Zaman sekarang, nyaris semua musisi –band atau solois—tak banyak yang benar-benar merilis album utuh, lagu baru dan materi artwork yang baru juga. Karena melepas single yang hanya satu lagu, biasanya tak memerlukan desain sampul yang neko-neko, standar saja. Biasanya hanya gambar musisinya plus judul single-nya doang. Masih mending kalau foto musisinya diambil dengan bagus dan professional, tapi lebih banyak yang asal memasang foto. Tudingan menunjuk para musik digital, yang “dituduh” mematikan artwork album. Kreativitas seni dimatikan oleh digitalized. Benar begitu?

SAYA mungkin termasuk penikmat musik yang ketika membeli CD atau sekarang piringan hitam, termasuk memperhatikan kualitas artwork, khususnya kover dan kemasan albumnya. Kecuali untuk materi lagu yang memang langka tapi tak memperhatikan soal sampul. Tapi nyaris saya temukan yang model begitu. Sayangnya, makin sedikit band atau musisi yang benar-benar mengolah rasa ketika menggarap kemasan albumnya. Alhasil, musisi-musisi yang merilis boxset, CD atau piringan hitam yang jumlahnya terbatas, dengan paket kemasan album yang menarik, biasanya akan diburu oleh fansnya, atau malah kolektor.

Ungu ketika merilis boxset –dengan iming-iming nomor urut—plus tandatangan personelnya, hanya dalam hitungan bulan saja sudah laris manis terjual. Padahal harganya tidak murah. Kemudian ketika Superman Is Dead merilis albumnya dalam bentuk vinyl, dicetak terbatas pula, meski harganya tidak murah juga, langsung ludes. Yang terakhir, Endank Soekamti, band pop punk asal Jogjakarta yang sudah dua kali merilis boxset dengan segambreng bonus, juga diburu oleh penggemarnya. Lagi-lagi, harga yang tidak murah, tidak jadi persoalan. Nilai art, news value dan nilai ekonomisnya kelak, banyak yang jadi pertimbangan mengapa edisi-edisi terbatas itu diburu.

Tapi bukan sakadar nilai ekonomisnya saja. Saya mengamati apa yang sebenarnya “menarik” dari setiap album yang dirilis terbatas itu. Yang selalu menggoda saya untuk menjadi salah satu pemilik dari edisi-edisi terbatas itu adalah: artwork-nya. Ada keindahan dan cerita yang langsung muncul ketika melihat cover luar dan kemasan dalamnya. Ada keseriusan ketika menggarapnya, tak hanya jualan secara industry –yang biasanya memajang foto penyanyinya gede-gede doing—tapi juga mempertimbangkan sisi seni dan kreatifitasnya. Mungkin ada yang mencoba menerka, apa maksud dari kover itu, tapi paling tidak ada interaksi budaya yang yang terjalin.

Diluar kover-kover ikonik seperti milik The Beatles, Th Who, The Rolling Stones, atau Guruh Gipsy, memasuki era digital, masih ada ada album yang memperhatikan sisi kualitas dan pencerahan kesenian lewat gambar. Saya mencoba menelisik beberapa album yang menurut versi saya, termasuk ikonik. Diluar sisi artwork yang keren, ada yang handmade, dan kemasan yang amat serius hingga ruang dalamnya.

TENDOSTAR
Saya langsung jatuh cinta dengan band yang personelnya adalah musisi-musisi “gagah” asal Bandung. Project garapan Richard Mutter dan Yukie PAS Band ini punya sisi musikal yang harus saya sebut “bahaya”. Musiknya bagus, liriknya tidak pasaran. Diluar itu semua, Tendostar menggarap albumnya dengan serius. Kovernya bolong dengan konsep kumparan dan mata. Sisi dalamnya lebih ciamik. Ada 7 seniman yang diminta untuk menuangkan ide gambar di setiap lagu yang berbeda. Album ini banyak bercerita tanpa kita harus repot-repot ngobrol dengan personelnya. Saya anggap salah satu yang terbaik.

TENDOSTAR. Salah Satu Kover Album Terbaik
TENDOSTAR. Salah Satu Kover Album Terbaik – Foto: Koleksi Pribadi

Superman Is Dead
Album dengan konsep lukisan di album Sunset di Tanah Anarki dan Angels and The Oustsiders menjadi favorit saya selanjutnya. Buat saya, album-album SID termasuk yang peduli dengan artwork kover albvum. Saya yakin, kelak album-album dengan konsep seperti ini akanjadi buruan kolektor dan pecinta seni, tak hanya menikmati music, tapi juga menjamah soal grafis yang dipikir matang-matang.

SUPERMAN IS DEAD. Album "Angels and The Outsiders"
SUPERMAN IS DEAD. Album “Angels and The Outsiders”
SUPERMAN IS DEAD. Album "Sunset di Tanah Anarki"
SUPERMAN IS DEAD. Album “Sunset di Tanah Anarki”

Killing Me Inside
Ketika muncul pertama kali di jagat musik Indonesia, saya “nyaris” menduga band ini adalah band modern rock garis keras, meski saya kemudian sadar, band ini adalah band pop-rock. Tapi saya tetap harus member acungan jempol untuk kover album debutnya. Mereka berani menampilkan konsep aksi panggung, bukan wajah tampan mereka dipajang besar-besar di depan. Dan kover ini menjadi pengingat ketika orang “kebingungan” dengan Killing Me Inside itu yang mana.

