.

Hal terpenting yang harus dijadikan contoh adalah: fokus. Kelemahan musisi sekarang adalah banyak yang berkehendak instan. Punya karya, laku, ngetop dan kaya.  Agak bias memang membandingkan perjuangan God Bless di masa lalu dengan band-band masa kini. Tapi justru itulah yang memberikan perbedaan mencolok. Tahan banting! Kalau melihat dan membaca cerita masa lalu God Bless, tidak selalu cerita indah dan manis yang dikecap. Tapi mereka menyadari, ada tujuan bermusik yang ingin mereka raih. Dan itu dikejar, bahkan hingga saat ini.

God Bless menempatkan musik rock, sebagai: seni yang mampu memberikan pengalaman estetik, pengalaman emosi, pengalaman keindahan, atau pengalaman yang khas untuk dirinya. Clive Bell memaknakan kualitas seni yang demikian itu sebagai significant form atau bentuk bermakna. Tidak semua karya seni, bahkan yang kita anggap besar sekalipun, memiliki kualitas bentuk bermakna tadi. Hal yang diraih dengan darah dan air mata tentu saja.

Bagaimana dengan musisi kekinian? Meski digadang-gadang kreatifitasnya melesat, tapi konsistensi, focusing, menjalani pengalaman esoterik dalam perjalanan musikalnya, tak cukup mampu membuat mereka bertahan. Maunya instan naik, dan apa boleh buat, instan pula ambruknya.