Sialan! Umpat Denny Sakrie setiap ketemu saya, lagi jalan sendirian, menenteng tas butut, topi pak Tino Sidin-nya dan dari jauh sudah saya teriakin: “Hoi orang tua, jalan sendirian kaya nggak laku aja!” Seraya terkejut, sambil nyengir DenSak –begitu saya memanggilnya—akan mengumpat ringan sambil kami bersalaman. Dan kami akan terlibat obrolan ringan seputar gossip musik –betul, gossip musik—sembari terkekeh kemudian. Renyah dan santai, karena meski usianya di atas saya, kadang-kadang istilah anak muda sekarang pun dia fasih mengucapkannya.

Denny Sakrie dan piringan hitam Black Is Black dari Trio Visca [courtesy to Agus WM].
Denny Sakrie dan piringan hitam Black Is Black dari Trio Visca [courtesy to Agus WM].

PERJALANAN MUSIK INDONESIA 1950-2000  adalah awal saya mengenal DenSak secara lebih intens. Betul, tulisan yang saya bold itu adalah impian saya ketika berencana menulis buku tentang musik Indonesia. Dari tahun 2000an, saya kumpulkan data primer yang susahnya setengah mati. Sampai akhirnya beberapa kawan jurnalis mengusulkan nama DenSak sebagai salah satu narasumber untuk data wawancara.

Dan tahun 2003 –saya lupa bulannya—saya menelponnya [dan Bens Leo] untuk wawancara. Yang terjadi bukan wawancara, karena kemudian kami ngobrol ngalor ngidul tentang musik Indonesia, apalagi ternyata sebelumnya ternyata kami pernah bertemu di KTS [hehe, lawas ya..Kafe Tenda Semanggi]. Ucapan yang saya ingat ketika kami berpisah: “Nanti gue bantu cari data buat buku loe.” Janji yang sampai meninggalnya, tak pernah ditepatinya. Meski sempat sedikit kesal, tapi justru itu membuat kami beberapa kali berdiskusi intens soal musik [Indonesia].

STC Senayan adalah tempat kami beberapa kali bertemu secara intens kemudian, Kantor saya di STC dan beberapa kali saya memergoki DenSak sedang duduk [lagi-lagi sendirian], sambil membaca buku, tetap dengan tas lusuh, kaos hitam, dan topi andalannya itu.”Gue ngantor kan bisa dimana-mana aja Jok. Dimana ada WiFi, disitu gue bisa ngantor, ha..ha,” celetuknya sambil terkekeh. Dasar maunya gratisan, biasanya begitu cela saya. Dan kemudian dia sempat minta beberapa majalah musik tempat saya bekerja, khususnya yang DenSak sempat berkontribusi tulisan. “Gue beberapa kali nulis, tapi nggak pernah dapat majalah lo nih,” protesnya. Oh ya, DenSak sempat membantu majalah saya ketika melakukan wawancara dengan gitaris Scott Henderson di HardRock Café [masih di eX ketika itu], sebelumnya sempat menulis topic utama tentang perkembangan fashion band Indonesia.

“Ah, teknis tulisannya belepotan nih!” Protes saya ketika memeriksa tulisan asli DenSak. Diluar urusan data dan wawasan musikalnya yang cukup komplet, teknis menulisnya kurang ciamik. DenSak biasanya tertawa dan hanya nyeletuk, “Maklum, generasi mesin ketik!” Ah, dasar orang tua, ha..ha…Beruntungnya, kelemahan teknisnya, ditutup dengan data-data tentang musik Indonesia yang saya sendiri kadang-kadang heran, dapat darimana tuh infonya. Kadang-kadang saya nyinyir baca tulisannya yang seperti memuja dan memuji satu band dengan “hebat”. “Emang sebagus yang DenSak tulis apa band itu,” sinis saya.

Cela-celaan ringan, adalah santapan ringan kami dan kawan-kawan jurnalis musik setiap bertemu dengan DenSak. Yang paling saya ingat ketika menjadi juri Bintang Asik Telkomsel 2014. Saya dan DenSak berbeda kelompok. Ketika harus memperkenalkan masing-masing anggota kelompoknya, kelompok saya berteriak paling keras lantaran anggota kelompok DenSak kami anggap “orang-orang tua dengan selera musik masa lalu” semua, ha..ha, dan kami tentu saja tertawa terbahak.

Ketika menjadi juri itulah, saya pribadi dan DenSak sempat saling “ngompor” soal nulis buku. Jujur saja, saya pasti “kalah” kalau ditanya berapa buku [musik] yang sudah diterbitkan dibanding pria yang kadang-kadang nyinyir dengan wartawan yang ngakunya liputan musik, tapi wawasan musikalnya cetek.  Tapi dari kompor-mengompor itulah, saya “menantang” diri sendiri, harus bisa menerbitkan buku musik sendiri. “Lo nulis buku apa? Biar nggak bentrok tema dengan buku yang gue tulis,” tanyanya suatu ketika. Dan ketika naskah saya sudah selesai, tinggal proses editing, DenSak malah “pergi” duluan.

3 Januari 2015 pukul  15.10:07, ketika sedang acara keluarga di Cileungsi, tiba-tiba ada SMS masuk dan menginformasikan Denny Sakrie meninggal karena serangan jantung. Langsung cek beberapa kawan yang dekat dengan dia, ternyata benar, DenSak –si orang tua itu—sudah menghadap Tuhan di usia 51 tahun. Kehilangan? Bukan saya doang, tapi industri musik Indonesia. Saya tidak peduli sebagai apa DenSak disebut di industri musik Indonesia, tapi yang jelas “warisan” tulisannya tidak bisa dianggap sedikit. Semoga semua tulisan aslinya terselamatkan, sehingga DenSak benar-benar meninggalkan artefak penting bahkan di saat jasadnya sudah tiada. Selamat Jalan, tetap bermusik dan menulis musik di alam barumu bro!

#DenSak menolak saya panggil Mas: “Panggil nama saja.”