Bagaimana sejatinya menentukan, bahwa kimiawi personel band itu sudah tercipta? Apakah jeniusitas seseorang musisi, ditopang kepiawaiannya bermusik, ditambah kualitas skill yang mumpuni, adalah jaminan dari apa yang disebut musik bagus? Sepengamatan saya, musik itu bukan ranah indigo, yang bisa menebak dan ditebak masa depannya. Disebut bagus bisa, disebut berkualitas juga tidak sulit. Tapi disukai dan menciptakan lini massa sendiri, perlu pembuktian yang tidak sebentar.

"Sampai dimanakah Art of Tree berdiri dengan konsistensinya?"
“Sampai dimanakah Art of Tree berdiri dengan konsistensinya?” — foto: KPL

MEMECAH aliran mainstream di industri musik sebenarnya bukan perkara sulit. Hanya butuh keberanian memunculkan seuatu yang tidak pernah dibayangkan ketika tren sedang berjalan. Tidak usah naïf dengan bercita-cita menciptakan tren, meski hal itu juga bisa dimungkinkan. Tapi juga jangan terjebak menjadi ‘budak tren’ kalau memang punya musikalitas yang bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya.

Salah satu band yang digadang-gadang punya potensi menjanjikan adalah ART OF TREE. Pertama yang saya cermati adalah pemilihan namanya. Tidak ada penjelasan khusus dari band yang  Muhammad Ibnu Rafi (drummer), Felix Tri Kurnia (gitaris), Abram Lembono (keyboardist), Dimas (vokalis), Andre Rugebert atau dikenal dengan nama Shotgun Dre (MC), dan Fajar Nugroho (bassis). Tapi menelisik orang di balik band ini, Eki Puradiredja, saya menduga nama ini dipilih karena proses berkesenian band ini, diisi dengan ranting-ranting yang berbeda. Ini untuk mengatakan: pengaruh personelnya yang tidak homogen dalam memilih musik acuannya. Mereka adalah mix and match dari rock, hip-hop, jazz, reggae, dan electronic dance.

Konon, otak di balik lahirnya band ini adalah Rafi. Mantan drummer cilik ini, punya jejak rekam yang cukup panjang sebagai musisi, dan banyak dicermati oleh senior-seniornya, termasuk oleh Eki. “Saya mengenalnya sejak dia masih jadi drummer bocah dan sudah menduga dia akan jadi musisi besar, jelas Eki di hadapan wartawan, beberapa waktu lalu. Eki membantah bahwa band ini adalah “kegelisahannya” yang tertunda. Art of Tree ini adalah kegelisahan seorang Rafi yang kemudian berdiskusi dengan saya, sampai akhirnya menemukan orang-orang yang punya visi sama. Jadilah seperti sekarang,” imbuh Eki.

Berkubang dengan banyak talenta bagus, bukan persoalan mudah jika dihadapkan pada: konsistensi. Saya mengartikan konsistensi sebagai sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan sesuatu sampai pada tercapai tujuan akhir. Ibarat lari maraton, konsistensi adalah terus berlari dan mencapai finish sebagai tujuan akhir. Perilaku yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi luar biasa.

Demikian juga dengan pekerjaan-pekerjaan kecil, namun dilakukan secara konsisten tentu akan memberikan manfaat yang sangat besar. Konsistensi adalah kunci dalam kesuksesan dalam hidup ini. Secerdas apapun seseorang, tapi selama tidak memiliki sifat ini, tidak akan pernah menghasilkan apa-apa dalam kehidupan ini. Sehebat apapun musisi dan penyanyi, kalau tidak punya semangat dan konsistensi, dia tidak akan pernah menjadi apa-apa.

Pertanyaan besarnya adalah: sadarkah Art of Tree dengan siapa mereka berdialog? Melahirkan musik yang dianggap “menyimpang” sejatinya juga harus diimbangi dengan kesadaran untuk berdialog dan memberikan pembelajaran tentang “penyimpangannya” itu. Kalau Menurut Rafi, dialog yang mereka temukan sebenarnya adalah lahirnya energi positif yang diharap bisa dirasakan oleh pendengarnya. Sementara Eki melihat, bahwa dialog itu sebenarnya sudah ditentukan ketika mereka bersama berkarya. Menurut Eki:

Kesadaran bahwa musik Art of Tree bukan hal yang mudah diterima, sudah jadi dialog kami dari awal. Dan inilah yang ingin kami sampaikan, kita berdiri dengan pemahaman, pasti ada yang mendengar dan mengapresiasi meski ceruknya tidak sebesar yang mainstream. 

Apa yang disampaikan Eki dan Rafi, linier dengan pengamat musik dan budaya, Benny Benke. Mencermati Art of Tree, Benny hanya melihat napas panjang dan  konsistensi. Konsistensi adalah ibadah hati yang paling hakiki. Tokoh-tokoh musik, seniman atau sastrawan besar di dunia, menjadi besar karena mereka mempertahankan konsistensi mereka terhadap karya dan pilihan berkaryanya,” jelas pria yang juga banyak bergaul dengan seniman dan sastrawan ini. Masih menurut Benny, kelemahan terbesar musisi Indonesia sampai saat ini adalah mereka memilih menjadi oportunis. Karya yang sudah dijejali keinginan menjadi oportunis, sebenarnya sudah tidak bisa disebut orisinil, karena itu artinya sama saja dengan melacurkan diri,” ujarnya lagi.

Band yang terbentuk tahun 2011 ini tentu juga sudah melewati evolusi musikal, bersinergi dengan pertanyaan kritis industri mainstream. Diarahkan lebih global [untuk tidak mengatakan dengan idiom go internasional –penulis], Art of Tree masih perlu yang namanya ujian kesadaran dan konsistensi. Album self-titled yang sudah dirilis, paling tidak jadi mahkota untuk bisa disebut band yang nyata.

Catatan kritis saya untuk band ini: Bangunan musisi adalah karya. Tapi kekuatan dan kehebatan musisi adalah konsistensi dan bagaimana dia mempertahankannya dengan tetap berkarya. Menjadi musisi yang konsisten, melacur ke ranah lain, atau kemudian oportunis sesuai tren dan zaman, tidak dilarang. Tapi akan menjadi catatan sejarah yang harum, ketika kelak dikenal dengan musisi yang konsisten, ketimbang dicatat sebagai musisi yang oportunis. Semoga juga bukan jadi musisi yang memilih “menjilat” tren, ketimbang menjadikan konsistensinya sebagai tren. Berdiri dimanakah Art of Tree kelak?