Apa kabar musisi Indonesia? Semoga jargon “menjadi tuan rumah di negeri sendiri” benar-benar masih berlaku. Karena itu artinya, musisi dan musik lokal mendapat apresiasi yang sama dengan musisi internasional yang berseliweran konser di Indonesia. 

"musisi lokal perlu mendapat kestimewaan yang sama""
“musisi lokal perlu mendapat kestimewaan yang sama””

BEBERAPA kali saya ngobrol dengan musisi papan atas di Indonesia, tentang impact dari membanjirnya konser-konser musisi asing di Indonesia. Jawaban mereka selalu sama: sebenarnya, tidak ada pengaruh apa-apa pada musisi Indonesia. Benarkah? Saya mencoba menelisik kepada beberapa musisi yang beberapa kali menjadi opening dari band-band besar ketika konser di Indonesia. “Kami hanya menambah deretan manggung di curriculum vitae saja!”.

Bahwa kemudian muncul jawaban-jawaban pembelajaran soal produksi panggung, disiplin waktu, kualitas sound, ajakan kolaborasi dan [mungkin] transfer of knowledge soal kemampuan musikal, itu tidak dapat dipungkiri. Jam terbang dan kualitas alat, membentuk mereka –musisi bule itu—menjadi musisi yang benar-benar dipersiapkan dengan profesional. Kalau sebatas itu, saya setuju. Karena memang learning by doing salah satunya dengan melihat idola atau kru-kru dari band kelas dunia itu.

Tapi bagaimana penghargaan terhadap band lokal itu sendiri? Setiap menyaksikan konser tunggal band atau musisi lokal, apalagi dengan tiket yang setara konser bule, tanpa dikomando semua penikmat musik lokal akan berteriak: Mahaaaaal! Tapi sadarkah Anda, ketika konser bule dipatok dengan harga sama, selalu sold out. Alasannya karena musisi lokal bisa ditonton kapan saja. Tapi pernahkah kita berpikir, untuk konser tunggal, musisi lokal pasti akan berlatih keras untuk tampil dengan prima dan memberi kebanggaan kepada diri sendiri dan juga penggemarnya. Mereka tidak main-main mempersiapkan diri di atas panggung.

Saya ingat ketika Krisdayanti atau Rossa menggelar konser tunggal, nyaris semua membelalak ketika tiketnya menembus kisaran juta. Apakah mereka tidak pantas dihargai mahal? Atau semua yang disebut “lokal” kemudian harus kompromi dengan standar lokal saja. Meski saya sendiri kadang bingung ketika disebut standar lokal. Apa sih itu?

Saya bersyukur kalau ada orang-orang “gila” yang berani mementaskan musisi lokal, tapi dengan kemasan dan standar dunia dalam setiap detil pengerjaannya, mungkin termasuk honornya. Biarlah pembelajaran dari musisi asing terus berjalan, tapi eksistensi musisi lokal juga harua makin menonjol. Kelak, mengapa tidak musisi asing belajar ke Indonesia?

Dari kacamata pribadi saya, sebenarnya Indonesia “terlambat” memberi penghargaan kepada musisi lokal dalam bentuk konser tunggal. Saya bisa memaklumi, ketika promotor atau siapapun masih berhitung soal untung rugi. Wajar, karena mereka menanamkan modal yang tidak sedikit. Biasanya saling menunggu sampai ada “tumbal” yang membuka mata saya, musisi Indonesia amat layak mendapat nilai lebih di negerinya sendiri.

Mengapa kita tidak belajar kepada Korea Selatan, yang berani “mengeksport” musisi-musisi “baru jadi” ke seluruh dunia? Padahal proses perjalanan industri musik Korsel,  masih lebih baru ketimbang Indonesia. Malu?

Kepada EO atau promotor [apalagi yang baru-baru –red], belajarlah menikmati pekerjaanmu. Beri angin kepada musisi lokal, bukan hanya sebagai jadi “kambang congek’ dan kasak-kusuk untuk “mendongkel” musisi lokal, karena [mungkin] tidak mendapat untung. Kalau hanya menambah CV sebagai opening, bukan tidak benar, tapi jangka panjangnya apa? Semoga sudah dipikirkan.