INI kisah tentang bapak saya. Betul bapak yang saya kagumi pemikiran dan sikap ketika berhuhungan dengan manusia lain. Tapi bapak saya ini juga memberi pengaruh musikal yang unik kepada saya.  Betul, tulisan ini memang masih ‘bau-bau’ musik.

Soal bagaimana latar belakang bapak, saya sudah pernah menulis dan malah sudah jadi buku yang dijual umum. Meski lebih berkarakter pemikir, tapi bapak saya adalah aktivis kiri yang cukup disegani. Bukan karena bapak sendiri, saya ngoceh seperti itu. Tapi hasil “obrolan” singkat saya dengan kawan-kawannya, setiap ada acara kumpul-kumpul di rumah. Yah jangan bayangkan bapak gaul ala rockstar, karena justru bapak saya ini sedikit “anti” dengan yang namanya rock n’roll.  Sisa pemikiran ‘komunis’ yang anti pada semua yang berbau barat [bapak lebih suka menyebutnya dengan kapitalis].

Nyi Condrolukito: sinden favorit bapkku
Nyi Tjondrolukito: sinden favorit bapkku

Lalu apakah bapak saya yang pendiam itu anti dengan musik? Nanti dulu. Saya harus bilang, kuping saya ini pertama mendengar musik karena bapak. Dari saya kecil, nyaris setiap pagi –betul, setiap pagi—lewat tape merek sharp jadulnya, suara Condro Lukito, sinden kesayangan bapak berkumandang.  Saya hapal, karena kasetnya sampai sekarang masih tersimpan rapi di lemarin, bersanding dengan keris-keris warisan mbahKung saya. Tak cuma itu,  rengeng-rengeng alunan keroncong yang disuarakan Toto Salmon dan Sundari Soekotjo juga kerap beredar di pagi hari. Tapi jangan coba nyetel keroncong-pop ala Hetty Koes Endang, bapak bisa protes karena dianggap “merusak” tatanan estetika keroncong.

syekh siti jenar, salah satu pemikir islam yang progresif
syekh siti jenar, salah satu pemikir islam yang progresif

Bapak saya juga amat nasionalis. Koleksi lagu-lagu perjuangannya segambreng Itu memudahkan saya ketika SMP dapat tugas bikin ilustrasi musik untuk drama perjuangan. Kalau lagi muter lagu tersebut, suasana rumah sudah kaya upacara 17an saja.  Hal lain yang membuat saya sampai sekarang masih terkenang juga adalah koleksi kaset ketoprak. Mendengarnya saja, saya seperti ikut suasana di dalamnya. Dan cerita ketoprak yang paling saya suka adalah Kisah Syekh Siti Jenar. Lucunya, kami harus ngedengerin sambil ngumpet, karena cerita itu sempat dilarang oleh Kejaksaan Agung. Dan harus saya akui, sampai sekarang saya ‘ngefans’ dengan pemikiran Syekh Siti Jenar itu. Apa itu? Nanti deh kapan-kapan saya ulas tentang wali yang dianggap kontroversial itu.

basiyo, senimana paling lucu pada masanya
basiyo, seniman paling lucu pada masanya

Suaranya tidak fals ketika nembang. Koleksi lirik nembangnya segambreng. Ketika SD ada ujian nembang, saya lulus dengan sukses, karena memang tiap hari mendengar bapak nembang. Kemudian saya terkontaminasi dengan Basiyo, pelawak legendaris yang kasetnya juga bapak koleksi. Padahal ketika itu, yang ngetop adalah Ki Narto Sabdho, yang sayangnya malah bapak tidak suka. “Terlalu ngacak-acak pakem” kata bapak.  Bapak memang penyuka kesenian tradisi yang mainstream, tanpa utak-atik.

Satu hal yang tidak kesampaian saya wujudkan adalah: nari Jawa di depan bapak. Impian terbesar bapak adalah melihat anaknya nari Jawa di panggung [apapun]. Meski sempat menguasai tari MenakJinggo, saya tak pernah berkesempatan tampil di atas panggung. Jujur, ketika itu agak malas sebenarnya. “Kesalahan” yang baru saya sadari belakangan.

“Perlawanan” saya kepada bapak dimulai ketika SMP.  Bapak yang anti musik ngak ngik ngok [oh ya, bapak sangat Soekarnois], “terpaksa” harus mendengar musik yang saya putar kencang-kencang di kamar. Dari Led Zeppelin, The Rolling Stones, Accept, Krokus, Eddy Peregrina, sampai Iwan Fals dan Franky & Jane. Koleksi yang saya comot dari lemari kakak tertua, yang ketika itu sudah bekerja dan bisa membeli kaset yang dia sukai. Untungnya bapak bukan tipe otoriter yang melarang kami memutarnya. Hanya ketika kami berdiskusi –ngobrol agak serius—biasanya topik soal musik ngak ngik ngok itu, disisipkan. Ha..ha, sayangnya udah nggak mempan.

Kerinduan saya sekarang adalah mendengar musik yang bapak suka. Sayangnya, kini bapak lebih suka menyimak berita-berita politik di televisi, menjadi komentator dadakan, dan memilih siaran radio Australia dari radio MW/SW-nya. Oh ya, mereka radio transistornya: National dan masih awet sampai sekarang.  Kelak, saya akan menyimak semua kaset yang jadi artefak masa lalu itu.

Kangen.