ADA satu hal yang sering dilupakan oleh kita-kita yang merasa punya kemampuan berkarya. Kita kerap menjadi ragu-ragu atau malah tidak melakukan apapun, karena omongan orang yang membuat kita nglokro.  Saya belajar satu hal: “hancurkan” apapun yang melemahkan, dengan membuat karya apapun yang kita suka. Pemikir berpikirlah, penulis menulislah, dan musisi berkaryalah dengan musikmu. Titik. 

"Tak akan ada Mick Jagger kalau dia mundur dari The Rolling Stones"
“Tak akan ada Mick Jagger kalau dia mundur dari The Rolling Stones”

SEJATINYA catatan kritis apapun dan dari siapapun, hanya “kompor” kepada kita untuk melakukan apa yang kita yakini mampu. Memang tak dapat dipungkiri, lingkungan social sekitar kita ikut memengaruhi daya imaji dan mood, tapi kalau kita terpaku pada hal itu, kita sudah mundur beberapa langkah. Musisi kalau terlalu dipusingkan dengan omongan musisi lain yang tidak suka, pasti tidak akan pernah menghasilkan karyanya sendiri. Penulis yang diributkan dengan kualitas tulisannya, dijamin tak akan pernah menjadi penulis yang baik. Mengapa? Karena komentar apapun, adalah bensin kita untuk berkarya lebih baik.

Seorang Pramoedya Ananta Toer, pasti akan menyerah kalah ketika semua karyanya dibreidel orde baru atau tulisan-tulisannya yang ketahuan sipir penjara, dibakar dan dimusnahkan. Tapi Pram “bandel” menulis. Dan kemudian terbukti, semua karyanya fenomenal bahkan di level dunia sekalipun. Andrea Hirata pun tak akan kita kenal sekarang, kalau tulisan-tulisannya hanya disimpan di bawah bantalnya saja. Selama kita memusingkan dan memikirkan “tudingan” apapun yang melemahkan, sejatinya kita memang sudah lemah.

Pengalaman-pengalaman hebat musisi juga tidak kalah. Koes Plus pasti sudah kehilangan karya kalau menyerah kalah pada penjara ketika masuk bui era Soekarno. Atau Harry Roesli yang pasti akan mundur dari dunia kesenian kalau menyerah kalah pada tekanan penguasa era Soeharto. Tapi apa yang kita lihat? Semua “melawan” dengan caranya dan sampai sekarang berdiri tegak, meski sebagian sudah meninggal. Tapi percayalah, karya yang sudah lahir dari semua tekanan, akan bertahan seumur dunia ini ada.

Kita –apapun profesi dan kemampuan kita—nyaris dibuat untuk orang lain, meskipun sebenarnya itu adalah kejujuran kita. Silakan dikritik atau diberi catatn, tapi bukan berarti semua harus dilakukan bukan? Kita terlalu mendengar celoteh hati orang lain, sementara orang lain tidak peduli dengan celoteh hati kita. Musisi yang sukses hanya dilhat suksesnya, jarang yang melihat proses menuju suksesnya itu.

Terlalu sering kita menjadi tertuduh atas karya kita. Dan itulah yang melemahkan kita.