Era 80an, disebut-sebut sebagai ‘puncak’ kreatifitas musik dunia, termasuk Indonesia. Krakatau adalah nama band yang layak disebut sebagai salah satu penghuni keindahan musikalitas era itu. Sayangnya, seperti laiknya band-band lain, Krakatau juga dijejali personel yang berganti-ganti. Beruntungnya, mereka masih mau mengelar konser reunian. Beruntung juga, penulis bisa mengulik dibalik ngumpulnya Indra Lesmana [kibor], Dwiki Dharmawan [kibor], Gilang Ramadhan [drum], Pra Budi Darma [bass] Donny Suhendra [gitar] dan Trie Utami [vokal].

"personel utuh krakatau band" -- foto: newsmusik.co
“personel utuh krakatau band” — foto: newsmusik.co

Puluhan tahun berpisah dan berkarya sendiri-sendiri, bagaimana rasanya bisa ngumpul lagi di band yang membesarkan kalian dulu?

Tentu saja jadi momen yang luarbiasa buat kami. Kami merasa puas banget, apalagi  ternyata banyak penonton yang benar-benar siap dan tahu dengan materi-materi lagu yang kami bawakan. Itu seperti energi yang menyenangkan ketika kami terima.

Saya melihat Krakatau lebih rileks dan tetap bisa bersinergi dengan santai, meski mungkin sudah lama tidak main bareng. Betul begitu?

Secara materi, sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan awal kita berkarier dulu. Betul, kami sekarang lebih tenang dan rileks, tidak tegang. Dulu mungkin kami masih muda ya, jadi kadang-kadang muncul deg-degan di atas panggung. Jujur saja, kami semua merasa have fun dan ternyata fun itu memberi energi yang bisa kita share kepada penonton.

Perjalanan panjang Krakatau, membuat Anda paham betul bagaimana indutri musik Indonesia berevolusi. Tapi ada nggak yang membuat Anda eneg, tapi Anda harus tetap bertahan di tengah rasa itu?

Dari sisi industri, musik Indonesia itu tidak menampilkan genre dan eksplorasi yang luas, itu-itu saja. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Kalau kami bilang, ada ketidakseimbangan antara estetika di industrinya. Diluar itu, Krakatau harus juga memperhatikan penggemar lama dan baru, supaya kami tetap punya semangat untuk berkarya dengan bagus.

Kalau dihubungkan dengan musik kekinian, bagaimana Krakatau menerjemahkan karya-karya yang sudah dibikin?

Mungkin lagu-lagu Krakatau itu bisa disebut lagu yang peka zaman. Artinya, lagu-lagu kami tidak akan lekang oleh waktu dan bisa dibawakan pada era apapun dengan sama enak dan menariknya ketika pertama kali ditampilkan dulu. Kami ingin, setiap lagu kami bisa jadi materi yang enak dinikmati kapan saja.