Dalam salah satu konperensi pers acara musik di Jakarta, saya sempat ditegur musisi yang saya tanya. “Mas kok nanya melulu dan pertanyaannya selalu tentang kekuatiran. Biar kami-kami musisi yang kuatir, mas tidak usah kuatir,” sentil ketika menjawab pertanyaan saya. Selintas saya berpikir: adakah yang salah dengan pertanyaan ada kekuatiran? 

"jurnalis itu bukan kambing congek yang hanya dicekoki informasi searah!"
“jurnalis itu bukan kambing congek yang hanya dicekoki informasi searah!”

SAKING seringnya bertanya dengan kritis, ada beberapa kawan yang menahbiskan saya: ‘sejak lahir ditakdirkan untuk bertanya’. Saya tahu itu lelucon kawan-kawan, tapi saya juga sadar, sebagai jurnalis –yang konon kabarnya adalah profesi yang paling banyak tahu banyak hal—bertanya, kritis dan skeptis dengan informasi normatif di depan khalayak, selalu layak untuk dicermati. Saya selalu terganggu dengan data-data “manis” yang ada di rilis, karena biasanya ada hal-hal lain yang tidak disampaikan. Sayangnya, banyak jurnalis muda sekarang berhenti di tataran rilis saja. Mereka cukup puas dengan informasi mentah yang harusnya bisa ditelusuri lagi.

Satu hal yang menancap di kepala saya ketika pertama berkarier sebagai wartawan dalah: SKEPTIS. Hal itu diucapkan olehh mentor saya, yang ketika itu adalah redaktur di salah satu harian terkenal ibukota. Mentor saya itu dikenal sebagai wartawan yang rewel soal data formal dan informal. Dan teknik itulah yang kemudian dibagikan kepada kami, kadet-kadet jurnalis baru, ketika itu. Dan kalau saya sedang memberikan training jurnalistik kepada anak-anak baru, ‘doktrin’ itu juga saya bagikan. Karena buat saya, wartawan harus bertanya dan menelisik, kalau ingin mendapat informasih dan berita yang berbobot.

Kembali dengan musisi atau siapapun narasumber yang “terganggu” dengan pertanyaan-pertanyaan saya, silakan untuk mempersiapkan jawaban atau data yang tidak Anda sebut di rilis. Buat saya, rilis hanya “jembatan” untuk memahami persoalan atau peristiwa. Tapi dibalik peristiwa itu biasanya ada informasi lain yang bisa digali. Menelaah jawaban musisi yang saya kutip di atas: apakah wartawan dilarang kuatir dengan persoalan yang terjadi dan itu bagian dari kajian pelipuatannya? Apakah wartawan harus menerima informasi manis-manis saja, dan membiarkan yang pahit-pahit ditelan mentah-mentah oleh narasumber? Kalau wartawan membiarkan hal itu terjadi, saya harus katakan: wartawan itu bodoh!

Anggap saya jurnalis yang tidak tahu apa-apa tentang satu peristiwa. Ketika saya ditugaskan untuk mencari tahu dan meliput peristiwa tersebut, saya akan mencari tahu dari berbagai sumber yang kompeten. Dan saya akan bertanya, karena saya tidak tahu. Tugas narasumber, siapapun dia, adalah memberitahu informasi yang saya tanyakan. Apapun itu, selama data dan informasinya pantas diberikan. Kalau bertanya saja sudah dianggap “meresahkan” narasumber, sejatinya profesi jurnalis itu sudah masuk “warning” loh.

Nyaris separuh karier jurnalistik saya ada di ranah industri musik. Semua informasi musikal apapun, saya mendapat informasinya. Kalau memang menarik dan pantas diwartawakan, pasti diberitakan dengan pendalaman materi yang saya lakukan. Saya pernah masuk kategori wartawan yang “tidak diinginkan kehadirannya“ oleh salah satu promotor, hanya karena pertanyaan saya tidak disukai. Saya juga sering masuk kategori wartawan yang “mulutnya harus direm” supaya tidak mengajukan pertanyaan. Mengapa? Karena dengan data sekunder yang sebelumnya saya punya, narasumber lebih sering kebingungan untuk menjawab. Apakah mereka tidak siap ditanya?

Saya sering dianggap “kejam” hanya karena bertanya, yang sayangnya selalu membikin panik musisi atau label yang duduk berhadapan muka dengan saya.  Mungkin kalau sekarang saya dianggap “pencitraan” biar terkesan kritis, aktual dan berwawasan. Maaf, berarti yang menuding itu baru kenal saya seminggu paling mentok. Diluar itu, wartawan-wartawan muda dari media apapun, harusnya dibekali kemampuan untuk lebih kritis dengan satu isu yang muncul.

Sayangnya, atas nama kecepatan update, jurnalis sekarang terjebak menjadi “jurnalis rilis, jurnalis kloningan, jurnalis kambing congek atau jurnalis ala kadarnya!”

Tenaaaaaang, bukan kamu, kamu, dan kamu kok. Tapi dia. Eh, dia siapa ya?