Secara sintaksis, kalimat yang jadi judul di atas agak “aneh” memang. Sedikit tidak lazim. Ketidakmungkinan yang disemogakan. Tapi kalau kita sedikit berpikir “meliar” kalimat itu punya pengejawantahan yang bisa amat dalam, tapi bisa juga tak berarti apa-apa atau tanpa makna.

"terjebak di antara ketidakmungkinan ang disemogakan"
terjebak di antara ketidakmungkinan yang disemogakan”

PERMAINAN  kata yang muncul memang memberi banyak teka-teki. Ini bisa jadi seperrti maze, atau labirin yang perlu berputar-putar dulu sebelum menemukan jawabannya.Bagaimana mungkin sesuatu yang jelas-jelas tidak mungkin, malah disemogakan.

Ibarat doa, kalimat itu semacam permintaan yang [mungkin] saja Tuhan tidak kabulkan. Mengapa? Karena terjerat aturan yang disebut norma, pranata, atau tata krama. Entah siapa pembuatnya, tapi itu kesepakatannya.

Lalu apakah itu menjadi kalimat atau kata-kata yang hanya sekadar jadi kata-kata tanpa makna? Tidak ada upaya perlawanan atau ‘menuntut” untuk “semoga” itu menjadi “terjadi”. Entahlah, karena kalimat itu sebenarnya menunjukkan keinginan, sekaligus keraguan. Ragu untuk mencapai, tapi ingin ada di tujuan itu. Ada niat, tapi ada sedikit ketakutan. Kalimat dan kata-kata yang terbaca paradoksal.

Dalam konteks politis, kalimat itu tentu amat bersayap. Yah, sedikit harapan untuk mendapatkan apa yang menyenangkan. Paling tidak ada kans untuk punya harapan. Soal hasil akhir, memang hasilnya tidak melulu sama dengan apa yang diharapkan. Kalau dalam bahasa filsafat das sein tidak selalu das sollen. Delusi dan konklusi juga tidak linier.

Ada kalanya, keinginan untuk mendapatkan sesuatu tampak tak mungkin, tapi berharap itu menjadi mungkin, tidak pernah dilarang kok.