KILLING ME INSIDE. Salah Satu Kover Album Terbaik.
KILLING ME INSIDE. Salah Satu Kover Album Terbaik.

Souljah
Album terbarunya This is Souljah [2014] punya kover yang “lumayan” bakal diingat. Pop-art yang menggambarkan kepala singa, cukup menarik perhatian kalau di pajang di took CD misalnya. Sebenarnya setiap album band reggae ska ini, punya konser kover yang unik. Band yang punya massa lumayan fanatik termasuk yang peduli, fans tidak hanya disuguhi music bagus, tapi juga kemasan album yang membuat mereka yang membeli dan memegangnya bangga.

SOULJAH. Album 'This is Souljah' Punya ArtWork Yang Unik
SOULJAH. Album ‘This is Souljah’ Punya ArtWork Yang Unik

Pendulum
Band progressive rock asal Jakarta ini beruntung punya personel yang juga seorang desain grafis. Alhasil, ketika bicara soal kemasan dan kover, mereka pastinya akan berhitung soal bisa tidaknya menjadi memorabilia selain materi albumnya sendiri. Yang kemudian jadi nilai plus band ini adalah “pelitnya” merilis album, menjadikan album yang mereka lempar ke pasar limited edition. Album Progpaganda selain punya desain gambar yang unik, juga kemasannya handmade, meski agak ribet ngebuatnya. Tapi hal itulah yang kemudian banyak diburu penggemarnya.

PENDULUM. Pelitnya Merilis Album, Jadi Keuntungan Mereka
PENDULUM. Pelitnya Merilis Album, Jadi Keuntungan Mereka

Endank Soekamti
Judulnya nakal Kolaborasoe. Dan memang isinya adalah duet-duet serius Endank Soekamti dengan beberapa penyanyi lain yang secara genre notabene berbeda. Tapi perhatikan saja desain kover albumnya, sudah seperti kebun binatang. Jangan salah sangkat dulu, karena Erix, Ary dan Dory justru ingin menggambarkan kerjasama erat ketika mereka berkolaborasi dengan musisi lain. Diluar itu, album ini adalah boxset dengan edisi terbatas. Ada banyak bonus ketika kita membeli paketnya. Tapi kembali pada tema bahasan kita, artworknya memang unik bukan?

ENDANK SOEKAMTI. Album 'Kolaborasoe' [2014] Seperti kebun Binatang, Lucu.
ENDANK SOEKAMTI. Album ‘Kolaborasoe’ [2014] Seperti kebun Binatang, Lucu.

Tigapagi
Band indipenden asal Bandung ini “gila” juga dengan artworknya. Saya membayangkan, pasti akan sangat ribet ketika menciptakan ide ini. Selain kover yang menggambarkan keteduhan, kemasan dalamnya benar-benar dibuat dengan memperhitungkan printilan-printilan yang ada di setiap lagu. Bukan buatan mesin, karena printilannya adalah konsep buatan tangan. Agak njlimet. Meski awalnya ngomel karena ngebukanya agak lama, tapi saya bakal menyimpannya utuh. Kelak, ini bisa jadi bahan diskusi bagaimana mengemas packaging CD yang menarik dan pantas dikoleksi.

TIGAPAGI. Album Dengan Kemasan Njlimet, Tapi Layak Dikoleksi
TIGAPAGI. Album Dengan Kemasan Njlimet, Tapi Layak Dikoleksi

The Experience Brothers
Sejujurnya, saya tidak terlalu mengikuti lagu-lagu dari band yang isinya duo bersaudara. Tapi melihat kover albumnya –benar, tanpa mendengar musiknya dulu—membuat saya memutuskan untuk mengoleksinya. Baru kemudian saya membedah musikalitasnya. Agak terbalik memang. Meski konsep auman sebenarnya bukan hal baru, tapi band ini membuatnya jadi karya yang mudah diingat dan bakal disebut-sebut terus mungkin ketika mereka sudah bubar juga [mudah-mudahan sih tidak ya].

THE EXPERIENCE BROTHERS. ArtWork Yang  Bakal Mudah Diingat
THE EXPERIENCE BROTHERS. ArtWork Yang Bakal Mudah Diingat

Beberapa artwork yang saya kupas, adalah beberapa contoh yang ada di koleksi saya. Saya yakin masih banyak band-band baru yang peduli dengan keindahan album, tak hanya soal kualitas musikalnya. Dan hal-hal fisik seperti itulah yang tidak didapatkan ketika kita membeli single secara digital.

Dan itulah juga yang membuat saya yakin, CD fisik tidak akan mati, meski mungkin kuantitasnya jauh berkurang. Mengapa? Karena masih banyak orang yang ingin melihat kualitas kemasan musik dan paket utuh albumnya. Mungkin saya salah satunya. Anda?