Berani taruhan, Anda tak akan pernah hapal nama lengkap dengan gelar kebangsawanannya. Ok, silakan dihapal:  Rupert Louis Ferdinand Frederick Constantine Lofredo Leopold Herbert Maximilian Hubert John Henry zu Löwenstein-Wertheim-Freudenberg, Count of Loewenstein-Scharffeneck. Bangsawan asal Jerman yang lahir di Malorca Spanyol ini adalah manajer keuangan The Rolling Stones. Tidak pernah tahu? 

"jagger dan rupert, awalnya sama-sama tidak tahu profesi masing-masing"
“jagger dan rupert, awalnya sama-sama tidak tahu profesi masing-masing”

BANYAK pengamat musik dan analis keuangan di Inggris yang mengatakan: tanpa Prince Rupert Loewenstein –begitu nama singkatnya—The Rolling Stones tak akan jadi merk global, dan [mungkin] hanya jadi band ngetop di daratan Inggris dan sebagian Eropa. Rupert sebagai keturunan bangsawan, ketika itu berkecimpung dalam dunia perbankan dan menjadi pialang saham. Tak heran, kalau awalnya dia tak mengenal [atau malah tak menyukai] rock n’roll apalagi Stones.

Perkenalannya dengan band Inggris ini, ketika Rupert diperkenalkan dengan Mick Jagger oleh seorang agen seni yang juga sahabatnya, Christopher Gibbs, tahun 1968. Ketika itu, nama The Rolling Stones sudah mulai dikenal di seantero Inggris dan Eropa. Lucunya menurut Keith Richard, ketika diperkenalkan pertama kali, Rupert bahkan tak mengenal siapa Jagger, yang sudah jadi rockstar baru. Jagger juga mengira, manajer Stones, Allen Klein, tidak membayar kredit atau pinjaman yang sudah jatuh tempo ketika diperkenalkan dengan Rupert.

Dua manusia “buta satu sama lain” ini, akhirnya justru menjadi kekuatan yang dahsyat secara manajerial. Rupert sudah melihat visi untuk menjadikan The Rolling Stones sebagai “merek global” dan menjadikan mereka [kelak] sebagai band terkaya di dunia. Secara resmi, Rupert menjadi semacam konsultan keuangan band rock n’roll ini. Rupert membenahi kinerja kontrak kerja mereka, apalagi yang berhubungan dengan pajak. Dia juga membujuk band ini untuk pindah ke Perancis Selatan, karena di Inggris, pajaknya dianggap “mencekik leher”.

"kelak, rupert-lah yang membuat the rolling stones punya kekayaan sampai sekarang."
“kelak, rupert-lah yang membuat the rolling stones punya kekayaan sampai sekarang.”

Keuntungan apapun dari The Rolling Stones, disalurkan di beberapa perusahaan yang berbasis di Belanda. Band ini juga berlatih di Kanada setiap akan memulai tur, bukan di Amerika Serikat, untuk menghindari pajak yang menjerat. Rupert juga yang berinisiatif mendaftarkan hak cipta logo band, lidah merah menjulur. “Kalau tidak karena dia, mungkin kami saat ini tidak menikmati apa yang sudahh kami raih,” kata Richards.

Lucunya, meski dekat dengan band rock n’roll terbesar, Rupert tidak pernah terlibat dalam musik. Dia mengatakan ia lebih suka musik klasik. Kalau “dipaksa” untuk mendengar rock n’roll, terang-terangan dia memilih The Beatles. Nah loh….