Menggadaikan Musikalitas? Pertanyaan sinis itu muncul ketika bayak musisi yang sebelumnya dikenal sebagai musisi salah satu genre, kemudian “meloncat” ke genre lain.  Alasannya: trennya sedang disitu! Industri musik malah jadi pegadaian pelaku-pelakunya ya? 

kata om fariz rm: totalitas bermusik itu harga mati! -- foto: fx ismanto/tribun
kata om fariz rm: totalitas bermusik itu harga mati! — foto: fx ismanto/tribun

SEGMENTASI sukses atau personifikasi sukses memang bisa berbeda-beda pada setiap manusia, kalau dalam konteks ini adalah musisi. Tapi dalam realita yang sesungguhnya, sebenarnya bisa di-breakdown langkah menuju sukses itu. Paling tidak, seorang musisi tahu bagaimana memertahankan suksesnya. Banyak orang mengatakan, bahwa kita harus pandai ‘berhitung’ dengan situasi dan kondisi kekinian. Apakah itu kemudian berarti musisi harus “menyiasati” kesulitan musikalitasnya dengan kompromi habis-habisan terhadap tren?

Beberapa musisi yang dihubungi, tidak semua menampik dalil itu.  Ully Dalimunthe, musisi dan produser, mengatakan tidak ada larangan untuk mengikuti tren. “Setiap musisi berhak untuk hidup atas karyanya sendiri kok,” ujar musisi yang sempat jadi produser untuk Dewi Sandra dan Ari Lasso itu. Ully menolak musisi yang melakukan hal itu kemudian disebut “menggadaikan” idealisme bermusiknya. “Apa yang tergadai? Toh dia bisa melakukan apa yang dia suka kok, “ celetuk drummer dgank ini yakin.

Berbeda dengan Ully, Vidi Aldiano memilih melakukan apa yang dia suka, tidak peduli apakah itu disebut kompromi atau tidak. Dalam beberapa kesempatan wawancara dengan media, cowok yang sempat sekolah di Amerika Serikat ini melakukan aktivitas musikalnya sesuai hatinya saja. “Bahkan kalau pun itu disebut keluar jalur atau tidak mainstream, saya tidak peduli, selama saya nyaman dan senang melakukannya,” ujar solois yang kini memilih jalur independen tak terikat label lagi untuk jalur distribusi. Meski belum teruji waktu, tapi apa yang dilakukan Vidi juga jadi salah satu cara kreatif untuk membuat eksistensi berkaryanya tetap terjaga.

Fariz Roestam Moenaf atau lebih dikenal dengan Fariz RM punya catatan soal konsistensi ini. Dalam bukunya Living In Harmony: Jati Diri, Ketekunan dan Norma, musisi yang sudah menciptakan lebih dari 1000 lagu ini, jelas-jelas mengatakan: konsistensi adalah hal terpenting dari seorang musisi. Konsistensi relasinya dengan totalitas. Terlepas dari perilakunya yang masih berdekatan dengan narkoba, Fariz termasuk musisi yang konsisten dan total. Meski karyanya tak terhitung, tapi om dari Sherima ini berani menolak tawaran musikal yang notabene tidak sesuai dengan kata hatinya. “Totalitas adalah harga mati untuk musisi,” tegas ayah tiga anak ini seperti dikutip dalam bukunya.

Sebagai industri kreatif, industri musik Indonesia sekarang berada titik puncaknya. Ada banyak band baru dengan genre yang berbeda-beda dan bisa diterima masyarakat dengan baik. Malah beberapa diantaranya punya massa yang cukup fanatik. Bermunculan band-band atau solois dengan tipikal khas dan unik. Saya cukup terpukau dengan Tulus, BesokBubar, Marjinal, Vadi Akbar, Yemima Hutapea, Jemima, Young deBrock, atau Mari Berkebun, yang berani total di tengah arus mainstream yang masih kuat.

Tapi kekaguman saya [harusnya[ tidak hanya berhenti pada sisi musikalitasnya saja. Saya masih mengamati beberapa band dan solois yang saya sebut itu, sampai sejauhmana kreatifitas musikal, dipadu dengan kreatifitas promosi, kreatifitas kemasan dan kreatifitas eksistensi, hingga mereka punya napas panjang di industri ini.

marjinal, band punk lokal yang sudah konser sampai jepang
marjinal, band punk lokal yang sudah konser sampai jepang

Saya mengamati band bernama Marjinal. Jangan lihat sosok personelnya yang terkesan “sangar” dan “medeni”. Rambut gondrong, tato, baju terkesan “kumuh” seperti jadi trademark mereka. Tapi simak usaha mereka diluar musik. Distro, percetakan, tatto studio dengan komunitasnya yang disebut TaringBabi, adalah lini usaha yang membuat band yang pernah manggung di Jepang dan Malaysia ini eksis dan tetap “hidup”. Ketika banjir besar di Jakarta beberapa waktu lalu, personelnya juga “terlibat” membantu warga sekitar. Meski mereka tidak lepas dari musibah itu.

Saya juga terkesan dengan Tulus. Pria jangkung dengan jambul yang “nggak banget” itu, kini menjelma menjadi salah satu popstar yang [amat] diperhitungkan. Saya punya cerita tentang cowok yang suaranya lembut itu. Beberapa tahun silam, saya mendapat kiriman CD bergambar waja “aneh” berjambul yang sangat close up. Tulisannya gede-gede: Tulus. Saya langsung berasumsi: “Ah, palingan penyanyi baru yang cari keberuntungan.” Kovernya jelek dan langsung saya simpan di koleksi CD tanpa saya buka plastiknya. Selang beberapa minggu, saya melihat chart salah satu majalah musik di Jakarta, dan namanya terpampang di peringkat 1.  Buru-buru saya cari CD-nya untuk mengusir rasa penasaran. Dan itulah Tulus, yang ternyata bukan judul album tapi nama penyanyinya.

mari berkebun. dulu, siapa mau pakai nama band 'aneh' dan 'nyeleneh' begitu?
mari berkebun. dulu, siapa mau pakai nama band ‘aneh’ dan ‘nyeleneh’ begitu?

Kreatifitas yang kini bertebaran adalah nama band yang unik. Dulu, siapa yang bakal nasih nama band dengan Buronan Mertua, The Produk Gagal, The PanasDalam, Sore, SuasanaSabtuPagi, Reuni Sabtu Sore, Mari Berkebun, atau BesokBubar? Malah saya sempat menemukan band “nekat” yang menamakan dirinya dengan Tuhan Band. Namanya sudah membuat saya menoleh.

Tentu saja tidak berhenti di nama yang nyeleneh itu, tapi karya tetaplah mahkota mereka. Kalau nama bagus, keren dan unik, tapi musikalitasnya acak adul, ya podo bae.

Tapi menyitir kata om Fariz RM: totalitas adalah harga mati!  Berani Om dan Tante?