Apa hubungan karya musik dengan orientasi seksual? Kalau itu ditanyakan kepada musisi-musisi yang sudah sahih disebut musisi, nyaris tidak ada bedanya. Kemampuan berkarya, berrmusik, dan mencipta lagu yang dimiliki seseorang, tidak ditentukan oleh orientasi seksualnya. Mau dia lesbian, homoseksual, atau transgender,  semuanya bisa melahirkan karya terapiknya. Yang jadi masalah –ini di Indonesia— pandangan “sinis” bahwa mereka yang masuk kategori LGBT sering dianggap “menyimpang”.  Apakah kemudian karyanya kemudian disebut “musik menyimpang?”

“musik itu melihat karya, bukan orientasi seksualnya.”

SAYA sebenarnya tidak terlalu memusingkan orientasi seksual musisi Indonesia. Selama mereka punya karya yang apik dan bisa saya nikmati, saya akan menikmatinya. Sampai suatu ketika ada sebuah pertanyaan yang tampaknya “iseng” tapi sebenarnya tidak: “Kalau homoseksual [atau transgender] bikin lagu, apakah kemudian lagunya lebih feminim ketimbang musisi lainnya?”

Dua tahun lalu, saya pernah mengupas tuntas bagaimana sejatinya kehidupan gay dan lesbian dalam industri musik Indonesia. Responnya cukup mencengangkan, karena kemudian banyak sahabat saya yang menjadi bagian dari LGBT merasa bahwa mereka selama ini seperti “dilihat aneh” hanya karena pilihan orientasi seksualnya. Padahal secara karya, tidak ada yang berbeda. Malah beberapa diantaranya terrmasuk salah satu musisi yang bisa disebut berrkualitas secara karya dan pencapaian.

Menurut Rosario, Schrimshaw, Hunter, Braun [2006], “Perkembangan identitas seksual lesbian, gay, atau biseksual adalah suatu proses yang kompleks dan seringkali sulit. Tidak seperti anggota kelompok minoritas lainnya [misalnya, minoritas etnis dan ras], sebagian besar individu ini tidak dibesarkan dalam komunitas serupa dimana mereka dapat belajar tentang identitasnya dan mematangkan dan mendukung identitas itu. Sebaliknya, individu ini sering dibesarkan dalam komunitas yang abai atau secara terbuka memusuhi homoseksualitas dan lesbian.”

Kembali pada ranah industri musik Indonesia. Saya belum menemukan literasi yang kuat soal LGBT dalam musik Indonesia [karena setiap mencari, masuknya ke link tulisan saya sendiri], tapi saya mencoba mengutip tesis yang dilakukan Paula Krisanty, mahasiswi Indoensia yang kuliah di Universitas Mahidol Thailand. Secara spesifik, Paula mencermati kehidupan eksekutif muda gay di Jakarta. Secara umum, musisi di Jakarta bisa dikatagorikan dengan eksekutif muda, karena pola kehidupannya sebenarnya tidak terlalu beda jauh.

“LGBT di industri musik indonesia, diperlakukan tidak adil, atau diterima secara semu?”

Menurut Paula yang saya kutip utuh dari suarakita.com: Di dalam tesis Krisanty (2007) ini dijelaskan bagaimana orientasi seksual mereka diterima dan dipahami oleh masyarakat, yang masih berpikir bahwa homoseksualitas adalah sebuah keburukan, mengarahkan mereka dalam bersikap dalam lingkungan kerja, bersifat professional tanpa melibatkan perasaan cinta.

Di dalam penelitian ini banyak di expose bagaimana rasanya menjadi gay di perkotaan. Menurut para informan, menjadi gay adalah suatu kebanggan bagi mereka yang mengarahkan mereka bagaimana mereka melakukan “body project” untuk memenuhi subjektivitas seksual mereka di era metroseksual ini. Penelitian ini juga melihat bagaimana wacana di media tentang gay seringkali membuat citra teman-teman gay jadi buruk, salah satunya adalah wacana tentang “gay identik dengan HIV-AIDS”.

“Dengan semua ketakutan itu, saya bisa mengerti kalau kawan-kawan musisi yang gay atau lesbian itu, tidak punya keberanian untuk mengungkapkan jatidirinya,” imbuh Makki Parikesit, basis Ungu kepada penulis.

Musik Menyimpang?

Entah serius atau diucapkan dalam konteks guyonan tidak pada tempatnya, banyak kawan-kawan saya yang menyebut karya yang dihasilkan oleh LGBT sebagai “karya yang menyyimpang”. Begitukah? Banyak yang tiba-tiba berhenti mengidolakan penyanyi atau band karena akhirnya tahu mereka gay atau lesbian. Kok begitu?

Menurut seorang pengamat budaya yang saya temui, Manusia itu tidak bebas nilai. Selalu terikat akan identitas yang dibawa. Makanya sulit untuk objektif. Termasuk saat mengetahui idolanya gay atau lesbian. Penyanyi itu istilahnya jadi satu paket. Bukan hanya menjual suara, tapi juga penampilan, gaya, pola hidup, attitude, dll.”  Ari –nama pengamat itu—kadang heran, ketika tiba-tiba memutuskan “pengidolaan“ hanya karena pengakuan gay dan lesbiannya. “Sebenarnya dan seharusnya, idola itu kemudian pada karya, bukan pada sosok semata,” imbuhnya. Pendapat yang seharusnya diamini.

Lalu dimana letak penyimpangan musikalnya? Dalam kacamata Dika ADA Band, industri musik dan hiburan di Indonesia, sebenarnya juga tidak menolak. “Secara tidak langsung, industri musik dan hiburan di Indonesia dan banyak menggunakan jasa mereka. Kemudian mengakomodir penampilan mereka, meski dengan balutan yang macam-macam supaya tidak kentara,” paparnya. Dika justru lebih “sedih” ketika media [hiburan] mengeksploitasi LGBT dalam parodi fisik yang benar-benar tidak lucu. “Itu yang harus dikritisi, bukan mereka yang dihindari hanya karena mengaku LGBT padahal sudah memberikan karya terbaiknya.

Beberapa musisi lain yang sempat ngobrol dengan saya malah tegas mengatakan: “Tidak ada masalah dengan orientasi seksual, pandangan jender atau perbedaan pandangan politik apapun. Semua berpulang kepada karyanya kok. Peduli setan dia gay, lesbian atau tidak punya orientasi apapun. selama karyanya bagus dan layak diapresiasi, kenapa tidak?”

Dimana penyimpangan musikalnya? Dan apa yang menyimpang dari karyanya?