Semakin lama belajar tentang pencipta, semakin saya menempatkan dia pada tempat yang maha asyik. Maksudnya: pencipta manusia, bukan sosok yang egois dan selfish sehingga menjadi kejam dengan aturan-aturan kaku yang membelenggu otak, sikap dan ucapan. Dia –dengan istilah apapun disebut—adalah personifikasi karakter plural, heterogen dan maha asik.

BUKAN untuk menjadi pembenaran tatkala saya mengatakan, ibadah saya berbentuk kepasrahan batin dan hati, bukan artifisial di depan manusia. Saya mengimani –betul, iman, satu karakter dasar manusia yang meyakini sesuatu yang besar diluar dirinya—ada zat atau ruh, atau dimensi yang besar, kuat dan mengatur tiap hembusan napas. Tapi saya menolak sebutan itu menjadi ekslusif dan mutlak milik kelompok, komunitas, atau masyarakat tertentu saja. 

"berserah kepada pencipta yang asyik itu indah"
“berserah kepada pencipta yang asyik itu indah”

Mungkin saya penganut pemahaman, setiap manusia punya penciptanya masing-masing. Kalau kemudian ada yang merasa punya pencipta sama dan kemudian “bersatu’ dalam satu komunitas, silakan saja, tapi jangan pernah memaksakan pemahamannya itu kepada manusia lain yang juga merasa punya ‘pencipta’ yang berbeda.

Mengapa saya sampai pada pemahaman itu? Keberadaan saya sebagai manusia di dunia ini, tentu bukan sebuah kebetulan, atau keisengan pencipta yang bengong tidak ada kerjaan. Buat saya ada sosok yang dahsyat, mencipta milyaran manusia, tak ada yang sama, dengan karakter dan pemikiran yang milyaran juga perbedaannya. Tentu saja kita tidak bisa menyatakan diri sebagai ‘kekuatan yang tunggal’ kepada milyaran napas yang berhembus itu.

Mungkin memang tunggal sejatinya, tapi manusia memanisfestasikan bentuk dan wujudnya dalam banyak ragam. Salahkah? Buat saya tidak, karena personifikasi bentuk pencipta itu, lahir dari pengalaman, pemahaman, pengetahuan, dan kekayaan batin yang tidak semua sama.

Saya mungkin punya pilihan sosok pencipta yang saya anut, tapi Anda juga punya yang berbeda. Tapi haruskah saya memaksa Anda untuk setuju dengan sosok imajiner yang muncul dari pengalaman spiritual pribadi saya?

Betapa jahatnya saya, kalau Anda harus –sekali lagi, harus—ikut dengan saya, sementara Anda punya pengalaman spiritual yang berbeda. Mengapa tidak kita yakini pengalaman itu, sembari berdialog mencari cinta, kasih dan kebaikan untuk saling menguatkan.

Saya menyapa pencipta yang saya yakini, dimanapun tempatnya. Mungkin saya sedang di klenteng, vihara, masjid, gereja, kuil, atau berkemah di hutan sekalipun. Saya berhening diri, berdialog dengan mata batin, dan memberikan penyembahan personal dengan keindahan batin yang juga saya rasakan dan nikmati. Bagi saya, kebenaran mutlak itu hanya kita ketahui kelak ketika pengadilan dunia datang. Entah kapan dan siapa hakimnya.

Apakah kemudian saya menafikan agama, nabi, rosul, atau orang-orang suci yang pernah lahir di dunia? Jawaban saya tegas: tidak! Selalu ada manusia-manusia terpilih yang mewartakan kebaikan kepada manusia lain. Mereka punya keyakinan dan pilihan siapa pencipta yang dianut. Bahkan mereka mendengar suara pencipta langsung, memberikan instruksi kebaikan kepada manusia dan dunia.

Dan betapa naifnya manusia yang menganggap kehadiran mereka tidak penting, karena mereka adalah pengingat: kita muncul di dunia dengan peran yang tidak pernah sia-sia.

Ibadahku adalah pasrahku. Disana ada sikap tepekur, berserah dan merendahkan hati.

Dan saya yakin, kepasrahan itulah yang disukai pencipta, bukan sekadar berkoar-koar: “Tuhan…Tuhan, Akulah Pembela Sejatimu!”. Dia yang disebut Tuhan, tidak perlu dibela. Kita, saya dan Anda yang perlu dibela oleh-Nya. Kita bisa apa membela-Nya? Tapi Dia bisa apa saja membela kita.Tapi mengapa Dia harus dibela? Dan mengapa Dia harus membela kita?

Kita adalah tuan atas diri kita sendiri, bukan budak dari pemaksaan kebenaran manusia lain. Kepasrahan batin, hati dan jiwa, adalah garis lurus menuju pemahaman ilahi. Bersatunya keimanan kita dengan ruh pencipta yang kita yakini. Dengan apapun Dia disebut.