Penyanyi atau musisi perempuan, sejatinya punya beban yang lebih berat ketika masuk industri musik, ketimbang laki-laki. Selain cipta karya dan karsanya akan selalu dibandingkan dengan laki-laki, persoalan bahasa tubuh bisa jadi bahasan yang panjang dan sebenarnya melemahkan perempuan. Di beberapa genre, sensualitas selalu disandingkan dengan seksualitas. Padahal maknanya sudah jauh berbeda.

"diakui atau tidak, persoalan sensualitas dan seksualitas masih melemahkan musisi perempuan" -- foto: mariophotographie
ANDIEN. Diakui atau tidak, persoalan sensualitas dan seksualitas masih melemahkan musisi perempuan” — foto: mariophotographie

KALIMAT-KALIMAT tanpa perspektif gender itu, kerap muncul dalam perhelatan musik apapun yang memunculkan perempuan. Dengan topangan tubuh terawat bagus, wajah rupawan dan kemampuan memadupadan busana, tetap saja perempuan diledek –untuk tidak mengatakan dicela—hanya mengandalkan seksualitas. Hellloooo….

Sebenarnya, sensuality dan seksuality punya pengertian yang bertolak belakang. Adakah yang lebih menarik selain segala sesuatu yang  attractive bagi human senses? Dan itulah sensualitas bukan seksualitas. Sekali lagi: harus dibedakan antara yang sensual dan yang seksual.

Sensualitas tampak indah dipandang dari kacamata estetika, bukan erotisme. Karena erotisme itu segala sesuatu yang berhubungan dengan eros, yaitu sex & sexual desire. Seharusnya, kita menempatkan menempatkan sensualitas musisi perempuan itu pada tataran estetis, bukan tataran erotis.  Gerak tubuh, dan sensualitas merupakan eskpresi kebebasan intelektual yang tidak mengandung bahaya apapun. Sensualitas tidak hanya bicara tentang sexualitas dan sisi erostisme semata. Sensualitas lebih kepada “isi” bukan sekadar “look”.

"trio macan, trio dangdut yang mengaku masih kerap dilecehkan di atas panggung."
cacha, dara & lia: trio macan, trio dangdut yang mengaku masih kerap dilecehkan di atas panggung.”

Sayangnya, kadang-kadang pelaku seninya sendiri yang melunturkan definisi sensualitas dan memilih berada di tatar seksualitas. Dangdut menempati peringkat pertama yang kerap dihubungkan dengan seksualitas, bukan sensualitas. Dalam beberapa kali dialog dengan artis dangdut, sejujurnya mereka katakan: “kami gerah dengan tudingan-tudingan seksualitas yang selalu disematkan kepada kami!” Protes mereka. Saya selalu mengatakan, semua genre sebenarnya menerima tudingan itu.

Mengapa dangdut kemudian lebih dominan? Sebagai music yang paling mudah masuk ke semua kalangabn masyarakat, pedangdut punya banyak cara untuk disukai. Salah satunya goyang. Nah, goyang inilah yang kemudian jadi sasaran tembak kearah seksualitas. Salahkah? Saya bilang tidak, karena beberapa oknum pelaku, justru menonjolkan seksualitas dan merasa bangga. OMG!

"agnes monica sudah kenyang dituding hanya mengandalkan seksualitas."
agnes monica sudah kenyang dituding hanya mengandalkan seksualitas.”

Dalam kacamata feminis, sensualitas bukan bagian dari eksploitasi seksual, justru sebagai satu sisi kekuatan perempuan. Dalam konteks sosio cultural, masyarakat lebih mudah menghujat penyanyi atau musisi perempuan yang terlihat beda dari biasanya. Masyarakat juga hipokrit, satu sisi [seolah] menghujat dan menghakimi, tapi di sisi lain mereka menikmati, sehingga sulit membuat garis benar atau salah lagi. Pemberdayaan dan pembelajaran jadi penting, supaya sensualitas [bukan seksualitas] tidak mengalami pelecehan.

Tentu bukan perkara mudah menempatkan penyanyi perempuan sebagai subjek, bukan lagi objek. Tudingan dan kesan meremehkan itu masih kerap bermunculan meski si penyanyi itu sudah cukup sukses dan dikenal masyarakat luas. Perempuan di industri musik meski makin berkibar dan sejajar, masih kerap menjadi korban patriarki yang strukturnya nelekat pada budaya pop di industri musik.

Perempuan di industri musik, selalu diperhadapkan pada anomali seksualitas bukan sensualitas….