Entah apa yang ada di benak anak-anak muda sekarang. Setiap melakukan reportase diluar Jakarta [bahkan termasuk di Jakarta], nyaris semua yang saya temui bermimpi menjadi artis. Gambaran nyaman, terkenal, dipuja dan bergelimang harta, tampaknya benar-benar membutakan mata. Dijejali banyak acara televisi yang menjanjikan masa depan “seolah” gemilang, tapi tak pernah bertutur soal proses menuju kesana. 

arya wiraguna, salah satu selebritis dadakan. nggak jelas apa karyan, selain mencak-mencak di infotainment
arya wiraguna, salah satu selebritis dadakan. nggak jelas apa karyan, selain mencak-mencak di infotainment

SEBENARNYA kalau mau dirunut, di ranah hiburan sudah terjadi degradasi dan erosi makna tentang “artis” itu sendiri.  Secara etimologis kosa kata “artis” seharusnya identik dengan seniman. Artis atau seniman adalah istilah subyektif yang merujuk kepada seseorang yang kreatif, atau inovatif, atau mahir dalam bidang seni. Penggunaan yang paling kerap adalah untuk menyebut orang-orang yang menciptakan karya seni, seperti lukisan, patung, seni peran, seni tari, sastra, film dan musik. Seniman menggunakan imajinasi dan bakatnya untuk menciptakan karya dengan nilai estetik. Ahli sejarah seni dan kritikus seni mendefinisikan seniman sebagai seseorang yang menghasilkan seni dalam batas-batas yang diakui.

Bahwa pelukis wajah di Blok M, pelukis di Pasar Baru adalah “artis” itu benar.  Menurut Wiktionary mendefinisikan seniman [artis] sebagai kata benda sebagai berikut:

  • Seseorang yang membuat seni.
  • Seseorang yang membuat seni sebagai sebuah pekerjaan.
  • Seseorang yang terampil di beberapa kegiatan.

Jadi seorang artis pasti akan menghasilkan sebuah bentuk karya seni, yang bisa dinikmati oleh para penggemarnya, baik berupa seperti lukisan, musik, foto, film dan lainnya. Sedangkan penggunaan kata artis di Indonesia sering digunakan kepada setiap orang yang sering tampil di televisi untuk menghibur, kemudian disebut sebagai artis. Nah, jelas ya perbedaannya.

jan shalimar, selebritis pas-pasan. aktingnya tidak menonjol, ngetop karena kasus perceraian dan kawin sirinya.
jane shalimar, selebritis pas-pasan. aktingnya tidak menonjol, ngetop karena kasus perceraian dan kawin sirinya.

Sementara yang terkesan glamour, hura-hura dan berlimpah harta, sebenarnya bukan artis, tapi “selebritis”. Dari asal kata “celebrate” yang artinya merayakan. Merayakan apa? Kalau di dunia hiburan, adalah merayakan keglamouran, merayakan kemewahan, merayakan sensasi-sensasii yang dibuatnya.

Lalu mimpi mana yang jadi idola anak-anak muda Indonesia sekarang? Melihat paparan di atas, menjadi selebritis lebih tepat dirujuk. Pertanyaannya adalah mengapa banyak anak muda yang bercita-cita menjadi selebritis? Gampang-gampang sulit menebaknya. Tapi dari beberapa obrolan dengan ABG-ABG sekarang, saya mendapat gambaran, meski tak bisa dibilang mewakili keseluruhan ABG.

Terkenal

Tentu saja menjadi terkenal dan popular itu menyenangkan. Karena kita menjadi mendapat akses lebih mudah untuk hal apapun. Tapi itu terkenal untuk hal yang positif dan diapresiasi banyak orang. Sialnya, banyak yang ingin terkenal tapi lewat cara-cara yang “menggelikan” kalau tidak saya bilang “memuakkan”. Mereka rela melakukan hal-hal konyol dan bodoh, demi sekelebat tampil dan disebut selebritis. Kalau bayangan terkenal adalah hanya dengan masuk televisi, kalian sudah buang-buang waktu!

Glamour

Industri hiburan memang industri warna-warni dan penuh cahaya. Terkesan glamour? Betul, karena tampilan di panggung atau televisi harus seperti itu. Tapi jangan tertipu dengan glamournya. Kalian harus bahwa yang tampak, tidak selamanya sama dengan yang tidak tampak. Kalau selama ini kalian dibuai dan dimanjakan dengan tontonan yang selalu indah, kalian bodoh.  Ada banyak pengorbanan, darah dan airmata disana. Nggak nongol saja.

 Tajir

Baju bagus, sepatu keren, rambut klimis, dikelingi cewek cantik atau cowok ganteng, diburu penggemar, bermobil bagus, rumah mewah. Tajir? Wah, kalau itu yang kalian bayangkan juga, selamat! Kalian harus bangun dan sadar! Jangan kelamaan mimpi, daripada mati suri nanti. Betul ada anak-anak muda yang kemudian jadi idola dan bergelimang harta dari perannya di televisi atau film misalnya.  Tapi tahukah kamu, jauh lebih banyak yang tersingkir dan terpaksa menggadaikan mimpi indahnya? Tapi bermimpi sih tidak ada yang ngelarang kok. Tapi jangan sutris kalau tak terwujud.

Dalam beberapa helatan acara, banyak yang mengubah mimpi awalnya menjadi artis. Beberapa acara yang melibatkan anak-anak muda yang jago Bahasa Inggris, matematika, fisika, olahraga atau computer misalnya,  kemudian bergeser ingin menjadi selebritis. Mengapa mereka tidak mematangkan keahliannya dan menjadi “selebritis” di bidangnya saja? Mengapa harus menjadi selebritis hura-hura?

Saya dulu pernah menulis, profesi yang “tahan lama” disebut adalah selebritis. Sekali tampil di sinetron atau film, diekspose media, masuk infotainment [entah murni, entah ngebayar], kalian sudah sah disebut selebritis. Kalau kemudian setelah itu menghilang, tidak laku lagi, tidak punya karya apa-apa lagi, kalian akan tetap disebut selebritis kok. Mungkin hanya masuk “sekuter” kemudian. Selebritis Kurang Terkenal. Alias numpang lewat kaya ingus. Jatuhnya malah silitbritis.