“Aku takut pada hari dimana teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi yang idiot” [Albert Einstein]

Berbahagialah Anda yang lahir sebelum era smartphone ada. Bergembiralah Anda yang tumbuh besar tanpa repot dengan urusan tablet, phablet, atau gadget-gadget yang membombardir mata, dan mengulik hasrat untuk memilikinya. Phone semakin smart, tapi people penggunanya makin stupid. Kok bisa? Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Albert Einstein dalam kutipan di atas.

"selamat datang generasi ndingkluk, generasi idiot baru"
“selamat datang generasi ndingkluk, generasi idiot baru”

SETIAP berkumpul dengan kekasih, kawan, sahabat atau kenalan, saya nyaris seperti alien. Makhluk asing yang tidak dikenal. Bedanya, mereka tidak ada yang takut dengan “makhluk asing” itu, karena ternyata mereka –kawan-kawan saya itu—menjadi lebih asing ketimbang saya. Bagaimana tidak, semuanya ndingkluk [bahasa Jawa, artinya ‘menunduk’], menjadi budak gadget. Betul istilah saya menjadi budak, karena era sekarang adalah era dimana manusia dikendalikan, bukan mengendalikan.

Peran gadget begitu menggurita, bahkan banyak yang menganggapnya  istri atau suami kedua, setelah manusia beneran. Percaya atau tidak, penggunaannya sering ‘mengalahkan’ hidup penggunanya. Mereka, benar-benar menjadi “Generasi Ndingkluk’ yang menjadi kacung dari gadgetnya. Bayangkan, setiap bangun tidur, yang dicari pertama adalah gadget. Seperti kehilangan raga ketika gadget terrtinggal atau hilang. Seolah dunia sudah menjauh dan hidup tak berguna, tanpa gadget.

Jika dulu ketika di halte menunggu bis, naik kendaraan umum, menunggu di puskesmas, di stasiun, di bandara, mengantri dokter, menunggu antrian, orang tua kita dulu  biasa bertegur sapa dengan yang lainnya bahkan mengobrol akrab. Sedangkan pada generasi smartphone ini banyak berubah, masing-masing kita lebih sering menundukan kepala sibuk dengan ponselnya, bertegur sapa mungkin hanya sesekali setelah itu menunduk lagi.

Jangankan di tempat umum, dalam rapat, diskusi, silaturahim teman lama (reunian) bahkan ketika silaturahim keluarga pun sekarang lebih sering menunduk lebih asik ber BBM-an, WA-an dengan teman dibalik layar. Mungkin hanya generasi tua saja yang asik berbincang.

Ya, kehebatan smartphone sudah berhasil menundukkan penggunanya. Kultur Indonesia yang ramah nan santun ‘sebanyak-banyak’ sudah mulai terkikis. Saya harus katakan, gadget sudah menjadi ilah lain yang menguasai hajat hidup orang banyak.  Perhatikan, dalam perhelatan sebesar apapun, kita tidak akan menemukan kehangatan perbicangan yang dekat, mungkin mereka bicara tapi dalam konteks gadget tentu akan sangat berbeda.

Tidak ada interaksi fisik dan komunikasi visual yang jelas. Semua seperti gagu fisik, tapi aktif virtualisasi-nya. Sekarang juga bermunculan yang namanya toko virtual, gereja virtual, masjid virtual, Tuhan virtual dan seabrek perbendaharaan virtual lainnya. Saya malah curiga, pengguna gadget itu sejatinya manusia nyata atau manusia virtual ya?

Saya tidak anti gadget tentu saja, tapi benar-benar terganggu dengan penggunanya benar-benar jadi generasi ndingkluk tidak kenal dan tak akrab dengan sekelilingnya. Karena argumentasi mempercepat pekerjaan dan komunikasi, selalu jadi bemper untuk mempertahankan mentalitas virtual itu.

Ajakan saya selalu kembali kepada kemanusiaan yang hakiki. Manusia yang berinteraksi dengan manusia lain. Kalau kemudian peran gadget sudah demikian kuatnya menjadi ‘tuhan’, saya tetap memilih berada di area kemanusiaan. Meski mungkin pilihan itu untuk zaman sekarang jadi “aneh”. Persetan ah…

*ndingkluk: menunduk