Era sekarang,  saya harus “menertawakan” musisi [band atau vokalis], yang hanya mengandalkan promosi konservatif dan konvensional dari labelnya saja. Di dinasti yang disebut sebagai dinasti kreatif ini, pemikiran cerdas soal promosi yang efektif, jadi amat penting. Ide-ide unik, liar dan non mainstream, harus muncul cepat. Dan untuk konsep-konsep unik dan nyeleneh, tapi cerdas, saya harus sebut [lagi] nama: Endank Soekamti.

"Kamties Sak Modare!" -- foto: soekamties.com
Kamties Sak Modare! – Ary, Dory & Erix” — foto: soekamties.com

SEBENARNYA, saya di blog ini sudah termasuk sering mengupas trio band pop-punk asal Jogjakarta ini. Tidak melulu bicara soal album-albumnya yang sebenarnya secara penjualan “tidak laku-laku amat” tapi punya jadwal off-air yang nggegirisi. Diluar sisi musikalnya, Dory Soekamti, Ary Soekamti, dan Erix Soekamti, adalah juga entrepreneur yang cukup berhasil. Kalau sekadar jadi pembicara motivasi untuk sukses anak-anak muda, mereka masih bisa saya jagokanlah.

Lalu bagaimana kiprahnya sebagai musisi? Band yang kini benar-benar do it yourself atawa murni independen dari major label ini, tentu harus rajin memutar otak, untuk tetap bisa bersaing dengan kiprah promosi label-label yang punya bujet besar.  Dalam beberapa kali obrolan dengan Erix Soekamti, basis sekaligus vokalis sangarnya, kini band ini tak hanya jadi kesenangan bermusik doang, tapi juga [harus bisa] memberi penghidupan secara ekonomi kepada penggawa-penggawa di sekitarnya. Siapa mereka? Keluarga, kru, dan fans-fansnya juga.

Setelah sukses dengan boxset album 4 #Angka8, kini mereka melakukan langkah serupa dengan melepas boxset untuk album bertajuk Kolaborasoe. Satu judul yang bisa memunculkan dugaan-dugaan miring, tapi sekaligus membuat orang penasaran. Sekadar menelisik, isinya memang kolaborasi Endank Soekamti dengan 13 kolaborator diantaranya : Slank, GIGI, Naif, CJR, Pongki Barata, Pure Saturday, Cherrybelle, Dewa 19, Didi Kempot, Kemal Palevi, Jarwo [tokoh serial animasi  Adit Sopo Jarwo], Es Nanas, Tom Kill Jery. Dan tentu saja jumlahnya terbatas, dengan berbagai bonus yang hanya bisa didapat kalau kita membeli boxset yang asli.

Buat saya, trio nyeleneh ini, benar-benar melepas semua isi otaknya setiap menggarap album baru. Bukan sekadar isi materi lagunya, tapi seperti apa kemasasan album sampai strategi promosi yang efektif.

Oh ya, band ini termasuk band dengan militansi penggemarnya yang aduhai. Tak hanya rajin menyambangi konser-konsernya, tapi Kamties –nama fansnya—juga pembeli aktif nyaris semua merchandise, terutama kaos yang memang unik dan desainnya keren.  Ini tentu tak lepas dari ‘amburadulnya otak’ mereka, sehingga ide-ide tak terkira berhamburan.

Dari beberapa literatur marketing, saya sok-sokan menganalisa, apa sebenarnya kelebihan band tanpa personel tampan ini. Dan dengan keminter, saya menemukan ada beberapa hal yang membuat mereka selalu memunculkan cerita unik di setiap albumnya.

 

  1. Endank Soekamti Sangat Paham Kamties-nya.

Perjalanan kariernya yang cukup panjang, tentu membuat personelnya paham bagaimana karakter fansnya, dan bagaimana mencari atau menarik penggemar-penggemar baru yang cukup militan dan fanatik.  Ini sangat perlu untuk menentukan langkah selanjutnya yang harus diambil setiap merilis album.

 

  1. Mengemas Produknya Dengan Spesial

Perhatikan setiap album Endank Soekamti. Selain kovernya yang “bercerita” dan dibuat menarik, kemasannya juga membuat kita gregetan untuk membelinya. Setelah dua kali boxset, tampaknya di album berikutnya, langkah itu tak akan dipakai lagi, untuk tetap memberikan efek kejut kepada penggemarnya. Penasaran dan tentu saja geregetan yang mereka ciptakan, sudah dijamin menjadi euphoria bagi Kamties-nya. Saya berani bilang, produk album dari band gemblung ini selalu baru, unik, istimewa dan memiliki nilai lebih di mata penggemarnya.

 

  1. Menjaga Kualitas Mutu Album & Soliditas Personel

Hal ini penting sekali, namun, sayangnya, juga sering diabaikan para musisi independen. Alangkah mubazirnya apabila kepuasan yang sudah fans dapatkan, kita khianati dengan kelalaian kita sendiri dalam menjaga kualitas music, lirik, aransemen dan recoroding-nya sendiri, karena buruknya produksi. Mereka wajib mencamkan pepatah klasik: “mempertahankan sesuatu hal yang berharga lebih berat dan lebih penting ketimbang merebut atau meraihnya untuk pertama kali”. Beberapa terobosan, inovasi, selalu muncul di setiap album Endank Soekamti.

Dalam skala lebih kecil, beberapa band sebenarnya sudah atau sedang melakukannya. Pendulum misalnya. Band progressive rock karatan asal  Jakarta ini, melepas CD album Progpaganda-nya, dengan kemasan handmade yang ekslusif. Meski pembuatannya ribet dan perlu waktu yang cukup lama. Tapi untuk kolektor, model-model beginian, tidak akan dilepaskan begitu saja. Atau Tony Q Rastafara, dengan merilis album konsep gelang USB. Dan beberapa musisi lain juga melalukan hal-hal unik dan kreatif yang patut diapresiasi. Tapi Endank Soekamti memang punya pecahan otak yang lebih memburai, jadi tampaknya ide-ide aneh, nyeleneh, unik dan mengejutkannya belum akan berhenti.

Hidup itu tidak selalu lurus, kadang ada beloknya. Endank Soekamti berani melakukannya.