Seandainya, semua daerah di Indonesia punya “kegilaan” yang sama, tentu industri musik Indonesia akan punya warna yang lebih menggila juga. Komunitas Pecinta Musik Semarang melakukannya dengan satu kesadaran: Musik harus bisa memberi arti untuk pendengar dan industrinya, apapun dan dimana pun itu.

"komunitas pecinta musik semarang, penggagas event SEMARANG MUSIKINI"
Komunitas Pecinta Musik Semarang, penggagas event SEMARANG MUSIKINI”

SEBAGAI satu daerah yang mulai disebut metropolitan, Semarang punya kisah “sedih” di ranah industri musik Indonesia. Tak banyak band dari ibukota Jawa Tengah ini, naik pentas ke level nasional. Saya tak bilang tak ada, tapi dengan sebutan “ibukota” kiprah mereka boleh disebut miris.  Secara nasional, orang mungkin hanya mengenal Power Slaves atau Tony Q sebagai wakil dari kota lunpia itu. Padahal sejatinya ada banyak nama yang bisa disebut, meski tak popular.

Beberapa tahun silam, saya pernah menulis tentang pemetaan daerah-daerah yang mejadi lumbung musisi nasional. Dan maaf, Semarang –ketika itu—tak masuk daerah utama, meski saya tulis sebagai daerah yang potensial. Karena memang minim, meski perkembangan musik di kotanya sendiri terhitung cukup menjanjikan. Ibukota Jawa Tengah ini punya posisi dilematis di Industri musik Indonesia. Seharusnya, dengan banyaknya pelajar dari banyak kota, Semarang bisa seperti Jogjakarta yang unik dan berhasil menelorkan musisi kelas nasional. Tapi mengapa sampai sekarang, tidak banyak band atau musisi asal Semarang yang menasional?

Iklim bermusik di kota ini sebenarnya cukup padat, tapi karakter musikalnya ternyata tidak cukup kuat ketika harus menembus level nasional. Konon kabarnya, komunitas musiknya tidak cukup kompak ketika ada band yang mencoba masuk ke level nasional. Bukannya didukung, alih-alih malah “dihujat” kalau tidak sama dengan genre yang mereka anut. Sebuah kebodohan kalau hal itu benar terjadi. Sampai sekarang, tidak terlalu banyak band asal Semarang yang layak disebut menasional.

Alhasil ketika saya dikontak untuk terlibat dalam helatan bertajuk ‘SEMARANG MUSIKINI’ ada semacam keterkejutan, tapi juga sebuah antusiasme. Bukan persoalan primordialnya, tapi keberanian menggagas satu event yang terbilang nekat sebenarnya. Nekat? Betul, karena digagas tanpa sponsor, benar-benar menggandalkan idealisme dan [tentu saja] dana pribadi. Bukan itu yang saya soroti. Secara global, harusnya ini jadi gerakan masiv dari banyak musisi daerah lain, entah kota besar, entah kota kecil, untuk mengumpulkan talenta-talenta musisinya dan mewadahinya.

Dikemas dalam format pemilihan band atau solois terbaik, tapi peka dengan trend dan industri, gagasan ini menarik dari sudut industri musiknya. Pertama, ada sumbangan besar [kalau peminatnya banyak], untuk musisi baru yang mencoba masuk ke industri besarnya. Kedua, ada pembelajaran baru untuk musisi yang terlibat dalam kepanitiaan –kalau boleh saya sebut begitu—atau mungkin yang hanya sekadar dukungan moral. Ketiga, industri musiknya [mungkin] akan melirik Semarang sebagai salah satu potensi untuk musisi nasional. Apapun bentuknya. Keempat, sebagai daerah di luar Jakarta, tentu ada kebanggaan ketika karyanya bisa diapresiasi diluar “kampungnya”.

Tapi ada hal-hal lain yang harus “diwaspadai” ketika gerakan musisi luar Jakarta makin massive, yaitu: MENTAL. Termasuk ‘SEMARANG MUSIKINI’. Kecenderungan untuk merasa “bintang” ketika terpilih nanti, adalah penyakit yang harus disiapkan obatnya. Saya punya pengalaman bicara dan melihat ratusan band dari luar Jakarta yang punya kutukan star syndrome ini. Hasilnya? Kalau orang Semarang bilang: mbletho kas! Sudut pandang saya hanya satu: bakal melahirkan keberanian [untuk bersaing] atau malah menguatnya ketakutan [karena merasa ‘kecil’?]

Nah, Cah Semarang…mana suaramu?