“Aku mengakhiri pertandinganku dengan baik.”

Kalimat itu, biasanya diucapkan dituliskan atau dikatakan ketika seseorang meninggal dunia. Artinya adalah, orang itu sudah melewati kehidupan dan mengakhirinya dengan baik. Ibarat atlet, dia sudah sampai di finish dengan hasil terbaik. Meninggalkan karya dan nama yang dikenal dengan indah. 

KITA sering membuang waktu dengan hal-hal yang tidak berguna. Melakukan aktifitas sia-sia, tanpa melahirkan karya apa-apa. Sebagai jurnalis, saya juga sering melakukannya. Berdiam diri tanpa melakukan hal-hal berguna untuk diri sendiri dan masyarakat sekitar. Seperti apa? Jurnalis tulis, tentu selain perilaku kehidupannya, juga dilihat dari karya tulisannya. Apakah tulisannya memberi dampak positif kepada pembacanya, atau justru menimbulkan keresahan yang membuat banyak orang bertanya-tanya dengan gelisah.

Sebagai manusia yang diberi talenta “memengaruhi” manusia lain lewat tulisan, saya mencoba bersikap jujur dan apa adanya setiap menulis. Tidak 100 % begitu, karena kadang-kadang saya menjadi “pelacur” dengan menulis hal-hal menyenangkan pemesan.

Faktanya adalah kita memang tidak bisa hidup dalam tataran ideal yang seideal-idealnya. Ada kompromi dan penggadaian idealisme. Salah? Tergantung dari sudut mana Anda melihatnya. Kalau egosentris yang muncul, kompromi bisa jadi kesalahan. “Pokoknya” jadi kata sakti yang membuat kita seolah ksatria yang tanpa tanding. Padahal tidak. Dan apakah tidak ideal itu sebuah dosa tak berampun? Tentu saja tidak. Ada pilihan kehidupan yang kita lakoni dengan imbas besar yang baik kepada manusia lain. Meski mungkin, kita jadi korban [baca: tumbal].

Satu hal penting yang kerap kita abaikan adalah: kita melakukan hal baik karena ada imbalan pahala. Buat saya, apapun kebaikan yang saya lakukan, karena memang seharusnya kita melakukannya. Sebagai manusia yang diciptakan punya rasa kemanusiaan [kecuali Anda sudah “mematikan” kemanusiaan Anda], yang disebut pahala itu tak akan pernah kita sebut. Just do it and do it! Saya tidak bicara keyakinan tertentu yang mungkin mengagungkan pahala sebagai reward kebaikan yang kita lakukan, karena itu juga bukan kesalahan.

Disebut baik atau jahat, kemudian bukan urusan kita lagi. Konon, di abad yang makin permisif ini, kebaikan menjadi barang langka yang harganya mahal. Benarkah? Saya yakin tidak. Karena saya masih kerap menemukian kebaikan-kebaikan yang dengan murah diberikan kepada manusia lain, bahkan diberikan secara Cuma-Cuma. Artinya, manusia yang sadar bahwa dirinya adalah personifikasi karakter pencipta dengan semua sisi baiknya, pasti akan memilih berkarakter seperti penciptanya.

Saya tak habis pikir, manusia-manusia yang secara artifisial terlihat agamis, religius atau mengklaim dirinya “rajin ke tempat ibadah”, tapi secara ralitas ternyata lebih busuk ketimbang penjahat yang sudah jelas-jelas disebut jahat. Apakah kehidupan dan karya kebaikan hanya diperlihatkan dengan kutipan-kutipan ayat suci? Apah yang disebut ‘memanusiakan manusia” itu ketika kita jadi “penjaga temnpat ibadah” – apapun itu, tapi tak pernah benar-benar memaknai maksud keberibadahannya? Buat saya, semua hanya jadi “slogan persetan” yang sia-sia.

Apakah saya yang menulis secara eufemisne ini juga kemudian jadi lebih baik ketimbang kaum artifisial itu? Belum tentu juga. Tapi saya hanya mengingatkan diri sendiri, saya manusia yang hidup bersama manusia lain. Saya akan dicintai dan menjadi keluarga manusia lain, ketika saya memilih memeluk mereka sebagai bagian kemanusiaan tanpa batas, tanpa perbedaan, tanpa kesemuan yang munafik, dan tanpa pamrih bernama pahala dan pujian. Saya menulis, bersikap dan berkata-kata bukan untuk menyenangkan orang lain atau diri saya sendiri, tapi untuk sebuah kebaikan hakiki bahkan ketika kelak saya sudah mati.

Ketika saatnya kelak kembali menjadi tiada, saya bisa mengatakan: “Aku mengakhiri pertandinganku dengan baik.”