Bagaimana rasanya  kompromi total dengan industri musik yang pernah diimpikan? Kesalahan atau langkah cerdik untuk diterima pasar? Kalau kebingungan menjawabnya, tanyakan pada Mosca, band pemenang salah satu festival rock, tapi single-single yang dirilisnya malah amat ngepop.

MENYANDANG gelar jawara festival rock, tentu teramat berat di kondisi industri yang naik turun seperti sekarang. Belum lagi genre rock yang posisinya belum mencuat kembali, meski di panggung tetap ramai.  Mosca bukannya tak sadar hal itu. “Memang, masuk label dan industri yang sesungguhnya membuat kami banyak belajar, termasuk soal membaca keinginan pasar,” jelas Virda [vokalis], didampingi Haney [drum], Keken [gitar], dan Raymond [bass] ketika chit-chat dengan saya, beberapa waktu lalu.

"ki-ka: Raymon [bass], Virda [vokal], Keken [gitar] dan haney [drum]"
“ki-ka: Raymon [bass], Virda [vokal], Keken [gitar] dan haney [drum]”

Mengalami pasang surut dalam perjalanan panjangnya, Moscha –oh iya, ini artinya terbang dari bahasa Italia—termasuk band yang punya peruntungan bagus. Bagaimana tidak, mereka tidak ernah ikut festival musik sebelumnya, ketika ikut langsung jadi juara dan kontrak rekaman dengan label besar. “Kami bukan band festival. Ini festival pertama yang kami ikuti dan langsung juara,” imbuh Virda, satu-satunya makhluk berkelamin perempuan dalam formasi band ini.

Rock menjadi kosakata yang cukup riskan buat Mosca. Single pertama paska juara, ‘Cinta Terakhir’ rilis tahun 2012 silam. Respon yang lumayan, membuat band yang digadang-gadang bakal jadi band rock komersial ini, punya ambisi lebih. Lagu medium tersebut sebenarnya tak memberikan petunjuk jelas bahwa Mosca adalah penganut rock, tapi sudahlah, siap tahu lagu berikutnya ada perubahan. Maaf, saya harus geleng-geleng kepala ketika menyimak lagu terbaru mereka ‘Tak Bisa Menggantikanmu’ [2014] ciptaan Teguh Vagetoz. Temponya lambat, dengan aksen Melayu di beberapa part. Mereka bukan band rock, tapi pop.

Di panggung dan di album yang sedang kami kerjakan, warna rock-nya akan kental terasa,” kilah Keken yang nimbrung bicara. Malah ada nama Budi Haryono dan Baron terlibat disana. Durasi kontrak dengan label yang cukup lama, diakui Mosca menguntungkan sekaligus merugikan. “Menguntungkan karena kami bisa belajar banyak tentang industri dan label. Kerugiannya, kami tidak bisa cepat-cepat merilis album yang sesuai dengan karakter dan ciri Mosca,” beber Virda lagi. Ini ada korelasinya dengan lagu pop yang disepakati, sementara brand Mosca adalah rock.

Paling tidak Mosca belajar bagaimana membuat band dan impian mereka berjalan. “Dulu, kami sudah pernah nyaris masuk label, tapi di detik terakhir tiba-tiba kami diputus sepihak. Sempat drop waktu itu, tapi ternyata itu jadi pembelajaran penting buat kami sekarang,’ jelas Virda sembari menyebut salah satu label minor di Jakarta.  Masuk label adalah mimpi mereka sejak lama, alhasil kini mereka berusaha untuk mempertahankan kualitas diri dan musikalitasnya, sembari merancang promo lewat manajemennya.

Kalau kalau kita hanya senang ketika bisa masuk label, sebenarnya kita bunuh diri. Karena sebagai band kita juga harus punya strategi tidak hanya mengandalkan promo label yang memang sudah seharusnya mereka lakukan. Itu pembelajaran penting ketika bicara eksistensi band,” tegas Haney, personel yang sebenarnya termasuk masuk belakangan. Menurut Mosca, label itu jembatan bukan tujuan. Setuju?